Kamis, 09 Maret 2023

Ada Di Mana Cita-Citaku?

 

Ada Di Mana Cita-Citaku?

‘Menarik memang menjadi anak muda itu’. 


Sepasang kucing muda bercanda (pixabay.Guvo59)

Yang pernah saya lakukan adalah memiliki cita-cita. Sayapun pernah memiliki berganti-ganti cita-cita. Sepertinya seperti itu. Tapi yang memberi kemantapan di hati, benar-benar mantap nian adalah sewaktu ada di sekolah menengah pertama.

Karena sepertinya detak kehidupan saya bermula di sekolah menengah awal ini. Bahkan sobat baik saya, entah dapat ide dari mana menyodorkan biodata kosong kepada teman-teman sekelas di sebuah buku separuh buku tulis hard cover yang wangi sekali. Saya mendapat tempat beberapa lembar setelah depan.

‘Diisi di rumah saja,’ pesannya. Karena saya bengong mau nulis apa terlebih ucapan saya. ‘Cita-cita? Apa cita-cita,’ ucap saya bersungut-sungut.

‘Makanya nanti semalam pikir dulu cita-citanya apa. Maka dari itu bawa pulang saja,’ ucapnya terkekeh-kekeh.

Kalau dipikir-pikir saya itu bohong bilang begitu ke dia, karena saya sudah punya cita-cita itu agak lama. Saya selalu terpesona dengan barang-barang indah, penuh pesona dan memukau. Maksudnya membuat mata saya jadi silau. Yang ada di majalah yang bergambar bagus, di koran akhir pekan.

Saya justru berpikir, darimana teman saya  mendapat ide menyatukan biodata teman-teman satu kelas lebih. Karena buku bio ini lumayan tebal.

Maka saya tulisan cita-citaku, dengan ejaan bahasa Inggris. Entah maksud saya apa kenapa tidak pakai pengejaan bahasa Indonesia saja.

Bahkan sayapun masuk ke ekstra kurikuler yang senafas dengan cita-cita saya tersebut. Usaha yang luar biasa bukan?

Bahkan setelah lulus SMP, saya ingin masuk sekolah menengah kejuruan yang senafas dengan impian saya. Tapi orang tua, terutama Bapak saya tidak mengizinkannya, dengan alasan sekolah kejuruan itu berada di kota lain, sementara saya masih anak kecil. Saya sempat merajuk, tapi Bapak tak peduli. Bahkan menawari sekolah kejuruan di kota kami kalau saya tertarik, tapi saya tolak. Akhirnya dengan ganjalan seberat batu kali yang besar, saya masuk sekolah memengah atas di daerah kami, dengan setengah hati.

Yah, Bapak, seandainya saja diperbolehkan masuk sekolah kejuruan impian itu tentu bisa menyala jiwa saya sejak kecil dulu.

Memang begitulah hidup, tapi tidak semua orang itu tidak seperti saya. Bahkan saat lulus sekolah menengah atas sempat berencana masuk semacam sekolah tinggi yang masih sejalan dengan cita-cita dulu. Tapi, begitulah, belum rejekinya. Pamflet sekolah D1, D3 beterbangan datang setiap hari. Tapi saya justru membuat saya patah hati. Karena biaya kuliahnya sangat di luar nalar saya.

Pernah saya dengar orang bilang, ‘Cita-cita itu hanya milik orang kaya.’ Katanya dengan meyakinkan. Kalau saya, lebih baik berdamai saja. Tidak membenci cita-cita, tapi justru yang menggerakkan orang untuk bergerak maju  ke depan itulah cita-cita. Entah impian tersebut bisa terwujud atau tidak, paling tidak, nyala muda yang berkibar-kibar itu menyenangkan.

Maka, hingga hari ini merasa senang jika melihat anak-anak muda yang bersemangat dengan hidupnya. Melihat nyala semangatnya saja saya sudah merasa senang. Karena anak muda memang harus seperti itu. Itulah  semangat muda.  

Seandainya saja semua bisa diulang kembali, seperti halnya mengedit video yang bisa diubah-ubah letaknya. Untuk mengobati rasa kecewa saya, akhirnya saya sempat-sempatkan dan mengumpulkan setiap rupiah untuk mengambil sebuah kursus singkat yang sebenarnya hanya secuil kecil dari perwujudan cita-cita saya dulu. Tapi lumayanlah, pikir saya.

Menarik memang menjadi anak muda itu.  

Kamis, 02 Maret 2023

Keputusan Pergi dan Sebuah Konsekuensi

 

Keputusan Pergi dan Sebuah Konsekuensi

'Kalau sudah berniat pergi dari rumah, kembalilah sesekali ke rumah saja'


Hitam putih masa lalu (pixabay.com/Pasja1000)

Ini benar adanya dan sangat disarankan oleh banyak praktisi. Praktisi? Iya, praktisi keseharian. Itu bisa berlaku untuk anak yang mencari penghidupan dan pekerjaan bahkan bisa pula diterapkan oleh anak yang berniat bersekolah di luar kota atau di tempat yang baru. Itu selorohan, sepertinya tidak. Sudah beberapa orang yang memegang prinsip ini.

Begitulah alur kehidupan. Tak ada yang bisa menebak ke arah mana alur kehidupan seseorang. Tak pandang bulu apa jenis kelaminnya, usia, kecenderungan, kedewasaanya bahkan perwatakannya. Saat sebuah keputusan sudah diambil maka, ada beberapa konsekuensi dari sebuah keputusan tersebut. Bolehlah dapat dikatakan, banyak hal yang baru dan indah terutama banyak pengalaman dan teman baru namun dibalik keputusan itu hendaklah dipikirkan masak-masak. Terutama ini ditujukan untuk seseorang yang memutuskan bekerja di luar kota atau di suatu tempat lain hingga harus mengatakan selamat tinggal ke rumah.

Ketika seseorang itu mulai meninggalkan rumah maka tuntutan untuk sebuah jiwa ksatria harus seketika dimilikinya. Katakanlah dia sudah mencari tempat tinggal baru, pekerjaan yang sudah diperolehnya ataupun baru akan dicarinya, berupaya untuk bisa bertahan hidup, mengerahan kemampuan fisik dan psikisnya, berupaya agar selamat dari apapun itu marabahaya. Tentu saja, itu terlihat hebat sekali. Seandainya dibuat sebuah drama beberapa menit kejadian ini akan diiringi dengan tepukan berdiri dengan aneka kertas warna-warni yang ditebarkan bahkan jika memungkinkan suara teropet mirip penanda tahun berganti.

Mungkin diperlakukan seperti itu, timbul rasa malu tapi tak semua orang berani mengambil konsekuensi seperti itu. Itu terdengar sangat hebat.

Ada, kecuali orang yang terjepit. Mau tak mau dia harus lakukan itu.

Jadi sebuah saran yang indah dari seorang praktisi, maksimalkan usahamu di tempat tinggalmu dulu beberapa waktu barulah beranikan dirimu (itupun jika punya keberanian) untuk langkahan kakimu ke luar zona daerah rumahmu. Setelah sebelumnya tentukan batas waktu dulu. Berusahalah sekeras-kerasnya dulu. Namun, saat  tak ada lagi yang bisa diperbuat di daerah tersebut, beranikan langkahkan kaki ke luar.  Memang ini sangat menyakinkan dan membuat miris di hati, tapi itulah kehidupan. Adakalanya seseorang itu dituntut untuk menjadi seseorang yang berbeda.

Namun jangan lakukan terbalik. Keluar daerah dulu beberapa waktu lalu ada suatu jeda akhirnya kembali ke daerahnya. Itu sebenarnyapun bisa dilakukan, tapi justru rasa atau efek tertentu yang justru tidak mengenakkan. Seakan-akan rasa percaya dirimu seolah melayang-layang di udara dan susah untuk bisa ditanggap lagi. Juga stigma cap tertentu yang kini tertoreh di dirimu. Itu lebih melukai dibandingkan saat sekolah dulu dikatakan sebagai pengecut bahkan pecundang. Bahkan pemulihan waktu dari perasaan tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Juga masih tersisa perasaan menyakitkan karena luka yang diberikan sendiri oleh keluargamu.

Maka memang berat memang konsekuensi dari sebuah tindakan keluar dari rumah keluarga. Pikirkan masak-masak sebelum benar-benar akan diputuskan. Karena bagaimanapun juga rumah itu masih lebih indah dari dunia luar yang belum tentu seindah rumah di mana seseorang itu dibesarkan. Bagaimanapun tidak indahnya, bagaimanapun tidak enaknya situasi rumahmu tersebut.

Namun jika hatimu berkata lain, ingin pergi, hendaknya pikirkanlah masak-masak terlebih dahulu. Singkirkan emosimu. Dan pahamilah barisan pernyataan-pernyataan tadi. Karena semua hal itu tidak hanya sekedar sebuah keputusan belaka. Jauh lebih rumit.

 

 

Rabu, 01 Maret 2023

Saat Ini Dunia Semakin Sepi

 

Saat Ini Dunia Semakin Sepi

Dunia yang sepi, kejujuran diri dan perenungan 


Semeriah dunia  tapi sesepi saat orang terlelap (pixabay.com/ Engin_akyurt)

Memang aktivitas dunia semakin marak dan beragam. Banyak usaha barupun tumbuh. Tapi aktivitas dunia seakan-akan semakin sepi saja. Geliat aktivitas manusia tidak lagi seperti dulu yang semarak, beragam dan berwarna terang. Yang benar-benar dirasakan sejak penghentian otomatis beragam aktivitas. Dunia tidak lagi secerah dulu. Bahkan ditambah lagi mendung tebal bergelayut setiap hari. Terkadang saya merindukan hangatnya sapaan, sinar matahari yang membuat hati senang, ketulusan sebuah bantuan secara tanpa pamrih, sikap berbaik sangka kepada orang lain, memandang orang lain sebagaimana adanya, tanpa cap tertentu yang diberikan untuknya.

Belum lagi masalah pribadi yang begitu beragam. Tangan melambai-lambaipun dianggap sambil lalu padahal itu bentuk minta pertolongan. ‘Bodo amat,’ ucap siapa saja yang melihat. Padahal dia melambai-lambaipun sebenarnya malu juga, saat melakukan itu. Maka patah hati atau dibuat patah hati semakin meluas di hati sanubari. Seolah saat ini semuanya sama saja, dimanapun tinggalnya. Memang ini gejala baru yang sebenarnya payah jika sampai tersebar meluas dan lebih meluas lagi. Karena memang beberapa waktu seolah pembelajaran otomatis terjadi, ‘pikirkan hidupmu saja’, ‘jangan bilang-bilang orang lain kamu dapat ini itu. Pokoknya sst’, ‘hidup ini tidak ajaib lagi, semuanya serba rasional. Kamu beramal banyakpun itu mubazir’, ‘dirimu, dirimu dan dirimu saja’, budayakan berburuk sangka’, ‘sst diam aja. Jangan urusan’, ‘pikirkan keselamatan dirimu saja’.

Masih mending orang-orang dewasa yang pernah mengalami berbagai sesi kehidupan pelik,hal  inilah yang ditangkap oleh anak-anak, usia remaja dan dewasa muda. Pelik bukan? Yang diketahui mereka itu diam tanpa aktvitas dan menerima nasib secara bulat-bulat ala zaman kakek-nenek buyut zaman dulu mungkin semacam budaya baru yang terus menyebar di masyarakat. Memang tidak semua seperti itu, seperti halnya dulupun juga sama. Tidak semua zaman kakek nenek buyut kita seperti itu.

Tapi di sisi lain, terimalah seutuhnya keadaan tersebut. Orang ataupun orang ahli sekalipun tidak bisa mengatur keadaan seperti kemauan mereka. Hanya untuk orang-orang tertentu keadaan ini dapat disebut miris dan menyedihkan. Menurut para pelaku-pelaku masa depan hidup ini sangat mengedepankan ego dan ‘aku’ saja. Padahal sebenarnya kehidupan ini tidak sekejam dan sekeras yang mereka pikirkan. Masih bisa berjalan kaki menapaki tepian jalanan asal saja itu tidak masalah, bisa, berbelanja di pasar tradisional dengan lembaran ribuan-ribuan dengan sederhanapun dipersilakan. Tak terlalu perlu hilir mudiak dengan motor-motor yang lumayan besar dengan suara menderu dengan kecepatan tinggi padahal hanya ingin berbelanja di supermarket terdekat tanpa diburu-buru urusan. Ataupun kelihatan berdandan habis-habisan keren mentereng padahal hanya ingin menanyakan kabar teman yang baru saja pulang dari kota lain.

Tapi sekali lagi, semua akan kembali ke kejujuran diri masing-masing. Berani jujur atau tidak. Kalau tidak berarti jelas kerugian besarlah yang akan menaunginya. Biaya hidup berkelas saat ini tidak murah lagi. Sebenarnya semua siapapun itu sedih merasakan ini, siapa saja tapi terimalah dengan lapang apa adanya. Yang tetap bisa gaya berkelas ya berarti dia mampu untuk membiayayainya, seandainya tidak ya jangan berani-berani untuk mengikuti gaya mereka. Akhirnya memang semuanya kembali kepada kejujuran diri, berani mengakui apa adanya dirimu tidak.

Memang ujung dari perenungan diri dengan segala konsekuensinya adalah membuat hingar bingar keriuhan aktivitas semakin redup. Semuanya sedang merenung. Dunia terasa semakin sepi. Obrolan hangat yang terdengar dulu di alat transportasi seakan kini hanya kenangan. Obrolan hangat sangat berkumpul kini hanya basa-basi saja yang justru membuat beban. Bahkan sapaan hangat yang membuat hati semakin menghangatpun semakin jarang terjadi. Semuanya sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang terpaku dengan media sosialnya, kontak dan saling telpon dengan teman sepergaulannya, beragam kepentingan  mereka. Namun ada juga kelompok lain yang bergumul dengan pikiran dengan kreasinya mereka. Kalau yang terakhir ini semanjak dulu kala kebiasaan mereka seperti ini. Tapi mereka ini tidak separah orang-orang yang disebutkan di awal.

Itulah manusia, selalu ada banyak penyesalan yang tidak mereka inginkan, tapi payahnya hal itu selalu ada. Dekat, sedekat dekapan udara yang ada di sampingnya. Keadaan selalu membuat wow, tapi kata itu hanya terucap dari pandangan mata yang tak pernah terkatakan.