Ada Di Mana Cita-Citaku?
‘Menarik memang menjadi anak muda itu’.
Yang pernah saya lakukan adalah
memiliki cita-cita. Sayapun pernah memiliki berganti-ganti cita-cita.
Sepertinya seperti itu. Tapi yang memberi kemantapan di hati, benar-benar
mantap nian adalah sewaktu ada di sekolah menengah pertama.
Karena sepertinya detak kehidupan
saya bermula di sekolah menengah awal ini. Bahkan sobat baik saya, entah dapat
ide dari mana menyodorkan biodata kosong kepada teman-teman sekelas di sebuah
buku separuh buku tulis hard cover yang wangi sekali. Saya mendapat tempat
beberapa lembar setelah depan.
‘Diisi di rumah saja,’ pesannya.
Karena saya bengong mau nulis apa terlebih ucapan saya. ‘Cita-cita? Apa
cita-cita,’ ucap saya bersungut-sungut.
‘Makanya nanti semalam pikir dulu
cita-citanya apa. Maka dari itu bawa pulang saja,’ ucapnya terkekeh-kekeh.
Kalau dipikir-pikir saya itu
bohong bilang begitu ke dia, karena saya sudah punya cita-cita itu agak lama.
Saya selalu terpesona dengan barang-barang indah, penuh pesona dan memukau.
Maksudnya membuat mata saya jadi silau. Yang ada di majalah yang bergambar
bagus, di koran akhir pekan.
Saya justru berpikir, darimana
teman saya mendapat ide menyatukan
biodata teman-teman satu kelas lebih. Karena buku bio ini lumayan tebal.
Maka saya tulisan cita-citaku,
dengan ejaan bahasa Inggris. Entah maksud saya apa kenapa tidak pakai pengejaan
bahasa Indonesia saja.
Bahkan sayapun masuk ke ekstra
kurikuler yang senafas dengan cita-cita saya tersebut. Usaha yang luar biasa
bukan?
Bahkan setelah lulus SMP, saya
ingin masuk sekolah menengah kejuruan yang senafas dengan impian saya. Tapi orang
tua, terutama Bapak saya tidak mengizinkannya, dengan alasan sekolah kejuruan
itu berada di kota lain, sementara saya masih anak kecil. Saya sempat merajuk,
tapi Bapak tak peduli. Bahkan menawari sekolah kejuruan di kota kami kalau saya
tertarik, tapi saya tolak. Akhirnya dengan ganjalan seberat batu kali yang
besar, saya masuk sekolah memengah atas di daerah kami, dengan setengah hati.
Yah, Bapak, seandainya saja
diperbolehkan masuk sekolah kejuruan impian itu tentu bisa menyala jiwa saya
sejak kecil dulu.
Memang begitulah hidup, tapi
tidak semua orang itu tidak seperti saya. Bahkan saat lulus sekolah menengah
atas sempat berencana masuk semacam sekolah tinggi yang masih sejalan dengan
cita-cita dulu. Tapi, begitulah, belum rejekinya. Pamflet sekolah D1, D3
beterbangan datang setiap hari. Tapi saya justru membuat saya patah hati.
Karena biaya kuliahnya sangat di luar nalar saya.
Pernah saya dengar orang bilang, ‘Cita-cita
itu hanya milik orang kaya.’ Katanya dengan meyakinkan. Kalau saya, lebih baik
berdamai saja. Tidak membenci cita-cita, tapi justru yang menggerakkan orang untuk
bergerak maju ke depan itulah cita-cita.
Entah impian tersebut bisa terwujud atau tidak, paling tidak, nyala muda yang
berkibar-kibar itu menyenangkan.
Maka, hingga hari ini merasa
senang jika melihat anak-anak muda yang bersemangat dengan hidupnya. Melihat
nyala semangatnya saja saya sudah merasa senang. Karena anak muda memang harus
seperti itu. Itulah semangat muda.
Seandainya saja semua bisa
diulang kembali, seperti halnya mengedit video yang bisa diubah-ubah letaknya.
Untuk mengobati rasa kecewa saya, akhirnya saya sempat-sempatkan dan
mengumpulkan setiap rupiah untuk mengambil sebuah kursus singkat yang
sebenarnya hanya secuil kecil dari perwujudan cita-cita saya dulu. Tapi lumayanlah,
pikir saya.
Menarik memang menjadi anak muda
itu.


