Nilai dulu dan kini
Sewaktu kecil dulu, setiap siswa
yang nilainya ‘kebakaran’ atau nilainya merah akan merasa bersedih dan merasa
seperti tertohok. Ya, karena seolah itu adalah pemberitahuan atau alarm kalau seseorang itu berbakat, tidak berbakat, rajin atau tidak
rajin, sepenuh hati atau setengah hati atas hasil tersebut. Seakan-akan itu
adalah pemberitahuan formal di suatu jaman yang masih damai. Terlebih-lebih
memang ada perjuangan keras untuk mendapatkan pemberitahuan agar selalu
berwarna hitam. Mungkin, karena jamannya masih damai maka semuanya seakan
lurus-lurus saja. Apalagi, bagi seorang yang mungkin culun hal itu sangat
diperlukan sebagai alarm bahkan lompatan ke arah lain sesuai dengan
kebisaan dia. Karena memang tidak semua orang berbakat menilai kemampuan
dirinya sendiri.
Bahkan orang-orang jaman yang
lebih lampau pun mengalami masa yang
lebih tragis lagi. Tidak mendapat setifikat kelulusan karena nilainya tidak
mencapai standar keharusan tertentu. Maka, banyak siswa yang memang bisa
mengenyam pendidikan tapi tidak memiliki ijasah atau sertifikat kelulusan
sekolahnya. Dan sepertinya mungkin kurang begitu suka untuk mengulang. Apa, karena begitu mengerikannya tes
penilaiannya ataukah ada sebab-sebab yang lain? Atau memang jaman itu lebih
mengedepankan kualitas sangat tinggi? Ataukah ada hal lain lagi?
Tapi nilai untuk saat ini memang
terkadang membuat hati puas dan sedikit berbunga dengan sekelebat bersitan rasa
kaget. Tapi hal ini tentu tidak berlaku untuk semua orang. Tentu hal di atas
kalau terus menerus tak bagus untuk pertumbuhan jiwa seseorang. Memang bagus, mempositifkan seseorang tapi
seakan-akan itu membuatnya menjadi melempem tidak renyah lagi. Padahal dia
bisa renyah kalau punya daya juang. Tentunya renyah sesuai dengan kemampuannya.
Walaupun dengan garis yang sangat tebal dan besar, tidak semuanya seperti gambaran
tersebut. Tapi.. Di jaman yang sudah tidak damai ini, semuanya kemungkinan
memang banyak.
Ya, tapi kalau dikembalikan, itu
memang sekedar penilaian. Hal tersebut bukan segalanya tapi banyak hal lain
sebagai penentu kehidupan. Seperti kecerdasan emosi, spiritual, kecakapan lain
dan banyak hal lainnya yang memang saling kait mengait. Jadi saran saya,
seseorang itu harus punya daya juang
dan kejujuran untuk menjalani apapun
itu aktivitas yang dilakukannya. Itu masih hal yang utama dan menyelamatkan
jiwa dan raga. Dan menyehatkan
tentunya.




