Ini Bukan Porno
Aku tak berpikir lebih tentang dia. Hanya sampai pada titik
itu. Sekedar melihat, dan terus
mandek. Tak ada pikiran lebih atasnya.
Cemburu memang
suatu sekedar rasa lebih atas sesuatu. Terlalu berpikir yang posesif, terlalu
berpikir yang anggaplah sebagai sesuatu hal yang negatif, maupun sekedar suatu
perasaan yang begitu saja terlintas. Sekedar setan yang melintas sebentar. Hal
itu bukan baru di dunia ini dan begitu familiar di dunia yang bagaikan jaring
laba-laba.
Namun hari ini
saya tidak akan membahas tentang cinta, cemburu, maupun patah hati saya hanya
akan berbagi dengan hal yang sekelebat terlintas di pikiran saya. Suatu hal
yang datang entah dari mana. Dulu beberapa tahun lalu ketika saya masih bergabung
di sebuah organisasi sosial kemanusiaan pernah akan mengikuti pelatihan di
sebuah kota. Memang ada sebuah perasaan surprise,
mengingat hal ini akan menambah pengalaman, pengetahuan, pengenalan lebih
terhadap organisasi, maupun menambah jaringan pertemanan.
Pagi-pagi
sekali kita sudah bersiap di markas dan membawa bawaan masing-masing lengkap
dengan daftar keharusan yang sekiranya kita bawa. Semua bagaikan bibi titi
teliti yang selalu saja membawa payung. Memang saat itu musim hujan.
Saat itu aku
duduk di depan bersama tiga orang temanku sepertinya semuanya perempuan. Kami
berbincang mengenai hal-hal ringan mengingat hari itu masih pagi. Terlalu pagi
dan terlalu dingin untuk membicarakan hal-hal yang kelewat hangat. Kemudian
waktu itu bergabung salah satu teman kami yang laki-laki dan ‘komandan’ kamipun
bergabung. Tak sengaja aku memandang teman laki-laki teman kita itu.
Kupandang
laki-laki muda itu, muka dia yang biasa kulihat terlihat bersih, terus kebawah
aku hanya agak sedikit kaget dengan hal yang lain dari biasanya dia. Kenapa ya
dia begitu terlihat keren dengan kemeja dan jeans yang dia pakai? Terlihat
sederhana tapi mengesankan. Kenapa orang selalu saja suka dengan hal yang
mengesankan? Sebetulnya aku juga bertanya-tanya apa yang membuatku terkesan.
Memang dia
biasa kumal, tak teratur, semrawut tapi hari itu dia begitu tampil beda. Begitu
fresh, sesegar udara pagi itu. Ya,
mungkin keselerasan itulah yang membuat hal tampak terkesan. Ha, ha, ha tapi aku jadi tahu kalau dia itu
ternyata seksi sekali. Aku tak menyangka itu. Sungguh.
Tapi itulah
aku, aku tak berpikir lebih tentang dia. Hanya sampai pada titik itu. Sekedar melihat,
dan terus mandek. Tak ada pikiran
lebih atasnya. Saat ini aku hanya mengucap astahfirullah
atas pandanganku yang berlebihan itu.
Kulihat dia pun dulu tersenyum-senyum melihat tingkahku. Entahlah mungkin
mataku sampai demikian membesarnya atau aku terlihat lucu.
Kukatakan sekali lagi aku tidak
berpikiran lebih atasnya.
Entah ada di
mana laki-laki muda temanku itu.
Kudengar dia sekarang sudah menikah dan telah hidup berbahagia dengan
pasangannya. Telah memiliki anak katanya.
Semoga berbahagia ya, ucapku seandainya dia mungkin membaca tulisanku
ini. Maafkan untuk pandanganku tempo lalu yang kurang sopan. Maaf…