Sabtu, 23 Februari 2013

Ku tak bisa menebak mendung

Si Cawak

 "Ku tak bisa menebak mendung"
Daftar Riwayat Hidup Seekor  “Cawak”


Nama                    :Cawak
Arti                        :Si Berteriak keras
Induk                    : Si Manis
Bapak                   : Coklat Berekor Panjang
Lahir                     : Desember 2012
Meninggal            : 10 Februari 2013
Deskripsi             :  Berwarna coklat manis, begitu mungil dan lucu, bahkan belum sempurna dari cara berjalannya. Setiap hari  muka kecilnya harus dicuci ibuku karena penuh lodok(kotoran mata). Sejak bisa keluar sarang kira-kira sebulan lebih dia sudah mulai doyan makan padahal seharusnya minum susu dari induknya saja. Kadang-kadang dia sering berebutan dengan induknya. Diapun tangguh, berusaha keras keluar sarang dengan cara memanjat pembatas ruang privatnya yang tinggi. Namun di pagi buta itu akhirnya si cawak harus passed away. Padahal siang sebelumnya dengan terbirit-birit dia mendekatiku ketika kupanggil namanya, “Cawak!” Aku begitu senang karena dia tahu namanya.
Foto                       : Kuambil tanggal 9 Februari 2013
Ucapan                 : Selamat jalan Cawakku Sayang, baik-baik di sana…

Rabu, 20 Februari 2013

Ini Bukan Porno



Ini Bukan Porno


Aku tak berpikir lebih tentang dia. Hanya sampai pada titik itu. Sekedar  melihat,  dan terus  mandek. Tak ada pikiran lebih atasnya.
Cemburu memang suatu sekedar rasa lebih atas sesuatu. Terlalu berpikir yang posesif, terlalu berpikir yang anggaplah sebagai sesuatu hal yang negatif, maupun sekedar suatu perasaan yang begitu saja terlintas. Sekedar setan yang melintas sebentar. Hal itu bukan baru di dunia ini dan begitu familiar di dunia yang bagaikan jaring laba-laba.
Namun hari ini saya tidak akan membahas tentang cinta, cemburu, maupun patah hati saya hanya akan berbagi dengan hal yang sekelebat terlintas di pikiran saya. Suatu hal yang datang entah dari mana. Dulu beberapa tahun lalu ketika saya masih bergabung di sebuah organisasi sosial kemanusiaan pernah akan mengikuti pelatihan di sebuah kota. Memang ada sebuah perasaan surprise, mengingat hal ini akan menambah pengalaman, pengetahuan, pengenalan lebih terhadap organisasi, maupun menambah jaringan pertemanan.
Pagi-pagi sekali kita sudah bersiap di markas dan membawa bawaan masing-masing lengkap dengan daftar keharusan yang sekiranya kita bawa. Semua bagaikan bibi titi teliti yang selalu saja membawa payung. Memang saat itu musim hujan.
Saat itu aku duduk di depan bersama tiga orang temanku sepertinya semuanya perempuan. Kami berbincang mengenai hal-hal ringan mengingat hari itu masih pagi. Terlalu pagi dan terlalu dingin untuk membicarakan hal-hal yang kelewat hangat. Kemudian waktu itu bergabung salah satu teman kami yang laki-laki dan ‘komandan’ kamipun bergabung. Tak sengaja aku memandang teman laki-laki teman kita itu.
Kupandang laki-laki muda itu, muka dia yang biasa kulihat terlihat bersih, terus kebawah aku hanya agak sedikit kaget dengan hal yang lain dari biasanya dia. Kenapa ya dia begitu terlihat keren dengan kemeja dan jeans yang dia pakai? Terlihat sederhana tapi mengesankan. Kenapa orang selalu saja suka dengan hal yang mengesankan? Sebetulnya aku juga bertanya-tanya apa yang membuatku terkesan.
Memang dia biasa kumal, tak teratur, semrawut tapi hari itu dia begitu tampil beda. Begitu fresh, sesegar udara pagi itu. Ya, mungkin keselerasan itulah yang membuat hal tampak terkesan.  Ha, ha, ha tapi aku jadi tahu kalau dia itu ternyata seksi sekali. Aku tak menyangka itu. Sungguh.
Tapi itulah aku, aku tak berpikir lebih tentang dia. Hanya sampai pada titik itu. Sekedar  melihat,  dan terus  mandek. Tak ada pikiran lebih atasnya. Saat ini aku hanya mengucap astahfirullah atas pandanganku yang  berlebihan itu. Kulihat dia pun dulu tersenyum-senyum melihat tingkahku. Entahlah mungkin mataku sampai demikian membesarnya atau aku terlihat lucu.
Kukatakan sekali lagi aku tidak berpikiran lebih atasnya.
Entah ada di mana  laki-laki muda temanku itu. Kudengar dia sekarang sudah menikah dan telah hidup berbahagia dengan pasangannya. Telah memiliki anak katanya.  Semoga berbahagia ya, ucapku seandainya dia mungkin membaca tulisanku ini. Maafkan untuk pandanganku tempo lalu yang kurang sopan. Maaf…

Aku Pemercaya Keajaiban



Aku Pemercaya Keajaiban


Aku percaya pada  hal yang ‘tak mungkin’, seolah tiada jalan, didinginkan tapi akhirnya dengan kekuatan super maka…terjadilah. Akulah ksatria itu ha ha ha ha.
Yang kumaksud keajaiban di sini suatu hal yang ‘tak mungkin’, seolah tiada jalan, diinginkan tapi untuk mencapainya bagaikan si pendek yang inginkan bulan di langit tinggi tapi dengan kekuatan tertentu hal tersebut akhirnya tercapailah. Aku percaya hal itu. Aku bukanlah pemercaya klenik, pengasuh mahkhluk gaib, melakukan ritual-ritual babi ngepet, ataupun penyembah makhluk halus lainnya.
Kejaiban yang kumaksud disini adalah dalam bentuk-bentuk yang realistis. Bukan sesuatu hal yang benar-benar ajaib ‘tak ternalar ‘misalnya mendapatkan setumpuk uang  dari langit, memegang batu kemudian seketika di rubah sebongkah permata. Tapi  saya pun tahu ‘keajaiban’ itu  seolah penembus jalan yang penuh dengan ketidakmungkinan.
Aku hanya merasa ucapan saudaraku itu mengejutkan dan membuatku terperanjat. Dia seolah-olah menyepelekan aku. Memang, aku bukanlah orang hebat, tapi hebatnya aku hanyalah pemercaya keajaiban. Aku punya Tuhan yaitu Allah. Allah itu tempatku meminta walaupun terkadang aku kecewa juga atas kebijaksanaanya,.. di mataku. Kepercayaanku atas ‘keajaiban’ itu yang terus menghidupkanku.
Bahkan terkadang orang-orang terdekatku mengatakan ‘aku beginilah’ ‘aku begitulah’. Mereka berucap pada hal-hal yang tak mengenakkan. Memang dunia itu selalu terdapat pro- kontra dalam hidup kita. Lagi-lagi kepercayaanku pada ‘keajaiban ‘ itulah yang membuatku tetap hidup dan bernafas sampai saat ini. Kadang kupikir-pikir aku ini hidup di dunia yang nyata, bisa kurasa tapi kenapa banyak hal harus kupoles dengan ‘kepercayaanku’ tersebut. Apakah aku benar-benar hidup, atau aku hanya hidup di dunia mimpi?
Kurasa aku kali ini tersenyum dengan pertanyaanku tersebut. Kutegaskan aku masih mempercayai Tuhanku dan aku bahagia dengan ‘kepercayaanku’ tersebut.

Kegalauan Wanita



Kegalauan Wanita-wanita…
(Atas ke-kinclongan wajahnya)

 
Kemudaan itu indah. Bahkan luar biasa indah. Berkilau secemerlang beningnya embun. Inginku seperti sebening kilauan itu.
Ketika kulihat kulit muda anak-anak SMP bahkan SMA timbul suatu perasaan dan timbul suatu pertanyaan dahsyat di benakku. Kenapa kulit mereka berkilau? Krim apa yang mereka pakai? Dengan entengnya ibuku menjawab, tak pakai krim-kriman, mereka itu masih muda belia. Oh, ya Tuhan bahkan masa-masa muda itu pun aku telah melupakannya. Bagaimana rasanya memiliki kulit cemerlang.
Ya, itulah kemudaan. Semua orang inginkan itu bahkan inginkan kemudaan yang abadi.
Ada seorang saudara beberapa waktu yang lalu menanyakan krim apa yang kupakai. Katanya krim itu lumayan bagus, ucapnya. Iya ya, bahkan aku tak menyadarinya sebab aku inginkan produk yang lain. Sayang, tak terbeli, harganya selangit. Siapa yang kuat beli sebotol ramuan ajaib itu, umpatku. Aku pun hanya terpaku ketika beberapa bulan lalu seorang SPG mau memberikan facial gratis mengatakan mukaku penuh komedo tak pernah facial ya, katanya. Hah, facial? aku seumur hidup belum pernah facial. Hah.
Saudaraku itu akhirnya mencoba membeli krimku itu tapi sialnya sudah habis, dia kecewa sekali. Soalnya tempat itu satu-satunya tempat menjual krim tersebut. Tapi dia tak putus asa akhirnya dia berhasil menemukan krim ajaib lain penghilang noda-noda hitam, kata slogannya. Dia inginkan ke-kinclongan wajah kembali menjadi miliknya.
Setelah beberapa waktu kutanyakan keefektifan krim ajaib miliknya. Lumayan ajaib, komentarnya. Akupun senang ketika dia mulai berkicau tentang mukanya yang kembali ‘membaik’ dan kembali ‘muda’. Bagaikan seorang promotor paket kecantikan dia pun menyarankanku untuk meniru saudara yang lain  memakai produk herbal. Katanya bagus.
Bahkan dia menunjukkan suatu alat kecil yang katanya pemberian seseorang yang berguna untuk mempermak keadaan kulit. Harganya mahal lho, dia lalu menyebut sejumlah harga. Aku terperangah.
Memang kemudaan itu harganya mahal. Dari yang agak mahal, sampai kata mahal bahkan bisa sampai pada titik sangat mahal dan seakan tak terbeli. Semuanya tersedia tinggal kesediaan wanita-wanita tersebut untuk memilihnya. Wanita-wanita yang galau  atas ke-kinclongan wajahnya.