Minggu, 26 Mei 2013

Beri Sanksi Yang Buang Sampah Sembarangan



Beri Sanksi Orang Yang Buang Sampah Sembarangan!!!

Walaupun terlihat 'biasa' , bersih itu indah dan menyenangkan (Sumber gambar: Google)


Pemaksaan itu bukan sesuatu yang buruk setelah imbauan baik-baik tidak mempan lagi.
Beri sanksi saja orang-orang yang membuang sampah di tempat-tempat yang harus dijaga dan tidak seharusnya. Soalnya ‘budaya buang sampah sembarangan’ sudah mengakar hingga sanksi tersebut akan menjadi kejutan listrik untuk mereka. Pemaksaan agar teratur itu bukan sesuatu yang buruk setelah imbauan baik-baik tidak mempan lagi.

Saya benar-benar gemas melihat tingkah mereka. Kemarin dulu saya melihat orang  tiba-tiba “brr” buang sampah dengan nyantainya di sungai. Sungai yang katanya tempat resmi untuk aliran air harus menerima dan jadi korban manusia yang  inginnya gampang-gampang saja. Tak usah mencari mencari tempat sampah, tak usah menyiapkan tempat sampah apalagi langsung dalam sekejap hanyut. Hallo! … tapi apakah mereka tahu efek sampah tersebut?

Ada tempat-tempat favorit yang biasanya jadi tempat sampah masyarakat adalah sungai, selokan  dan jalan raya. “Brr buang bungkus permen dan makanan kecil”  begitu juga ibu-ibu yang telah menampung sampah di sebuah tempat akhirnya di suatu pagi “Brr lalu membuang sampah tersebut di sungai”.

Warga masyarakat yang banyak tersebut sebetulnya begitu  peduli kampung-kampung, kota-kota kecil bahkan kota-kota besar nyaman dengan adanya suatu tempat yang bebas sampah. Semuanya tentu akan indah, teratur, karena mata akan nyaman melihat terjadinya simbiosis yang indah antara manusia dan alam. Sehingga alampun tak marah atas ulah manusia.

Sabtu, 18 Mei 2013

Orang Kaya Boleh...



Orang Bukan Kaya Tidak Boleh Punya Anak
(Ups, Orang Kaya Boleh Punya Banyak Anak)
Banyak hal yang dilakukan agar bisa menjadi 'seseorang' (Sumber gambar : Google)


Ini bukanlah membicarakan hal yang tersirat atau sentilan-sentilan. Ini perumpamaan dalam arti yang sebenarnya.

Wow, betapa mahalnya biaya hidup, biaya kesehatan, biaya pendidikan bahkan pajak-pajak dan berbagai  macam biaya-biaya  lain yang terasa begitu membebani bahu orang dewasa ataupun Bagaimana tidak memikirkan pendapatan yang dirasa-rasa semakin kecil ditambah dengan biaya hidup yang semakin membumbung terlebih lagi gaji yang seharusnya itu UMR tapi masih jauh dari aturan formal tersebut. Orang-orang yang hidup dibawah garis bahkan orang-orang di atas garis juga  merasakan hidup tapi tak hidup.

Itulah gambaran realita masyarakat Indonesia, hidup tapi tak hidup. Pingin ini itu tapi tak ada biaya untuk mewujutkannya. Boro-boro asuransi kesehatan maupun asuransi hari tua yang yang per-bulannya diharuskan bayar uang satu kali gaji bahkan bisa-bisa gaji mereka bahkan bisa kurang untuk membayarnya. Orang hanya diperbolehkan hidup untuk saat ini seolah-olah tidak diperbolehkan hidup untuk masa depan dengan beragam rencana. Janganlah bermimpi, itulah kira-kira pernyataan yang tepat untuk kenyataan ini.

Saya sebagai seseorang yang hanya terbersit selintas dalam benak saya kira-kira inilah hal yang tepat untuk alternatif maupun sedikit gurauan dan bisa juga dianggap ejekan untuk orang-orang yang masih saja tidak sadar diri atas tanggung jawab besar seandainya masih menganggap anak itu bukan beban di masa yang akan datang. Anak-anak itu harus diberi kehidupan  yang baik, dirawat kesehatannya, disekolahkan sampai taraf yang normal bahkan setinggi-tingginya diberikan jaminan sosial dan banyak hal lainnya. Kalau seseorang itu mengikuti alur kehidupan orang jaman dulu yang seolah-olah anak itu ‘punya kehidupan sendiri’ hal itu bukan jamannya lagi. Hidup di jaman sekarang maupun masa yang akan datang itu lebih berat dan persaingan semakin ketat.

Memang kemapanan finansial yang akan mengikuti kehebatan seorang anak. Jangan hanya karena bisa dan ingin memiliki banyak koleksi anak justru memburamkan nasib anak-anak itu.

Minggu, 05 Mei 2013