Rabu, 20 Desember 2017

Nilai dulu dan kini



Nilai dulu dan kini

 
Dulu..sekarang..seterusnya(Sumber gambar :Google)
Sewaktu kecil dulu, setiap siswa yang nilainya ‘kebakaran’ atau nilainya merah akan merasa bersedih dan merasa seperti tertohok. Ya, karena seolah itu adalah pemberitahuan atau alarm kalau seseorang itu berbakat, tidak berbakat, rajin atau tidak rajin, sepenuh hati atau setengah hati atas hasil tersebut. Seakan-akan itu adalah pemberitahuan formal di suatu jaman yang masih damai. Terlebih-lebih memang ada perjuangan keras untuk mendapatkan pemberitahuan agar selalu berwarna hitam. Mungkin, karena jamannya masih damai maka semuanya seakan lurus-lurus saja. Apalagi, bagi seorang yang mungkin culun hal itu sangat diperlukan sebagai alarm bahkan lompatan ke arah lain sesuai dengan kebisaan dia. Karena memang tidak semua orang berbakat menilai kemampuan dirinya sendiri.

Bahkan orang-orang jaman yang lebih lampau pun mengalami masa yang lebih tragis lagi. Tidak mendapat setifikat kelulusan karena nilainya tidak mencapai standar keharusan tertentu. Maka, banyak siswa yang memang bisa mengenyam pendidikan tapi tidak memiliki ijasah atau sertifikat kelulusan sekolahnya. Dan sepertinya mungkin kurang begitu suka untuk mengulang.  Apa, karena begitu mengerikannya tes penilaiannya ataukah ada sebab-sebab yang lain? Atau memang jaman itu lebih mengedepankan kualitas sangat tinggi? Ataukah ada hal lain lagi?

Tapi nilai untuk saat ini memang terkadang membuat hati puas dan sedikit berbunga dengan sekelebat bersitan rasa kaget. Tapi hal ini tentu tidak berlaku untuk semua orang. Tentu hal di atas kalau terus menerus tak bagus untuk pertumbuhan jiwa seseorang. Memang bagus, mempositifkan seseorang tapi seakan-akan itu membuatnya menjadi melempem tidak renyah lagi. Padahal dia bisa renyah kalau punya daya juang. Tentunya renyah sesuai dengan kemampuannya. Walaupun dengan garis yang sangat tebal dan besar, tidak semuanya seperti gambaran tersebut. Tapi.. Di jaman yang sudah tidak damai ini, semuanya kemungkinan memang banyak.

Ya, tapi kalau dikembalikan, itu memang sekedar penilaian. Hal tersebut bukan segalanya tapi banyak hal lain sebagai penentu kehidupan. Seperti kecerdasan emosi, spiritual, kecakapan lain dan banyak hal lainnya yang memang saling kait mengait. Jadi saran saya, seseorang itu harus punya daya juang dan kejujuran untuk menjalani apapun itu aktivitas yang dilakukannya. Itu masih hal yang utama dan menyelamatkan jiwa dan raga. Dan menyehatkan tentunya.