Selasa, 24 Agustus 2021

 

Dari Yang W.O.W menjadi Teriakan

 
(Sumber gambar : Google)

Memang sebenarnya semua orang itu spesial. Walaupun orang sederhanapun itu sangat spesial. Hanya mungkin masalahnya di dunia ini hanya orang-orang powerfull, memiliki lebih (lebih kaya, lebih bijak, lebih berwibawa, lebih over), lebih berkuasa yang akan terlihat. Tapi sebenarnya kalau sama-sama berpikir secara objektif semua beraneka warnanya orang itu bisa akan indah kalau bersinergi. Tapi ya sudahlah, mungkin butuh puluhan tahun lagi bahkan ratusan tahun lagi agar orang-orang sadar dengan keberadaan orang lain. Memang sulit.

 

Tapi dalam pengamatan tertentu memang W.O.W itu menarik. Faktor-faktor penduga seperti : latar keluarga, pendidikan, sopan santun, garis keturunan sepertinya harus dilibas hanya ada satu hal adalah sifat atau karakter seseorang.  Ini memang tak tergoyahkan oleh apapun. Walaupun dia berpendidikan tinggi sekalipun kalau karakternya banyak hal yang kurang baik bisa saja akan terkikis tapi masih akan terlihat mirip asalnya. Garis keturunan pun demikian.  Hanya mungkin seandainya bimbingan agama dan mendapat hidayah dari Tuhan tentu si karakter buruk ini akan berbeda. Tapi itu memang kuasa penuh Tuhan. Memang faktor ‘ini’ adalah keajaiban dan harapan. Itulah indahnya orang beragama. Tidak melulu rasional tapi masih terkesan dramatis dan romantik.

 

Yang menjadi masalah sebenarnya hal-hal seputar sifat tersebut. Berlipat-lipat, menjadi hal yang tak karuan. Bekas-bekas masa lalu, kebencian tertentu, bawaan lahir, resep dia bisa bertahan selama ini, kejahatan ‘abadi’ dia semuanya bertumpang tindih. Jadi memang terkadang (mungkin beberapa kali melihat) ada carut marut perasaan kita sendiri saat melihat drama tampilan sifat karakter buruk ini. Benar-benar buruk sekali, tapi di sisi lain terkadang benar-benar kurang ajar, lihai sekali orang ini melubangi dompet orang lain, cara bicara –nya saja terlihat dia itu xxxx (sedih saya melihatnya), walaupun berdalih jujur tapi tetap saja tau lah, berkoalisi dengan keburukan itu mah biasa asal untung, putar sana putar sini asal eksis, sikap sok manis tapi dibelakang bisa buruk abis, sok merasa tinggi padahal ya biasa-biasa saja, bergaya hidup sampai remis abis, bermuka manis tapi dibelakang berduri karena tinggi hati, apapun itu asal, ya begitulah. Tapi saya juga melihat kita sama-sama manusia, sama-sama memiliki hati dan perasaan, sama-sama bercita-cita indah, sama-sama memiliki Tuhan, sama-sama memiliki kesamaan emosi-emosi tertentu, jadi dia iitu buruk tapi di sisi lain biasa. Setengah baik, setengah buruk.

 

Aduh, sulitnya menjadi manusia. Karena manusia itu bukan timbangan. Kita tak pernah bisa pas menilai. Tapi sebagai manusia non drama jengah melihat manusia setengah tersebut.

Tapi jauh dalam hati, nurani berteriak. Semua hal akan damai kalau kita sebagai manusia itu tak bisa dibeli oleh orang lain. Kalau orang itu tak berpunya maka dia akan gampang dibelokkan dengan beberapa lembar saja bahkan segepok. Memang itu mungkin manusiawi, tapi masih ada orang yang mengambil jalan terang. Bekerja keras dan hidup sederhana. Jadi kalau seseorang tangguh secara ekonomi maka akan tangguhlah bidang-bidang kehidupan yang lain. [Rasa-rasanya datar sekali semuanya. Untung masih ada sisa gelombang naik turun sisa kemarin] 22:03:30