Dari Yang W.O.W menjadi Teriakan
Memang sebenarnya semua orang itu
spesial. Walaupun orang sederhanapun itu sangat spesial. Hanya mungkin
masalahnya di dunia ini hanya orang-orang powerfull,
memiliki lebih (lebih kaya, lebih bijak, lebih berwibawa, lebih over), lebih berkuasa yang akan
terlihat. Tapi sebenarnya kalau sama-sama berpikir secara objektif semua
beraneka warnanya orang itu bisa akan indah kalau bersinergi. Tapi ya sudahlah,
mungkin butuh puluhan tahun lagi bahkan ratusan tahun lagi agar orang-orang
sadar dengan keberadaan orang lain. Memang sulit.
Tapi dalam pengamatan tertentu
memang W.O.W itu menarik. Faktor-faktor penduga seperti : latar keluarga,
pendidikan, sopan santun, garis keturunan sepertinya harus dilibas hanya ada
satu hal adalah sifat atau karakter seseorang.
Ini memang tak tergoyahkan oleh apapun. Walaupun dia berpendidikan
tinggi sekalipun kalau karakternya banyak hal yang kurang baik bisa saja akan
terkikis tapi masih akan terlihat mirip asalnya. Garis keturunan pun
demikian. Hanya mungkin seandainya bimbingan
agama dan mendapat hidayah dari Tuhan tentu si karakter buruk ini akan berbeda.
Tapi itu memang kuasa penuh Tuhan. Memang faktor ‘ini’ adalah keajaiban dan
harapan. Itulah indahnya orang beragama. Tidak melulu rasional tapi masih terkesan
dramatis dan romantik.
Yang menjadi masalah sebenarnya hal-hal
seputar sifat tersebut. Berlipat-lipat, menjadi hal yang tak karuan.
Bekas-bekas masa lalu, kebencian tertentu, bawaan lahir, resep dia bisa
bertahan selama ini, kejahatan ‘abadi’ dia semuanya bertumpang tindih. Jadi
memang terkadang (mungkin beberapa kali melihat) ada carut marut perasaan kita
sendiri saat melihat drama tampilan sifat karakter buruk ini. Benar-benar buruk
sekali, tapi di sisi lain terkadang benar-benar kurang ajar, lihai sekali orang
ini melubangi dompet orang lain, cara bicara –nya saja terlihat dia itu xxxx
(sedih saya melihatnya), walaupun berdalih jujur tapi tetap saja tau lah, berkoalisi
dengan keburukan itu mah biasa asal
untung, putar sana putar sini asal eksis, sikap sok manis tapi dibelakang bisa
buruk abis, sok merasa tinggi padahal ya biasa-biasa saja, bergaya hidup sampai
remis abis, bermuka manis tapi dibelakang berduri karena tinggi hati, apapun
itu asal, ya begitulah. Tapi saya juga melihat kita sama-sama manusia,
sama-sama memiliki hati dan perasaan, sama-sama bercita-cita indah, sama-sama
memiliki Tuhan, sama-sama memiliki kesamaan emosi-emosi tertentu, jadi dia iitu
buruk tapi di sisi lain biasa. Setengah baik, setengah buruk.
Aduh, sulitnya menjadi manusia.
Karena manusia itu bukan timbangan. Kita tak pernah bisa pas menilai. Tapi
sebagai manusia non drama jengah melihat manusia setengah tersebut.
Tapi jauh dalam hati, nurani berteriak.
Semua hal akan damai kalau kita sebagai manusia itu tak bisa dibeli oleh orang
lain. Kalau orang itu tak berpunya maka dia akan gampang dibelokkan dengan
beberapa lembar saja bahkan segepok. Memang itu mungkin manusiawi, tapi masih
ada orang yang mengambil jalan terang. Bekerja keras dan hidup sederhana. Jadi
kalau seseorang tangguh secara ekonomi maka akan tangguhlah bidang-bidang
kehidupan yang lain. [Rasa-rasanya datar sekali semuanya. Untung masih ada sisa
gelombang naik turun sisa kemarin] 22:03:30
