Minggu, 07 Desember 2014

Terasing di Tengah Keriuhan



Terasing di Tengah Keriuhan

Jangan sampai tercerabut dari muasal (Sumber gambar : Google)

“Itu yang baru namanya kasihan. ‘Terasing’ di sebuah keluarga yang hangat dan nyaman. Mau jadi apa dia”

Sebetulnya saya menuliskan ini berawal dari pembicaraan agak sengit saya dengan ibu. Ibu membela keluarga tertentu yang saya katakan kenapa seakan-akan dia itu terasing. Saya tahu sebabnya karena mereka seolah-olah tercerabut dari akar dalam keluarga. Walaupun sebenarnya memang tak seestrim itu. Itu hanya istilah yang saya pakai untuk mempermudah menjelaskan kepada Anda.  Memang kadang-kadang bertemu walaupun jarang sekali dan itu mungkin sudah berlangsung puluhan tahun.

Saya mungkin Anda ini orang Indonesia. Jadi bukan orang Barat. Di negeri ini  keluarga nenek moyang dulu itu dapat dikatakan sebagai akar dari sebuah hubungan. Di sini masih berlaku kental sekali kekerabatan tak hanya sebatas ayah, ibu, kakek, nenek bahkan saudara mereka dan anak-anaknya pun masih dikenal dan saling mengenal. Jadi tak salah lagi orang-oarang ini masih saling akrab dan merasa bagai keluarga walaupun dalam tingkat hierarkhi tertentu.  Apa jadinya jika seseorang mungkin sebuah keluarga yang berada di kota yang jauh kurang intens  bertemu dengan tempat asalnya bahkan keluarga yang ada. Kalau baru setahun dua tahun mungkin masih bisa diterima dalam arti masih terdapat kedekatan hubungan walau sudah seakan tak ada klik lagi. Seorang anak sudah berkembang, yang remaja sudah mengembang bahkan yang tua sudah mulai pikun. Apa jadinya kalau ini terulang bahkan dalam waktu yang lebih lama lagi. Lama kelamaan si individu ini akan merasa terasing dengan kerabatnya sendiri, tak kenal orang-orang baru yang lain dan seolah kehilangan rasa pada keluarganya. Memangnya hal tersebut nyaman? Sekaya-kayanya seseorang orang tersebut masih orang Indonesia dengan segala konsekuensi budayanya. Hal tersebut harus dijadikan catatan tebal. Tak percaya, coba saja praktekkan!
Dengarkanlah, tidak  bohong cerita ini (Sumber gambar : Google)


Memang ribet ya! Pusing? Mau cari yang praktis. Telpon. Hello, telpon itu berbeda dengan berkunjung langsung. Jadi hal itu bukanlah jalan keluar. Hanya sebatas sebagai pembumbu kehidupan.  Atau mau mencari solusi yang lebih praktis lagi? Ya, tinggal dekat-dekat dengan keluarga seandainya merasa biaya untuk pulang terasa mahal dan sayang untuk dibuang. Jadi kesimpulannya sebetulnya bukan masalah keuangan yang harus seperti air bah tapi kedekatan dan perjumpaan yang  intens dengan keluarga, kerabat akan lebih membahagiakan semua pihak bahkan segala prasangka jelek dari suatu rasa tidak kenal akan hilang. Tercerabut dari akar keluarga adalah berita terburuk yang dialami seorang manusia. Bahkan itu pukulan telak dan membuat KO dan akhirnya terkapar menunggu maut. Hidupnya seolah sia-sia.

Rabu, 19 November 2014

Capek Memperburuk Suasana



Capek Memperburuk Suasana

 
Sumber gambar : Google
Itulah yang akan terjadi, bahkan emosi bisa-bisa sampai ke ubun-ubun. Sebetulnya hal remeh tapi karena suatu keadaan tak sesuai dengan ‘yang seharusnya’ maka jadilah. Dalam kondisi segar hal tersebut bukanlah apa-apa.

“Harusnya tadi bantu saya, saya pontang-panting ke sana kemari!” serunya menggelegar dengan suara yang tak mengenakkan hati. Seketika itu terdengar suara lain membela diri, “Aku tadi sedang ini itu…”Seolah-olah ingin menghiba dan dimaafkan.

Wuih, peduli setan mau robek tenggorokanmu memangnya aku peduli pada yang kau omongkan, pikir yang lain. Memangnya hanya kau sendiri yang pernah mengalami seperti itu? Yang pernah mengalami saja dulu tidak bertingkah polah seperti si suara menggelegar itu. Hanya dijalani saja. Tidak sampai seheboh si buruk suara. Tak tahu dia tambahan reputasinya, pikir si pikir. Tapi anehnya suaranya terdengar bagaikan angin dingin pegunungan. Apakah ini indera yang salah,  tumpukan ke-jenuhan atau bertumbuhnya kekuatan mental?

Sumber gambar: Google

Seharusnya sebaik-baiknya dunia itu dihuni orang-orang baik saja hingga keadaan tentram dan damai. Si buruk suara macam itu seharusnya dilempar ke luar angkasa supaya tinggal bersama aliens.
(Berbicara tentang aliens, saya teringat pembicaraan tempo hari yang berputar masalah ginjal, traveling dan aliens. Sungguh menggelikan)


Sabtu, 18 Oktober 2014

Sesuatu Itu Berubah

Sesuatu Itu Berubah


Konon kata orang ada orang yang hobinya hanya berteori. Bahkan kemungkinan orang-orang ini banyak. Tapi banyak juga orang yang masuk dalam golongan para praktisi. Seharusnya para praktisi ini diberikan saja applause. Plok-plok-plok, yang semeriah mungkin. Tapi jangan lupa berikan siutan untuk para penteori  semeriah mungkin. Siut-siut-siut. Bagus!
Sesuatu hal yang sederhana, hanya ranting dan buah (Sumber gambar : koleksi pribadi)


Ketika seseorang yang masih berteori itu masih mengawang-awangkan teorinya tentunya masih ngawu-awu. Sesuatu hal yang begitu jauh di awan. Tapi sadarlah LAKUKAN. Itulah kunci terdahsyatnya. Mungkin tak semua orang memiliki kesempatan untuk mencobanya karena tak semua orang memilikinya. Sebab dengan melakukannya ada lebih banyak jalan untuk semakin mengembangkannya. Misalnya. Seseorang yang mungkin ahli sekali membuat perlengkapan rumah tangga seperti membuat meja, kursi, almari. Tapi setiap harinya dia hanya mengandaikan saja cara-cara membuat perlengkapan-perlengkapan tersebut tanpa membuatnya. Tapi entah karena dorongan apa kemudian dia gigih membuat barang-barang tersebut. Maka jadilah. Wow akhirnya berhasil. Kemudian ditawarkannya barang tersebut, ternyata beberapa orang meminatinya. Akhirnya dengan melakukan dia memiliki ide lain untuk memasarkannya. Benar bukan, ada jalan lain setelah mencoba. 
Sesuatu itu akan semakin berkembang (Sumber gambar : Google)


Terkadang rasa takut itu sangat manusiawi. Jadikan teman boleh supaya kita masih tetap memiliki sifat-sifat manusia yang memang wajar memiliki perasaan itu. Sebetulnya sebagai manusia itu sangat kompleks dan memiliki begitu banyak kepandaian tapi bedanya ada orang yang memanfaatkanya ada yang hanya sekedar memilikinya. Ya, paling tidak lakukan apa yang menjadi keinginan dan ambil kesempatan yang ada dari begitu banyak hal yang bisa didapat. Kebahagiaan kecil akan Anda kecup.
Bahagia itu ada tergantung dari cara seseorang melihatnya (Sumber gambar : Google)


Selasa, 07 Oktober 2014

Bodoh-bodohan




Bodoh-bodohan dan Pintar-pintaran

 
(Sumber gambar: DW Indonesia)
Semakin banyak orang pintar maka orang akan pintar-pintaran. Maksudnya melakukan segala hal dengan kepintarannya untuk menjadi yang terpintar akhirnya wow tercapailah tujuannya. Entah dengan cara baik atau mungkin dengan membuat orang lain berduka bahkan menyakiti. Tapi apa itu bodoh-bodohan. Itu antonim dari pintar-pintaran atau dapat dikatakan kebalikan dari pintar-pintaran. Tapi dengan sedikit permakan menjadi  orang bodoh saja bisa berpikir demikian apalagi orang pintar apa ya isi otak mereka.

Mari kita bodoh-bodohan saja!

Saya sudah melihat begitu banyak orang yang melakukan hal yang sama. Mulai dari kerabat, sahabat, teman, orang yang kebetulan lewat, dan orang yang tak sengaja memang saya lihat secara bodoh-bodohan saya bisa mengambil kesimpulan orang akan mengorbankan orang lain dan tak mau mengorbankan dirinya untuk orang lain.

Anda mungkin tertawa, hey itu biasa,  dimana pun orang akan seperti itu, coba cari di neraka orang akan seperti itu bahkan mungkin di dunia lain.

Coba hentikan senyum mengejek kalian bukankah spirit kebaikan dengan adanya sikap mau berkorban untuk orang lain dan agar berbuat baik pada orang lain?

Tapi ya sudahlah,  secara bodoh-bodohan saja sudah seperti ini apalagi kalau secara pintar-pintaran. Soalnya dengan kesimpulan yang saya kemukakan tersebut hasilnya akan begitu banyak orang yang terluka, tak ada tawa bahkan yang ada terkadang hanya biluran biru yang menetap. Bukankah yang menetap itu lebih buruk daripada kehilangan? Bahkan mungkin dengan memakai krim malam sepuluh tube sekalipun kok tidak sewarna juga.

Memang inilah pemikiran bodoh-bodohan, bukan pemikiran orang pintar apalagi orang politik, ilmuwan antariksa, ahli nuklir bahkan ahli perbintangan. Am I wrong?