Senin, 27 Juli 2015

Aku Yang Sepuluh Tahun (1)



Aku Yang Sepuluh Tahun (1)

Secantik permen (Sumber gambar : Google)

Usiaku 10 tahun lebih 11 hari hari ini. Sebagai anak aku sangat menyukai hal-hal yang membuatku tertawa dan memiliki banyak teman. Walaupun terkadang ada teman-temanku yang menjahati aku mulai dari mengambil buku tulisku secara paksa, menyita uang jajanku, bahkan mengejek aku dengan kata-kata yang tak mengenakkan. Bahkan setahuku kata-kata itu tak pernah terdengar dikatakan oleh mamaku walaupun sedang marah sekalipun. Aku sampai kaget. Apakah aku seburuk itu ya?

Yang pasti di tas hello kitty-ku selalu ada kepingan permen coklat yang dibungkus kertas gerenjeng. Kertas yang berisik. Bukannya aku menyukainya tapi memang sudah wajib jika tasku selalu berisi permen itu. Aku pun tak tahu kenapa. Kupikir-pikir alangkah tidak lengkapnya ke sekolah tanpa hello kitty dan permen coklat. Ya itu saja.

Tapi tahu tidak, hari ini aku merasa terpukul ketika kuaduk-aduk isi tasku tak menemukan permen coklat tersebut. Aku tiba-tiba merasa sedih dan kehilangan. Ternyata aku baru sadar, hari ini, kalau aku si sepuluh tahun sebelas hari ini menyukai permen coklat. Kenapa aku tidak sadar ya? Baru merasa hari ini kalau permen coklat itulah pengisi tasku dan selalu menemani hari-hariku.

Teman, apakah aku harus sedih? Apakah aku harus merasa kehilangan? Hanya karena kepingan permen coklat. Kupikir-pikir semuanya pasti paham aku si sepuluh tahun sedang terpukul hari ini. Pasti nanti malam tidurku tidak bisa nyenyak. Tapi lihatlah teman, aku tersenyum saat ini. Walaupun hatiku sedih.

Selasa, 14 Juli 2015

Manusia Kecil



Manusia Kecil
 
Manusia kecil tak akan pilih-pilih makanan asalkan halal. 
 

Bagaimana jika sebutan manusia kecil ini diberikan untuk seseorang dengan segala keterbatasannya. Manusia yang serasa akan hidup abadi dengan segala keterbatasannya, kekurangannya yang sangat kentara, bahkan dengan cemoohan orang lain. Orang kecil ini sama sekali tak dianggap bahkan seringkali dijadikan barang hinaan dan omongan-omongan pelepas lelah orang lain ataupun manusia besar. Manusia besar ini adalah orang-orang yang beruntung dengan segala kelebihan karunia yang Tuhan berikan spesial untuknya.

Manusia kecil selalu untuk dituntut maklum atas lingkungan, orang-orang lain bahkan alam sekalipun jika semua aspek itu seolah tidak bersahabat dengannya.  Tak ayal lagi manusia ini seringkali lantas dicap sebagai orang bodoh, tidak beruntung, orang yang terasing bahkan sebutan untuknya sering kali terdengar “ya ada orang lain yang mengalami” ucapan manusia besar yang seolah-olah merasa bersyukur karena manusia besar tak mengalami keadaan yang dialami manusia kecil. Memang benar kata-kata hidupmu ya hidupmu, hidupku ya hidupku.

Dalam segala keterbatasannya manusia kecil ini berusaha keras untuk menjadi lebih kuat, lebih bisa berempati bahkan lebih keras lagi agar bisa.  Dia pun tahu hidup itu keras dan tidak mudah. Manusia kecil yang seakan tak punya nyali akhirnya karena tempaan kesedihan, olok-olokan, kesulitan, Keterbatasan, penghinaan bahkan semua hal yang buruk-buruk itu membuat manusia tolol (manusia kecil) menjadi lebih bernyali. Walaupun tentunya akan beda dengan manusia besar yang seakan-akan sempurna dari segala sisi. Akhirnya dia bisa berbincang dengan keadaan dan menertawakan kekurangannya yang sungguh sangat amat vital. Akhirnya dia sadar, dia memang manusia kecil tapi dia punya hak untuk hidup di dunia ini. Ya, hak.

Hidupmu memang itu hidupmu,  hidupku pun memang ini hidupku. Semuanya akan terus berjalan entah sampai kapan.