Selasa, 06 Oktober 2020

Family Sweet Family

 

Family Sweet Family 

 

Family sweet fam

Keluarga itu bukan apa-apa. Tapi saat jauh kau rasakan rindu. Saat dekat terasa bau. –Family sweet fam

Di kesunyian perasaan itu demikian berat. Ayah, ibu, saudara, anak dan kakek-nenek. Itulah keluarga. Mungkin tak semua orang bisa merasakan bagaimana seharusnya rasa sebuah keluarga yang seharusnya. Selalu masih ada kurang. Kurang hangat, kurang harmonis, kurang sejahtera, kurang harta. Memang sulit, hidup di zaman sekarang. Keluarga tetangga memiliki ‘itu’ sedangkan hanya memiliki ‘ini’. Timbullah nelangsa. Padahal kalau dipikir-pikir orang lain (tetangga-tetangga) tidak tahu kalau si empunya harus bekerja 20 jam sehari untuk memiliki itu. Bahkan mungkin harus menjual warisan yang terkena proyek besar yang justru mematikan sumber pendapatan lainnya. Bahkan orang lain pun tak tahu kalau itu uang yang ditemukan di tempat sepi yang tak mengerti bagaimana nasib yang menemukannya. Orang memang selalu memandang yang serba indah, tak menahu tentang nelangsa, pengorbanan dan kerja si empu.

 

Justru saat semua dirasa kosong, ternyata dari relung-relung hati terdalam, keluargalah satu-satunya pendukung. Keluargalah satu-satunya yang tega apapun itu keadaan kita agar bisa duduk kembali. Bahkan itulah alasan berarti karena ada bintang-bintang kecil di mata mereka. Walaupun mungkin hanya sebaris kecil dan itu pun sayup. Tak apa lah. Mungkin itulah alasan menjadi berarti. Mendapat bintang walau kecil.

Walaupun sebenarnya jauh lebih indah bintang kejora, yang begitu jauh mata memandang tetap indah penuh pesona.

 

Saat jatuh dan tersungkur, keluargalah yang membantu agar biasa berdiri lagi. Orang-orang itu hanya melihat dari jauh, bahkan hanya melewati, bahkan menghampiri untuk melihat bahkan menertawakan. Bahkan mungkin ada yang tega mengatakan, ‘Kasihan ya, kamu, tidak ada keluarga yang mampu menolongmu!’.  Rasa kaget mungkin mengena, tapi justru jadi sadar sesadar-sadarnya seandainya orang lain itu kelihatan baik itu mungkin hanyalah bagian dari etika dalam pergaulan. Keluargalah yang benar-benar merawatmu.

 

Bahkan jika  orang lain  inginkan kamu hancur, keluargalah yang melindungimu dengan cara mereka. Merekalah benteng hidupmu.

 

Tapi, keluarga pun menjadi pihak yang seolah bertanggung jawab dan terkadang terasa bau pesing. Dan terkadang terlihat sangat kuno tidak wangi seperti orang-orang lain. Karena sebenarnya wangi itu hanya milik akar wangi. Dan kita melihat orang –orang lain itu akar wangi. Padahal terkadang mereka itu tidak lebih wangi dari bau pesing itu.

 

Keluargaku, walaupun rasa anyir pesing itu terbaui tapi saya rasa aku pun sebau kalian.  Orang-orang lain itu memang wangi. Tapi aku tetap menyayangi kalian.(71020)

Selasa, 22 September 2020

Perjalanan Berjalan

 

Sudut pandang-mu, sudut pandang-ku  (sumber gambar: instragram)

Perjalanan itu menyenangkan. Siapapun itu setipis apapun itu perasaaan terasa menyenangkan atau lebih tepatnya menyegarkan. Panjang memang, tapi untuk ukuran perjalanan suatu gugusan bintang maupun galaksi untuk berkeliling itu belum seberapa. Ya, padahal dalam hati saya mengiyakan, walaupun belum seberapa perjalanan galaksi, tapi melelahkan juga. Capek juga.

 

Dalam waktu yang lama suatu tempo dari waktu yang kita jalani, ada suatu titik dimana kita bisa melihat jelas semuanya. Seakan-akan semuanya terlihat walaupun tak meraba. Walaupun sadar, tak kuasa untuk ikut bisa merubah. Seakan-akan menyama-samakan seandainya keadaan itu tidak seperti itu. Harusnya seperti ini. Rasa romantisme memang tidak melulu rasa itu saat sedang jatuh pada cinta. Angkat bahu sedikit saja (supaya jangan terlihat), seolah-olah orang lain tak tahu, itu lebih baik. Bukankah sebagai Orang Indonesia, memang sejak kecil tidak diajarkan untuk menunjukkan perasaan dan berekspresi? Maka, terkadang saya lihat, orang kita itu ekspresinya sama entah dia sedang sedih, gembira, bahkan nyaris bunuh diri sekalipun. Bahkan banyak orang seakan-akan mereka menutupi kesedihan mereka dan bersikap seakan-akan sedang gembira. Walaupun terkadang sikap mereka pun terlepas beberapa detik, terlihat perasaan mereka yang sebenarnya. Ya, biar saja, memang mau mereka seperti itu. Bisa apa?

 

Baiklah, saya luruskan kembali. Saat kita di suatu titik, dimana seakan-akan kita bisa melihat semaunya dengan sangat jelas. Terkadang mungkin orang berpikir, kenapa bisa seakan-akan bisa mengerti? Mungkin hanya psikolog yang bisa menjelaskan semuanya. Seandainya karena : pintar bahkan orang bodoh pun bisa melihat hal seperti ini. Seandainya karena : berpengalaman bahkan orang yang sudah sangat senior sekalipun bisa melihat ini juga. Plus bisa mengunyah-unyah  apa yang telah dia alami dan mencernanya dengan sempurna. Seandainya karena : belajar secara akademik, ya semisal psikolog itu contihnya. Seandainya karena : luasnya pergaulan, itulah hal yang paling cepat memudahkan itu. Secara logika, karena mereka bertemu berbagai karakter dan perwatakan. Dan secara pribadi pun, baik langsung maupun tak langsung mereka memang lebih ‘ces pleng’ dalam melihat ‘itu’.

 

Ternyata, terkadang bisa melihat dan memaknai secara lebih itu hal yang tidak damai. Lebih baik, ya, seperti orang yang hanya melihat saja. Kalau hatimu sekecil biji gandum bahkan semungil biji kapas, klenteng, perasaanmu yang tadinya sebesar sekarung beras sehingga aman dan sentosa pun harus ikut mengerut menjadi sekecil klenteng kecil. Sedih sebenarnya tidak terlalu, hanya merasa nelangsa dan seakan-akan lebih baik kau tak bermuka. Bahkan ingin rasanya seperti balon gas yang terlepas dan pergi secepat-cepatnya. Kenapa harus seperti ini? Jadi langsung berharap seandainya lebih bisa seperti pemain drama.

 

Ratu-ratu drama itu menyenangkan. Ya, mungkin. Karena mungkin itu lebih pada pembiasaan. Saya hanya mengernyit, biarlah hanya saya yang mengerti apa yang saya pikirkan.  Tapi saya pun berpikir, manusia-manusia seperti itu seharusnya hanya untuk orang-orang tak terlalu memiliki pekerjaan, yang setiap harinya tak perlulah memeras keringat, banting tulang, tinggal tiba-tiba  nanti uang berapapun ada untuknya. Jadi drama-drama itu sebagai balance (penyeimbang) dari kehidupan mereka yang ringan. Ya, ya, ya, begitulah.

Jadi seharusnya, orang-orang yang harus memeras keringat, tidak perlulah berlaku bak ratu ataupun raja drama, karena rasanya itu berat dan sangat menghimpit. Terutama menghimpit si objek (korban) bahkan orang-orang yang melihat pun merasa ngeri juga. Tambah berat kan? Bekerja saja sudah berat masih ditambah drama. Tapi begitulah, sudah kebiasaan mungkin ya.

 

Saya pun berpikir, seharusnya ratu drama itu, hanya untuk kalangan orang yang memiliki segalanya. Tak perlulah orang biasa, seperti kita, seperti saya bak ratu drama. Tambah menyedihkan, tahu. Seakan-akan harimau mengaum-aum padahal hanya kambing kecil berambut gembel. Sedih kan, melihatnya? Saya saja sedih melihat banyak hal seperti ini. Tapi ya begitu, kita bisa apa?

 

Terpikir juga banyak orang-orang terlalu kejam terhadap orang-orang yang seharusnya orang jangan berlaku demikian. Karena bisa saja, justru akan menjadi sandungan untuk para pelakunya. Memang seakan-akan tidak berkorelasi, tapi berkali-kali banyak kejadian demikian. Mungkin Tuhan marah pada orang-orang tersebut dan itu sebagai bentuk peringatan untuknya. Tapi demikianlah mereka, mungkin ada yang langsung sadar, tapi justru ada yang semakin mengerikan bak godzilla lapar yang semakin kejam saja. Dan mungkin kita semua bisa melihat, rata-rata kebanyakan orang akan menjadi seperti godzilla. Tapi semoga Tuhan, masih terus memberikan kebaikanNya untuk kita semua.

 

Di nafas akhir tulisan ini, dengan suara yang tipis parau dan semakin menghilang,terlintas begitu saja, orang-orang  penyendiri itu seperti  balon gas. Tanpa bobot. Terkadang menjadi cemoohan dan orang yang patut dipersalahkan. Mungkin kelompok kecil ini kelak akan lebih cepat kehilangan nyawa dan meninggalkan dunia ini, karena merasa lebih sering merasakan tertekan. Ya, batas kemampuan psikologis dan fisik orang ada batasnya, bukan? Sedih ya, membacanya. Ah, tidak juga, mungkin itu katamu.

 

Baiklah, sebenarnya tak terlalu merasa mantap untuk melihat keselarasan ini. Rasa-rasanya belum pas. Tapi saya bisa apa? Hanya inilah yang bisa saya tuliskan kali ini. Mungkin karena terlalu banyak yang mau saya katakan. Semoga lain waktu bisa disambung lagi. Selamat malam, have a nice dream untuk malam  kalian masing-masing. 

 

Sabtu, 04 Juli 2020

Di Suatu Titik itu Lagi


Di Suatu Titik itu Lagi
Oleh Nugrahenie

Ujung pangkal yang melingkar itu lingkaran(Sumber: Google)



Di suatu tempat takkala seseorang seakan membunuh karakternya, berarti dia merasakan sebuah ancaman. Mungkin itu cara paling primitif yang seonggok makhluk bisa lakukan. Tak kala dia tak lagi bisa mengandalkan siapapun, dia hanya berfisik dan bukan makhluk gaib, teman seolah menjadi lawan, lawan seakan-akan menjadi semakin lawan bahkan tak menentu. Rasa tidak lagi menjadi penting lagi, dia hanya dituntut untuk bertugas. Dan tragisnya, inilah titik sadar itu bahwa kau tak ada. Dan sedihnya bukan untuk yang pertama kali.

Lucu ya, kalau dibaca-baca. Mungkin pembaca akan menganggap ini hal basi, hal klasik, kelakuan si bodoh, bahkan geleng-geleng. Mereka pun mungkin berpikir demikian. Tentu mereka akan bersikap berbeda dalam menyikapi sesuatu jika mereka mengalami posisi seseorang itu. Saya rasa, semua orang pasti akan mengalami di posisi seperti itu, tinggal menerima urutan nomor, dan rasakan saja perasaan itu. Pasti kau akan merasa, Negara Amerika, Benua Eropa, dan kerasnya daerah Afrika akan bersamaan menimpa kalian. Dan rasakan sensasinya. Menangislah jika ingin menangis, hancurkan batu pada jika kalian mau, kuraslah air di penampungan limbah kalau itu bisa meredakan letupan emosimu.

Ini hanyalah sebagai pengingat, dulu pernah mendengar cerita seseorang kalau dia tak bisa merasakan perasaan lagi sedihnya sekalipun. Gembiranya pun bahkan menjadi pengingat agar dia tidak mabuk saat gembira. Alangkah bahagianya bisa bersikap demikian, pikir penulis. Tapi seiring waktu justru perasaan kagum itu berubah menjadi miris. Berbalik arah. Banyak hal tentu sudah berkali-kali menghancurkannya. Bukan dalam figur orang bahagia tapi bahagia itu dia rasakan atas penerimaan seutuhnya apapun itu yang dirasakannya.

Jungkir balik deskripsi bahagia, gembira, senang, sedih, menyayat hati justru merusak kepolosan kosakata.  Kosakata orang dewasa ternyata bisa berubah.
Akhirnya semua hanya menunggu waktu. Kalau kau, mereka,  belum rasakan hancurnya perasaan di balik bahagia fisikmu kau belum benar-benar merasakan menjadi manusia yang sebenarnya.

Maka, janganlah kau hina, remehkan dan memandang rendah seseorang. Seandainya pun dia rendah di matamu (mereka) ya, biarkan saja dia tetap menari di tengah hujan. Tahukah kalian, dia sudah hancur, dia itu serpihan karena itu cara dia mengisi sisa hidupnya. Untuk merasakan hidup.  Dia pun tidak gila, tapi justru kau lah yang mungkin gila kalau mengikutinya.  Yang kau lakukan  hanyalah, bersikaplah normal sebagaimana manusia normal pada umumnya.
Hal biasa mungkin : hargailah orang lain, anggaplah manusia itu selayaknya manusia, janganlah kau anggap manusia itu itu serendah yang kau pikir.
Semoga ini bisa menjadi bahan renungan, untuk kita semua.

Selasa, 07 Januari 2020

Waktu Diam Sejenak


Waktu Diam Sejenak

Hai teman-teman!
Sebetulnya saya, berencana akan lama membiarkan lama blog saya ini beristirahat. Tapi akhirnya tulisan ini akhirnya dikerek. Mungkin karena saya rindu untuk didengarkan. Atau karena saya menikmati tiap detik saat saat membuat alinea. Ya, begitulah.

Tulisan ini ada, sebetulnya bermula dari hati saya sebagai seorang sahabat. Saya memang mengenal dia belum lama, tapi saya sebenarnya sebagai orang yang memahami dia, langsung manggut-manggut dan berujar ‘Hai, Dunia. Mengapa berkali-kali, ketidaktahuan selalu saja menjerumuskan. Agak tahu pun itu menusuk hati.  Tahu pun kemungkinan akan dikelabuhi orang.
Dia memang bukan adik saya, ataupun saudara saya, tapi saya memahami apa yang dirasakannya. Jangan tertawa, teman,.. ini bukan lelucon. Tapi, kok, saya yang sewot, dia saja terlihat baik-baik saja. Ya, begitulah, dunia. Penuh dengan drama. Mungkin tanpa rasa itu yang terbaik. (Mengangkat bahu).

Semua pada akhirnya terputuskan, jadi  pikirkan dulu apapun itu yang akan dilakukan. Jangan ikuti doktrin, petuah-petuah yang dirimu pun merasa itu kurang pas walaupun sebenarnya tepat, (lho!) jadi jujurlah dengan hatimu. Simulasikan dalam bayanganmu dulu,  keputusan itu dengan sealamiah dan lepaskan dulu dirimu sejenak. Karena disinilah timbangan kuat-tidaknya kamu melakoni keputusan itu kelak. Diumpamakan dalam memilih sepatu pastinya sepatumu, beda dengan sepatu mereka. Karena kau terbiasa jalan di mall maka memilih sepatu boot plastik petani tentunya tidak pas. Janganlah terlupa meminta pendapat teman dekatmu. Yang terpercaya tentunya. Mereka terkadang lebih tahu bahkan dari dirimu.  Pikirkan sejernih mungkin. Mintalah juga petunjuk Yang Maha Kuasa. Mungkin  keputusanmu itu agak anti mainstream ( berbeda) dari keluarga, lingkungan, lingkaran pertemananmu, keluarga besar, kenalan, tapi dalam hidup, kau sendiri yang melakoni hidupmu bukan orang lain. Dan ternyata dia (sahabatku) tidak seperti perkiraan banyak orang. Dan saya jadi pilu. Ya, akhirnya saya mengaku. Memang tidak semua orang berani lakukan ini. Mungkin..hanya orang-orang punya nyali, keberanian, kenekatan dan tidak punya pilihan lain yang berani lakukan itu. Dan yang terakhir, tetaplah menjunjung tinggi langit tempatmu bernaung dan tetaplah berpijak di tanah tempatmu berdiri. Atau lebih tepatnya siapapun kau, dirimu tetap bagian dari manusia bumi dan tetaplah untuk merasa sebagai manusia bumi. Kita itu bukan manusia langit. Kita pasti punya salah. Tapi kita pun memiliki Tuhan. 

Ternyata saran ini sudah tidak berguna untuk  sahabat itu, pastinya itu  hal yang dia pilih dan dirasa yang terbaik. Seluruh alam, seluruh barisan teman, para pengiring tentu hanya bisa mendukungmu. Dan .. semoga bacaan ini berguna untuk kalian, para pembaca blog saya. Tulisan ini spesial untuk kalian semua.

Memang saat ini tepat sebagai waktu untuk diam sejenak. Diam dan rasakan.