Jumat, 07 Agustus 2015

Antara Tas Ransel dan Poupee-poupee-an



Antara Tas Ransel dan Poupee-poupee-an
 
Apakah layak gadis kecil ini dengan boneka tampan? Tinggalkan persepsi terhadapnya(Sumber gambar: Google)
Untuk hampir sebagian orang Kamis adalah hari-hari yang bisa jadi membahagiakan. Sudah melewati hari Senin-Rabu dan hampir Sabtu. Hari itu adalah hari dimana secara psikologis santai dan masa-masa dimana penuh harapan akan kata libur. Padahal kalau dirasakan sama saja semua hari itu. Bisa-bisanya orang melebih-lebihkan dan memberat-beratkan hari. Tapi Kamis ini saya pun merasakan sesuatu yang lain. Something yang agak men-terenyuhkan. Memang biasa tapi ini bisa dirasakan lain. Tapi mungkin untuk orang-orang tertentu saja. Mungkin.

Pagi hari penuh semangat apalagi badan sedang fit. Bahkan seandainya bertemu masalah besar ‘itu bukan apa-apa’. Ketika saya sedang duduk secara tak sengaja saya melihat sekilas ke seseorang. Seorang perempuan mungkin sekitar empat puluhan awal ataupun mungkin pertengahan yang sedang duduk sambil asyik ber-sms- an. Asyik sekali dia melakukannya bahkan sikapnya seolah tak peduli. Tapi setelah beberapa saat kemudian saya baru sadar kalau dipangkuannya dia membawa tas ransel warna hitam dan ternyata dipeluknya. Entah kenapa dari cara dia memeluknya saya melihatnya seperti gadis kecil lima tahunan yang sedang memeluk poupee-poupee-an (boneka). Dia mengkerut dan seolah tak mau kehilangan poupee-nya itu dan ekspresi mukanya pun mengatakan demikian. Saya hanya masgul, entah kemasgulan saya ini beralasan atau tidak untuk wanita seusia sangat dewasa tersebut begitu takutnya kehilangan poupee-poupee-an. Tapi seketika berhamburan skenario cerita mengenai wanita tersebut. Saya berusaha memahami dan membenarkan perilakunya tentu saja dengan dugaan saya.

Sesaat kemudian dia menyapa anak kecil di sampingnya. Sebetulnya saya ingin tertawa, terlihat naif dan kelembutan yang tulus tapi terlihat bodoh. Sebetulnya tidak bodoh tapi hanya terasa ganjil itu saja. Saya berusaha memahaminya lagi dan pikiran saya memang mengatakan memang sulit untuk bisa sewajar orang lain ketika seseorang itu ditimpa masalah. Yang beda hanyalah ada orang yang kuat menerimanya atau mungkin  goyang ketika menerimanya. Kuat diartikan disini bisa saja dia tangguh sekali seolah-olah mengatakan nothing can stop me now atau bisa saja dia berusaha untuk mengkuat-kuatkan diri akhirnya,hore, ternyata bisa jadi benar-benar kuat.

Sebetulnya kelakuan saya ini tidak baik, mbatin orang seenaknya. Tapi tentunya Anda memiliki penilaian tersendiri lagi beda dengan penilaian saya. Apapun pendapat Anda percayalah, setiap manusia itu memiliki masalah hidupnya sendiri-sendiri. Sepertinya seseorang mungkin kelihatan tanpa masalah tapi Anda bukan dia, bukan? Tentu dia memiliki permasalah sendiri yang inginnya dia pecahkan. Masalahnya saat ini dia merasa ringan saja menghadapinya. Minta saja pertolongan Tuhan! Bukankah sebagai orang beragama yang kita mintai pertolongan hanya Pencipta kita. Mungkin Tuhan memberikan seseorang permasalahan itu supaya seseorang itu agar ingat kepadaNya. Koreksi saja diri Anda.