Terasing di Tengah Keriuhan
![]() |
| Jangan sampai tercerabut dari muasal (Sumber gambar : Google) |
“Itu yang baru namanya kasihan. ‘Terasing’
di sebuah keluarga yang hangat dan nyaman. Mau jadi apa dia”
Sebetulnya saya menuliskan ini
berawal dari pembicaraan agak sengit saya dengan ibu. Ibu membela keluarga tertentu
yang saya katakan kenapa seakan-akan dia itu terasing. Saya tahu sebabnya
karena mereka seolah-olah tercerabut dari akar dalam keluarga. Walaupun
sebenarnya memang tak seestrim itu. Itu hanya istilah yang saya pakai untuk mempermudah
menjelaskan kepada Anda. Memang kadang-kadang
bertemu walaupun jarang sekali dan itu mungkin sudah berlangsung puluhan tahun.
Saya mungkin Anda ini orang
Indonesia. Jadi bukan orang Barat. Di negeri ini keluarga nenek moyang dulu itu dapat dikatakan
sebagai akar dari sebuah hubungan. Di sini masih berlaku kental sekali
kekerabatan tak hanya sebatas ayah, ibu, kakek, nenek bahkan saudara mereka dan
anak-anaknya pun masih dikenal dan saling mengenal. Jadi tak salah lagi
orang-oarang ini masih saling akrab dan merasa bagai keluarga walaupun dalam tingkat
hierarkhi tertentu. Apa jadinya jika
seseorang mungkin sebuah keluarga yang berada di kota yang jauh kurang intens bertemu dengan tempat asalnya bahkan keluarga
yang ada. Kalau baru setahun dua tahun mungkin masih bisa diterima dalam arti
masih terdapat kedekatan hubungan walau sudah seakan tak ada klik lagi. Seorang
anak sudah berkembang, yang remaja sudah mengembang bahkan yang tua sudah mulai
pikun. Apa jadinya kalau ini terulang bahkan dalam waktu yang lebih lama lagi.
Lama kelamaan si individu ini akan merasa terasing dengan kerabatnya sendiri,
tak kenal orang-orang baru yang lain dan seolah kehilangan rasa pada keluarganya.
Memangnya hal tersebut nyaman? Sekaya-kayanya seseorang orang tersebut masih
orang Indonesia dengan segala konsekuensi budayanya. Hal tersebut harus
dijadikan catatan tebal. Tak percaya, coba saja praktekkan!
![]() |
| Dengarkanlah, tidak bohong cerita ini (Sumber gambar : Google) |
Memang ribet ya! Pusing? Mau cari
yang praktis. Telpon. Hello, telpon itu berbeda dengan berkunjung
langsung. Jadi hal itu bukanlah jalan keluar. Hanya sebatas sebagai pembumbu kehidupan. Atau mau mencari solusi yang
lebih praktis lagi? Ya, tinggal dekat-dekat dengan keluarga seandainya merasa
biaya untuk pulang terasa mahal dan sayang untuk dibuang. Jadi kesimpulannya
sebetulnya bukan masalah keuangan yang harus seperti air bah tapi kedekatan dan
perjumpaan yang intens dengan keluarga,
kerabat akan lebih membahagiakan semua pihak bahkan segala prasangka jelek dari
suatu rasa tidak kenal akan hilang. Tercerabut dari akar keluarga adalah berita
terburuk yang dialami seorang manusia. Bahkan itu pukulan telak dan membuat KO
dan akhirnya terkapar menunggu maut. Hidupnya seolah sia-sia.

