Kamis, 11 September 2014

Ternyata Membutuhkan Orang lain



Ternyata Kita Membutuhkan Orang Lain…
 
Aha aku di sini ' (Sumber gambar : Google)

Suatu kata-kata yang sebenarnya tak perlu dikatakan. Bahkan penelitian sederhana  seorang anak kecil pun akan mengatakan demikian. Tapi sebagai orang dewasa terkadang membutuhkan pemantapan hati dan berkali-kali persetujuan setelah kejadian yang berulang kali terjadi. Tidak hanya mengalami sekali kejadian tapi mungkin berulang kali. Rasa untuk skeptis membuat orang dewasa lalu terkadang menyebalkan dan selalu saja menjengahkan. Alangkah senangnya menjadi anak kecil yang selalu saja mendapat mengalaman yang benar-benar baru dan unik.


Coba bandingkan aku (Sumber gambar : Google)


Setiap manusia itu unik, bahkan untuk ukuran manusia yang dianggap biasa pun setelah dilihat-lihat ada unsur lain dari yang lain. Yang paling mengecewakan dalam hidup adalah ketika menemui manusia yang sulit. Tapi dengan catatan sulit untuk orang lain mungkin untuk yang lain lagi hal itu dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan. Maksudnya ada sebuah tantangan baru, melampiaskan hobi membuat masalah, bahkan mungkin menjungkirbalikkan logika orang sulit tersebut.  Jadi orang-orang berenergi super ini paling menyukai orang-orang menantang tersebut.

Di ketinggian bisa melihat lebih (Sumber gambar : Google)

Tapi sebagai orang-orang yang bermoto life is flat hal tersebut bagaikan sebuah jalan dengan polisi tidur yang mengagetkan. Tidak menyenangkan, bahkan ketika membutuhkannya pun akan berkali-kali bertanya ‘Apakah perlu bertanya kepadanya?’ tidakkah hal tersebut akan membuatnya semakin besar kepala? Dan berbagai pertanyaan yang berseliweran di kepala bagaikan tanda dan peringatan agar jangan bertanya. Tapi setelah ditimbang-timbang kok paling baik dan paling tepat itu bertanya kepadanya setelah membandingkan untung rugi dan konsekuensi ketika salah pilih orang. Bahkan ternyata saat bertanya pun rasanya biasa-biasa saja, seperti saat ketika harus mewawancarai secara formal seseorang bahkan lebih tak terasa lagi. Kok bisa-bisanya orang-orang seperti ini takut akan tantangan ya. Bahkan sebetulnya masalah dan ketakutan itu tinggal dihadapi saja. Terus takutnya pada siapa? Pada Allah (Tuhan), seru anak laki-laki usia 2 tahunan itu. Dia saja tahu, kok orang dewasa harus berpikir dan berputar-putar untuk memutuskan masalah antara ya dan tidak. Sebuah jawaban yang sebenarnya pada detik kedua bisa dijawab.