Ternyata Kita Membutuhkan Orang Lain…
Suatu kata-kata yang sebenarnya
tak perlu dikatakan. Bahkan penelitian sederhana seorang anak kecil pun akan mengatakan
demikian. Tapi sebagai orang dewasa terkadang membutuhkan pemantapan hati dan
berkali-kali persetujuan setelah kejadian yang berulang kali terjadi. Tidak
hanya mengalami sekali kejadian tapi mungkin berulang kali. Rasa untuk skeptis
membuat orang dewasa lalu terkadang menyebalkan dan selalu saja menjengahkan.
Alangkah senangnya menjadi anak kecil yang selalu saja mendapat mengalaman yang
benar-benar baru dan unik.
![]() |
| Coba bandingkan aku (Sumber gambar : Google) |
Setiap manusia itu unik, bahkan
untuk ukuran manusia yang dianggap biasa pun setelah dilihat-lihat ada unsur
lain dari yang lain. Yang paling mengecewakan dalam hidup adalah ketika menemui
manusia yang sulit. Tapi dengan catatan sulit untuk orang lain mungkin untuk yang
lain lagi hal itu dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan. Maksudnya ada
sebuah tantangan baru, melampiaskan hobi membuat masalah, bahkan mungkin
menjungkirbalikkan logika orang sulit tersebut. Jadi orang-orang berenergi super ini paling
menyukai orang-orang menantang tersebut.
![]() |
| Di ketinggian bisa melihat lebih (Sumber gambar : Google) |
Tapi sebagai orang-orang yang
bermoto life is flat hal tersebut
bagaikan sebuah jalan dengan polisi tidur yang mengagetkan. Tidak menyenangkan,
bahkan ketika membutuhkannya pun akan berkali-kali bertanya ‘Apakah perlu
bertanya kepadanya?’ tidakkah hal tersebut akan membuatnya semakin besar kepala?
Dan berbagai pertanyaan yang berseliweran di kepala bagaikan tanda dan
peringatan agar jangan bertanya. Tapi setelah ditimbang-timbang kok paling baik
dan paling tepat itu bertanya kepadanya setelah membandingkan untung rugi dan
konsekuensi ketika salah pilih orang. Bahkan ternyata saat bertanya pun rasanya
biasa-biasa saja, seperti saat ketika harus mewawancarai secara formal
seseorang bahkan lebih tak terasa lagi. Kok bisa-bisanya orang-orang seperti
ini takut akan tantangan ya. Bahkan sebetulnya masalah dan ketakutan itu
tinggal dihadapi saja. Terus takutnya pada siapa? Pada Allah (Tuhan), seru anak
laki-laki usia 2 tahunan itu. Dia saja tahu, kok orang dewasa harus berpikir
dan berputar-putar untuk memutuskan masalah antara ya dan tidak. Sebuah jawaban
yang sebenarnya pada detik kedua bisa dijawab.


