Jumat, 19 Agustus 2016

Sekarang


Sekarang

"Apa kalian memikirkan sesuatu?" tanya yang lain. "Apa ya?" "Aku ingin..." (Sumber gambar : yahoo)
Saya lebih suka memanggil ‘sekarang’.

Saya lebih suka memanggil ‘sekarang’. Terkadang saya terbeban memanggil ‘kemarin’. Saya pikir ini sangat manusiawi. Walaupun terkadang mereka membuat saya tersenyum-senyum tapi di saat kemudian membuat mata saya memerah. Apa ada semut di mata saya ya? Kok jadi merah. Saya tidak tahu kenapa bisa merah, ya mungkin karena sewaktu mandi tadi banyak air yang memasuki mata. Apa karena saya salah pilih salep cabai untuk obat sakit mata? Ya mungkin karena angin begitu besar hingga menerpa mata hingga pedih lalu dikukucek jadilah mata memerah.


Saya lebih suka memanggil ‘sekarang’. Karena dia ini begitu tenang bahkan ketika kuinjak-injak, kutampar, kuhajar sampai dia tak bertenaga bahkan mati sekalipun. Tapi coba pikir bagaimana saya bisa menemui ‘besuk’ kalau dia mati saat ini. Ya ini hanya imajiku. Karena ‘sekarang’ membuat saya leluasa melakukan apa pun itu yang saya suka. Walaupun ada orang-orang yang mengatakan “Kau berangan-angan”. Coba pikir saya hanya memiliki dua kaki, dua tangan, dua telinga, dua alis, bahkan mata  hanya dua. Bagaimana saya berangan seandainya ingin memiliki empat pasang indera sekaligus dan kujadikan nyata? Tapi seandainya berangan-angan yang lebih tinggi pun itu tidak dilarang. Kalian raja dan ratu di dunia angan kalian. 
Saya lebih suka memanggil ‘sekarang’. Walaupun norak dan dianggap salah kostum dengan situasi yang ada. Tapi yang pasti bukan alay. Terlalu banyak hal yang telah dimakan hingga kekenyangan hingga terkadang ada hal-hal tertentu yang terkadang membuat masuk angin, meringang bahkan menjadi kembung karenanya. Perluas volume? Biarlah semuanya di jalurnya masing-masing, bukankah penuh warna itu akan menjadi indah? Atau justru merusak mata? Ah, biarkan multiwarna dan silakan kalian pilih apa yang kalian mau.


Saya lebih suka memanggil ‘sekarang’. Walaupun saya ada saat ini dan menjadi seperti ini karena ‘kemarin’. Saya pun tahu ‘kelak’ itu pasti ada dan pasti akan ditemui tapi saya lebih suka melakukan apa yang bisa dan memanggil ‘sekarang’. Mungkin ada orang yang mengatakan pengecut, penakut, bodoh. Tapi lihatlah saya masih melihat ke depan ketika berjalan dan masih mempergunakan kedua kaki saya ketika jalan supaya saya tetap bisa melangkah ke depan tentunya? Ke belakang? Saya tidak punya mesin waktu. Semua orang punya gaya. Bahkan untuk yang tidak bergaya pun itulah gaya dia.