Sekarang
“Saya
lebih suka memanggil ‘sekarang’.”
Saya lebih suka memanggil ‘sekarang’.
Terkadang saya terbeban memanggil ‘kemarin’. Saya pikir ini sangat manusiawi.
Walaupun terkadang mereka membuat saya tersenyum-senyum tapi di saat kemudian
membuat mata saya memerah. Apa ada semut di mata saya ya? Kok jadi merah. Saya
tidak tahu kenapa bisa merah, ya mungkin karena sewaktu mandi tadi banyak air
yang memasuki mata. Apa karena saya salah pilih salep cabai untuk obat sakit
mata? Ya mungkin karena angin begitu besar hingga menerpa mata hingga pedih
lalu dikukucek jadilah mata memerah.
Saya lebih suka memanggil ‘sekarang’.
Karena dia ini begitu tenang bahkan ketika kuinjak-injak, kutampar, kuhajar
sampai dia tak bertenaga bahkan mati sekalipun. Tapi coba pikir bagaimana saya
bisa menemui ‘besuk’ kalau dia mati saat ini. Ya ini hanya imajiku. Karena ‘sekarang’
membuat saya leluasa melakukan apa pun itu yang saya suka. Walaupun ada orang-orang
yang mengatakan “Kau berangan-angan”. Coba pikir saya hanya memiliki dua kaki,
dua tangan, dua telinga, dua alis, bahkan mata hanya dua. Bagaimana saya berangan seandainya ingin
memiliki empat pasang indera sekaligus dan kujadikan nyata? Tapi seandainya
berangan-angan yang lebih tinggi pun itu tidak dilarang. Kalian raja dan ratu
di dunia angan kalian.
Saya lebih suka memanggil ‘sekarang’.
Walaupun norak dan dianggap salah kostum dengan situasi yang ada. Tapi yang pasti
bukan alay. Terlalu banyak hal yang telah dimakan hingga kekenyangan hingga
terkadang ada hal-hal tertentu yang terkadang membuat masuk angin, meringang
bahkan menjadi kembung karenanya. Perluas volume? Biarlah semuanya di jalurnya
masing-masing, bukankah penuh warna itu akan menjadi indah? Atau justru merusak
mata? Ah, biarkan multiwarna dan silakan kalian pilih apa yang kalian mau.
Saya lebih suka memanggil ‘sekarang’.
Walaupun saya ada saat ini dan menjadi seperti ini karena ‘kemarin’. Saya pun
tahu ‘kelak’ itu pasti ada dan pasti akan ditemui tapi saya lebih suka
melakukan apa yang bisa dan memanggil ‘sekarang’. Mungkin ada orang yang mengatakan
pengecut, penakut, bodoh. Tapi lihatlah saya masih melihat ke depan ketika
berjalan dan masih mempergunakan kedua kaki saya ketika jalan supaya saya tetap
bisa melangkah ke depan tentunya? Ke belakang? Saya tidak punya mesin waktu.
Semua orang punya gaya. Bahkan untuk yang tidak bergaya pun itulah gaya dia.
