Minggu, 31 Maret 2013

Pasangan Mesra Tahun '45



Pasangan Mesra Tahun ‘45



Nenek dan Kakekku                
 


Itulah Nenek dan Kakekku!
Sepulang dari tempat wisata pop tersebut, aku dan temanku mampir ke tempat kediaman mereka yang letaknya searah dengan daerah wisata tersebut. Temanku tersebut rupanya agak surprise dengan kondisi mereka berdua, ‘Jiwanya sehat’ komentarnya. Aku pun mengakuinya. Waktu dan keadaan telah berpihak kepada mereka kaum yang kita anggap sebagai sesepuh tersebut. Waktu dan keadaan juga yang telah menempa mereka menjadi demikian tangguh, walaupun seiring waktu fisik manusia sedikit demi sedikit semakin kalah tergerus waktu.
Walaupun begitu mereka masih saja gesit dalam tindakan dan ucapan. Dan hal tersebut sudah diakui banyak orang.
Aku, sebagai cucunya pun salut kepada mereka berdua. ‘Mereka sudah mengalami masa krisis perkawinan. Sudah melampaui masa krisis lima tahun pertama, sepuluh tahun, dua puluh tahun bahkan lima puluh tahun.’ Itulah pendapatku. Mungkin malaikat-malaikat turut bertepuk tangan atas kesuksesan mereka.
Uti, kakung I love U All.

Sabtu, 30 Maret 2013

Perjalanan



Perjalanan


Saya pun sadar kalau sebenarnya hidup itu merupakan rangkaian dari perjalanan. Perjalanan yang merupakan pertemuan dan perpisahan.
Hari libur nasional selalu saja ditandai dengan berseliwerannya kendaraan-kendaraan  di jalanan. Tak terkecuali di minggu ini. Orang akan selalu mengharap ‘perbanyaklah hari libur, Tuhan’ rintih sebuah doa. Atau harapan. Libur berarti kekosongan rutinitas dan bergandanya kesenangan untuk jiwa maupun raga seseorang. Maka untuk itulah orang melakukan perjalanan.
Untuk kali ini sebagaimana kebiasaan orang-orang lain yang ‘gemar’ melakukan perjalanan  akhirnya entah untuk keputusan yang keberapa saya akhirnya melakukan perjalanan singkat bersama teman baik saya. Teman di kala dulu kita biasa menanggung beban, menabur keindahan, bahkan bersama-sama berjuang dengan sejuta idealisme untuk menjaring masa depan yang kita sendiri belum tahu bagaimana bentuknya.
Akhirnya setelah bertahun-tahun kita tidak bersua, kemarin kita akhirnya berjumpa di depan sebuah toko sapu. Memang banyak hal yang telah berubah aku melihat dia kini semakin ‘lebih’. Lebih dalam hal pemikiran, bersikap, bahkan hal-hal lain seperti pengalaman dan banyak hal lain. Seperti rencana kita sebelum bertemu kita akan mengunjungi tempat wisata pop di daerahku. Daerah tersebut sudah beberapa tahun ini populer menjadi  tempat  tujuan wisata. Akhirnya sampailah kita ke tempat tersebut.
Oh, ternyata ini kebiasaan baru temanku itu.
Di sana banyak anak-anak muda nangkring di tempat wisata tersebut. Tapi sayangnya suasana agak berkabut dan kukira akan turun hujan. Pas benar situasi yang kita hadapi siang itu. Pas ingin nonton teater terdengar kalau akan dimulai, pas kita keluar selesai nonton begitupun hujan yang turun dari langit. Pas kita sudah ‘agak turun’ dari tempat tersebut  hujan pun mulai berhenti.
Kita benar-benar menikmati perjalanan singkat kita tersebut dan waktu yang kita miliki. Seandainya seluruh waktu orang itu berkualitas, tentu tak akan ada rasa jemu, sakit hati, penyesalan, berpikir negatif dan banyak hal lainnya. Masa lalu bukan hal yang menghantui kita tapi bisa kita anggap sebagai bumbu untuk hidup sehingga kita bisa membeda-bedakan warna-warna dari kehidupan. Saya pun sadar kalau sebenarnya hidup itu merupakan rangkaian dari perjalanan. Perjalanan yang merupakan pertemuan dan perpisahan. Yang bisa benar-benar ‘tak bisa ditemui’ lagi ataupun bisa juga hal ‘yang ditemukan’ lagi. Perjalananlah yang membuat kita hidup bahkan bisa membuat hidup lebih hidup. Aku hanya merenung sampai di mana perjalananku? Dan sudah sampai mana perjalanan Anda?

Minggu, 17 Maret 2013

Sapaan Teddy Bear

Sapaan Teddy Bear

(Sumber gambar: setulusqolbu.blogspot.com)

Hai, semuanya!!!
Hujan lagi-lagi hujan. Kemarin hari hujan walaupun hanya gerimis. Untuk orang-orang yang romantis berarti hujan itu memberikan suatu romansa tersendiri bagi jiwa romantis itu. Hujan pun bisa mendatangkan inspirasi untuk menciptakan sebuah lagu merdu. Jadi hujan itu begitu bernilai tinggi untuk setiap jiwa.
Bagiku hujan adalah air yang turun yang bisa membuat tanah basah, bahkan bau tanah itu bisa memasuki relung  setiap indera penciuman untuk bisa membaunya. Bau yang begitu khas bahkan bercampur dengan bau dari rerumputan. Aku pun tidak suka air percikannya mengenai bulu-buluku yang lembut karena air itu bisa memudarkan  warna  buluku. Aku menjadi tidak ganteng dan bulu-buluku menjadi tidak cantik lagi. Tapi walaupun begitu aku bukanlah teddy metroseksual lho.
Walaupun aku tak terlalu menyukai hujan tapi aku kadang mengharapkan sesuatu darinya. Harapanku agar jalan menjadi tak berdebu sehingga ‘tuanku’ bisa ngebut ketika bersepeda, aku pun bisa melihat rerumputan yang biasa kulihat di jendela ini selalu hijau dan segar hingga hatikupun terasa hijau. Aku pun pernah mendengar ‘tuanku’ menceritakan tentang dewi hujan di sebuah buku cerita yang begitu mempesona dan indah. Aku pun ingin bertemu dengan dewi itu.
Hanya itulah yang kuharapkan ...dan memang tak banyak. Selamat malam sahabat, semoga tidurmu nyenyak nanti malam! Malam ini cerah sekali.

Sabtu, 02 Maret 2013

Dari Hati


Dari Hati

Sumber :beritaunik.net
 
Banyak hal dalam hidup yang seolah sengaja kita lewatkan, seolah-olah diri orang tersebut mengatakan ‘stop’.
Seolah-olah hal tersebut menjadi penyakit kambuhan yang jika timbul menjadi begitu menyebalkan, menyesakkan dan seolah-olah menjadi titik kilas balik seseorang. Banyak hal yang telah terjadi. Perasaan geli, getir, aneh, meyedihkan, mengembang, memilukan melejitkan perasaan itu menjadi semacam amunisi yang mewarnai perasaan.
Entah karena apa hari ini menjadi semacam pendaran warna. Tapi entahlah warna apa yang terbentuk. Merah bukan, merah jambu pun bukan, putih bukan, kuning pun tidak, apalagi hitam. Apa jadinya aku hari ini. Belasan tahun lalu aku begitu tegar hadapi kesulitanku, ada air mata menitik mengingatnya. Aku bisa tegar hadapi semuanya. Beberapa tahun kemudian aku benar-benar merasa bersyukur seolah-olah lepas dari  semuanya. Tapi ternyata aku salah hari ini aku mengingatnya, seolah-olah aku terkena penyakit kambuhan. Tapi kilasan itu lumayan membuat semburat biru di wajahku.
Yang kumau aku ....Entahlah dengan perasaanku kini. Dulu beberapa saat lalu aku begitu yakin dengan ya tidaknya semua hal, tapi betapa lemahnya aku kini. Hal itu begitu jelas di benakku kini. Detik, detik jam terus saja berlalu tak mau kompromi kepadaku. Waktu memang terkadang menjadi sesuatu yang asing. Itulah isi benakku kini.

Jumat, 01 Maret 2013

Jangan Sok Pahlawan

Jangan Sok Pahlawan, Loe...
 
Pahlawan Bertopeng(Sumber Gambar : Google)

Manusia itu diberikan Tuhan hal yang baik dan buruk dalam dirinya, terkadang manusia lebih mengikuti keinginannya sendiri. Karena manusia itu memang bukan Nabi. Nabi dilempar kotoran akan balik mendoakan hal baik-baik si pelempar tersebut. Memang ini bukan jaman nabi lagi, tapi  jaman dimana kebutuhan diri sendiri seringnya lebih didahulukan tak pedulikan urusan orang lain. Tapi baiklah..milikilah standar yang tinggi untuk berbuat baik. Paham kan maksud saya?

Berusahalah membantu orang lain semampu kalian, asal ..jangan abaikan masalah pribadi yang harus kalian pecahkan dan hadapi. Itu salah satu bentuk memuliakan diri sendiri. Hargailah diri sendiri itu yang pertama harus dilakukan. Ck ck ck ck ..jangan abaikan kepentingan diri sendiri. Karena saat ini bukan jamannya keajaiban semuanya  membutuhkan usaha dan proses.

 

Kalau jaman dulu mungkin ada cerita-cerita yang menajamkan tentang perilaku pengharapan tinggi tanpa usaha, karena semuanya langsung ada. Asal..kita berhati mulia dan baik hatinya. Semua penjahat akan dibalas oleh ibu peri dan 'dewa penolong' atau pahlawan. Semuanya terlihat indah, mempesona, menarik dan pendengar cerita pun tersugesti ingin seperti si tokoh. Tapi itulah cerita. Karena cerita memang hanya ada di cerita. Karena cerita itu bukan dunia nyata. Dunia nyata begitu kompleks dan luas bahkan tak terduga. Teori tokoh hebat pun bisa saja patah karena mungkin ada perubahan keadaan dunia. 


Jadi pahlawan itu memang hebat sekali di dunia cerita. Tapi bagusnya semua orang bisa menjadi pahlawan di kehidupan ini. Pahlawan melawan keburukan tentunya tapi dengan cara yang lain tentunya. Lain dalam cerita, lain pula dalam dunia saat ini. Tapi pahlawan kekinian harus bijak. Hingga jangan sampai dikatakan, "Jangan sok pahlawan, Loe."