Perjalanan
Saya pun sadar kalau sebenarnya hidup itu merupakan rangkaian
dari perjalanan. Perjalanan yang merupakan pertemuan dan perpisahan.
Hari libur
nasional selalu saja ditandai dengan berseliwerannya kendaraan-kendaraan di jalanan. Tak terkecuali di minggu ini.
Orang akan selalu mengharap ‘perbanyaklah hari libur, Tuhan’ rintih sebuah doa.
Atau harapan. Libur berarti kekosongan rutinitas dan bergandanya kesenangan
untuk jiwa maupun raga seseorang. Maka untuk itulah orang melakukan perjalanan.
Untuk kali ini
sebagaimana kebiasaan orang-orang lain yang ‘gemar’ melakukan perjalanan akhirnya entah untuk keputusan yang keberapa
saya akhirnya melakukan perjalanan singkat bersama teman baik saya. Teman di
kala dulu kita biasa menanggung beban, menabur keindahan, bahkan bersama-sama
berjuang dengan sejuta idealisme untuk menjaring masa depan yang kita sendiri
belum tahu bagaimana bentuknya.
Akhirnya
setelah bertahun-tahun kita tidak bersua, kemarin kita akhirnya berjumpa di
depan sebuah toko sapu. Memang banyak hal yang telah berubah aku melihat dia
kini semakin ‘lebih’. Lebih dalam hal pemikiran, bersikap, bahkan hal-hal lain seperti
pengalaman dan banyak hal lain. Seperti rencana kita sebelum bertemu kita akan
mengunjungi tempat wisata pop di daerahku. Daerah tersebut sudah beberapa tahun
ini populer menjadi tempat tujuan wisata. Akhirnya sampailah kita ke
tempat tersebut.
Oh, ternyata
ini kebiasaan baru temanku itu.
Di sana banyak
anak-anak muda nangkring di tempat wisata tersebut. Tapi sayangnya suasana agak
berkabut dan kukira akan turun hujan. Pas benar situasi yang kita hadapi siang
itu. Pas ingin nonton teater terdengar kalau akan dimulai, pas kita keluar
selesai nonton begitupun hujan yang turun dari langit. Pas kita sudah ‘agak
turun’ dari tempat tersebut hujan pun
mulai berhenti.
Kita
benar-benar menikmati perjalanan singkat kita tersebut dan waktu yang kita
miliki. Seandainya seluruh waktu orang itu berkualitas, tentu tak akan ada rasa
jemu, sakit hati, penyesalan, berpikir negatif dan banyak hal lainnya. Masa
lalu bukan hal yang menghantui kita tapi bisa kita anggap sebagai bumbu untuk
hidup sehingga kita bisa membeda-bedakan warna-warna dari kehidupan. Saya pun
sadar kalau sebenarnya hidup itu merupakan rangkaian dari perjalanan.
Perjalanan yang merupakan pertemuan dan perpisahan. Yang bisa benar-benar ‘tak
bisa ditemui’ lagi ataupun bisa juga hal ‘yang ditemukan’ lagi. Perjalananlah yang
membuat kita hidup bahkan bisa membuat hidup lebih hidup. Aku hanya merenung
sampai di mana perjalananku? Dan sudah sampai mana perjalanan Anda?