Rasa
Sayang Yang Seharusnya
Hari
ini aku teringat ucapan teman baikku beberapa tahun lalu. “Bagaimana orang bisa
menyayangimu kalau kamu sendiri tak menyayangi dirimu sendiri”. Aku sesaat
tercenung waktu itu. Aku terbiasa memanjakan diriku sendiri, kurang ajarnya dia
mengatakan itu, pikirku sesaat. Aku ingin coklat kubelikan coklat, aku impikan
beraneka warna barang-barang kubela-belain mewujutkannya. Tapi...
Tapi
setelah kurasa-rasa apa gunanya kulakukan semua itu kalau aku tak menghargai
diriku sendiri, membiarkan orang-orang menginjak-injak hakku untuk mengatakan
‘tidak’, memaksa diriku untuk mengatakan
‘iya’. Ternyata makna itu dalam sekali, teman. Kadang kureka-reka orang macam
apa dirimu kata-katamu selalu telak mengenaiku dan memang itulah yang kubutuhkan
agar sadar dan tetap menjadi manusia.
Tapi
sayangnya pengecut ini bukan orang hebat dia lebih sering tak punya nyali. Lalu
kubalik bertanya pada diriku, aku yang manusia atau kau sebetulnya yang bukan
manusia atau pertanyaan itu harusnya kubalik saja? Pertanyaan ini tidak hanya
untuk dia tapi sekedar untuk mengoreksi diri kalian sendiri untuk sesekali
mempertanyakan kadar kemanusiaan kalian ‘yang mendekati manusia’ atau ‘bahkan
mendekati malaikat’ atau lebih buruk lagi ‘mendekati iblis’.
Rasa menghargai diri identik juga untuk
mencegah hal-hal yang berlebihan untuk memanjakan diri yang terlalu. Karena menghargai
itu menerima diri kita seutuhnya walaupun mungkin kata ‘sang kaca’, kita ini
tidak sempurna maka kita tidak lantas latah mengoperasi, menyuntik, membedah, mengubah
wajah maupun badan kita. Terimalah seutuhnya dan sayangi diri ini yang telah seutuhnya
Tuhan ciptakan.