Jumat, 21 Desember 2012

Rasa Sayang, memanjakan diri, menghargai

Rasa Sayang Yang Seharusnya

Hari ini aku teringat ucapan teman baikku beberapa tahun lalu. “Bagaimana orang bisa menyayangimu kalau kamu sendiri tak menyayangi dirimu sendiri”. Aku sesaat tercenung waktu itu. Aku terbiasa memanjakan diriku sendiri, kurang ajarnya dia mengatakan itu, pikirku sesaat. Aku ingin coklat kubelikan coklat, aku impikan beraneka warna barang-barang kubela-belain mewujutkannya. Tapi...
Tapi setelah kurasa-rasa apa gunanya kulakukan semua itu kalau aku tak menghargai diriku sendiri, membiarkan orang-orang menginjak-injak hakku untuk mengatakan ‘tidak’,  memaksa diriku untuk mengatakan ‘iya’. Ternyata makna itu dalam sekali, teman. Kadang kureka-reka orang macam apa dirimu kata-katamu selalu telak mengenaiku dan memang itulah yang kubutuhkan agar sadar dan tetap menjadi manusia.
Tapi sayangnya pengecut ini bukan orang hebat dia lebih sering tak punya nyali. Lalu kubalik bertanya pada diriku, aku yang manusia atau kau sebetulnya yang bukan manusia atau pertanyaan itu harusnya kubalik saja? Pertanyaan ini tidak hanya untuk dia tapi sekedar untuk mengoreksi diri kalian sendiri untuk sesekali mempertanyakan kadar kemanusiaan kalian ‘yang mendekati manusia’ atau ‘bahkan mendekati malaikat’ atau lebih buruk lagi ‘mendekati iblis’.
 Rasa menghargai diri identik juga untuk mencegah hal-hal yang berlebihan untuk memanjakan diri yang terlalu. Karena menghargai itu menerima diri kita seutuhnya walaupun mungkin kata ‘sang kaca’, kita ini tidak sempurna maka kita tidak lantas latah mengoperasi, menyuntik, membedah, mengubah wajah maupun badan kita. Terimalah seutuhnya dan sayangi diri ini yang telah seutuhnya Tuhan ciptakan.
Rasa Sayang Yang Seharusnya


Hari ini aku teringat ucapan teman baikku beberapa tahun lalu. “Bagaimana orang bisa menyayangimu kalau kamu sendiri tak menyayangi dirimu sendiri”. Aku sesaat tercenung waktu itu. Aku terbiasa memanjakan diriku sendiri, kurang ajarnya dia mengatakan itu, pikirku sesaat. Aku ingin coklat kubelikan coklat, aku impikan beraneka warna barang-barang kubela-belain mewujutkannya. Tapi...
Tapi setelah kurasa-rasa apa gunanya kulakukan semua itu kalau aku tak menghargai diriku sendiri, membiarkan orang-orang menginjak-injak hakku untuk mengatakan ‘tidak’,  memaksa diriku untuk mengatakan ‘iya’. Ternyata makna itu dalam sekali, teman. Kadang kureka-reka orang macam apa dirimu kata-katamu selalu telak mengenaiku dan memang itulah yang kubutuhkan agar sadar dan tetap menjadi manusia.
Tapi sayangnya pengecut ini bukan orang hebat dia lebih sering tak punya nyali. Lalu kubalik bertanya pada diriku, aku yang manusia atau kau sebetulnya yang bukan manusia atau pertanyaan itu harusnya kubalik saja? Pertanyaan ini tidak hanya untuk dia tapi sekedar untuk mengoreksi diri kalian sendiri untuk sesekali mempertanyakan kadar kemanusiaan kalian ‘yang mendekati manusia’ atau ‘bahkan mendekati malaikat’ atau lebih buruk lagi ‘mendekati iblis’.
 Rasa menghargai diri identik juga untuk mencegah hal-hal yang berlebihan untuk memanjakan diri yang terlalu. Karena menghargai itu menerima diri kita seutuhnya walaupun mungkin kata ‘sang kaca’, kita ini tidak sempurna maka kita tidak lantas latah mengoperasi, menyuntik, membedah, mengubah wajah maupun badan kita. Terimalah seutuhnya dan sayangi diri ini yang telah seutuhnya Tuhan ciptakan.

Kamis, 20 Desember 2012

Rasa Sayang, Memanjakan diri

Rasa Sayang Yang Seharusnya


Hari ini aku teringat ucapan teman baikku beberapa tahun lalu. “Bagaimana orang bisa menyayangimu kalau kamu sendiri tak menyayangi dirimu sendiri”. Aku sesaat tercenung waktu itu. Aku terbiasa memanjakan diriku sendiri, kurang ajarnya dia mengatakan itu, pikirku sesaat. Aku ingin coklat kubelikan coklat, aku impikan beraneka warna barang-barang kubela-belain mewujutkannya. Tapi...
Tapi setelah kurasa-rasa apa gunanya kulakukan semua itu kalau aku tak menghargai diriku sendiri, membiarkan orang-orang menginjak-injak hakku untuk mengatakan ‘tidak’,  memaksa diriku untuk mengatakan ‘iya’. Ternyata makna itu dalam sekali, teman. Kadang kureka-reka orang macam apa dirimu kata-katamu selalu telak mengenaiku dan memang itulah yang kubutuhkan agar sadar dan tetap menjadi manusia.
Tapi sayangnya pengecut ini bukan orang hebat dia lebih sering tak punya nyali. Lalu kubalik bertanya pada diriku, aku yang manusia atau kau sebetulnya yang bukan manusia atau pertanyaan itu harusnya kubalik saja? Pertanyaan ini tidak hanya untuk dia tapi sekedar untuk mengoreksi diri kalian sendiri untuk sesekali mempertanyakan kadar kemanusiaan kalian ‘yang mendekati manusia’ atau ‘bahkan mendekati malaikat’ atau lebih buruk lagi ‘mendekati iblis’.
 Rasa menghargai diri identik juga untuk mencegah hal-hal yang berlebihan untuk memanjakan diri yang terlalu. Karena menghargai itu menerima diri kita seutuhnya walaupun mungkin kata ‘sang kaca’, kita ini tidak sempurna maka kita tidak lantas latah mengoperasi, menyuntik, membedah, mengubah wajah maupun badan kita. Terimalah seutuhnya dan sayangi diri ini yang telah seutuhnya Tuhan ciptakan.

Kamis, 29 November 2012

Keinginan,jalan,asa


Ada Keinginan Tapi Belum Ada Jalan



Aku hanya kadang kepikiran orang yang begitu sibuk, namun bisa melakukan banyak hal sekaligus tapi anehnya hasilnya bagus. Kenapa bisa begitu ya?
Kupikir fokus itu perlu. Tapi setelah aku timbang-timbang ternyata hal itu tergantung setiap kemampuan individu. Kondisi fisik antara satu orang dengan orang lainnya sangat berlainan. Ada orang yang kuat sekali  dalam kekuatan badan dan otaknya, ada orang yang lumayan kuat dan ada orang yang lemah secara fisik.
Situasi dan kondisipun akan menjadi penuntut keberhasilan dia soalnya ini berkaitan dengan tekanan. Kira-kira setahun yang lalu aku pernah mengalami tekanan yang luar biasa, tapi akhirnya aku berhasil menyelesaikannya. Mengalami tekanan dua bulan saja aku sudah merasakan capek yang luar biasa apalagi sampai berbulan-bulan. Aku dalam waktu itu sering pusing, mual bahkan aku jatuh sakit. Kubayangkan seandainya setahun, bertahun-tahun bahkan seumur hidup mengalami tekanan yang demikian berat.
Sementara itu aku lihat banyak orang bisa aman dan santai dalam waktu sehari semalam yang sama denganku bisa melakukan lebih banyak hal dan begitu efektif menyesuaikan waktu. Ingin juga seperti mereka. Bukannya ambisius, tapi aku juga inginkan banyak hal, tapi rupanya berbenturan dengan kemampuan fisik.
Dalam waktu dekat ini aku ingin menyelesaikan kerjaan kecilku yang sudah kumulai sejak duapuluh empat Oktober setahun lalu belum selesai juga. Semoga momentum menuliskannya di blog-ku ini bisa memberi titik terang untuk terselesaikannya pekerjaan kecilku tersebut.
Bagi yang membaca blog-ku kuhadiahi hadiah kecil untuk kalian :
“Mimpi itu kepingan keinginan, yang terkadang pupus di jalan, namun tak selamanya kan sirna, karena kalian sang pemilik mimpi kan selalu ada”
Itulah hebatnya manusia, karena manusia punya asa. Dan asa adalah pemberian Tuhan yang mahal. Pergunakan asa sebaik mungkin.

Mr.Ariel,MissPiggy


Mr Ariel Vs Miss Piggy


Di sebuah toko buku tampak Miss Piggy matanya jelalatan melihat buku-buku yang diobral begitu menggunung. Murah dan menarik, pikirnya. Aku ingin beli buku pengarang favoritku itu, ah empat judul buku saja.
Di mata Miss Piggy bazar berarti obral dan obral itu artinya murah. Memang tak salah pikiran seperti itu. Baju, sepatu, belt yang membuat keren badan bisa diobral apalagi buku sebagai suatu barang yang tak kelihatan karena akhirnya hanya bisa ngumpet di otak tidak terlihat.
“Hai,” sapa sebuah suara.
Suara itu di dengar Miss Piggy sebagai suara yang lupa-lupa ingat.
“Siapa ya?” pikiran itu akhirnya disuarakan juga oleh Miss Piggy.
“Ariel,” kata laki-laki keren itu sambil mengulurkan tangan.
“Piggy.Oh, ya, teman SMP dulu ya?” kata Miss Piggy dengan sumringah.
“Hah,..!” Mr Ariel tampak bengong sesaat. “Bukanlah! Itu tuh,” tunjuk Mr Ariel menunjuk spanduk besar dan lebar yang terpampang.
“Oh, Anda yang mengecat gambar tersebut. Selamat karya Anda begitu indah,” kata Miss Piggy dengan begitu kagumnya.
“Bukan,” kata Mr Ariel menggeleng-geleng  keras, meyakinkan dirinya juga atas ketenarannya selama ini yang seketika sirna ketika menghadapi Miss Piggy.
“O, iya..,” tunjuk Miss Piggy dengan telunjuknya.  
“Tahu?” Mr Ariel akhirnya merasa lega. “Maaf,aku harus pergi.” Akhirnya laki-laki keren itu berlalu.
Miss Piggy hanya bengong sambil berpikir keras, tiba-tiba, “Ariel, oh my God. Itu kamu,” diapun membalikkan badan tapi sayang laki-laki itu telah berlalu.