Sabtu, 09 Maret 2019

Catatan Kecil Hari Ini Di Angka Sembilan


Catatan Kecil Hari Ini: Di Angka Sembilan

Apapun kita, siapapun kita, janganlah kita sampai kehilangan perasaan sebagai manusia dengan segala sifat manusia yang baik.

Kontur alam memang  ‘seakan’ bisa membuat hati ngilu karena mereka sangat  hebat dan megah.  Dan itulah kenyataannya.  Manusia ‘seakan’ dibuat tenggelam olehnya dan mengakui mereka lebih dari segalanya. Bahkan rasa sekilas seperti itu pun tampak, walaupun mungkin selintas. Tapi seandainya manusia itu mau merasai alam, manusia itu pasti tidak akan sombong, pongah, merasa paling penting(seandainya iya, lalu akan mengkerut lagi rasa itu), mau toleran dan sifat-sifat seperti bumi lainnya.  Karena itu mungkin akhirnya orang-orang yang dekat dengan alam itu lebih ‘memiliki rasa sebagai  idealnya manusia.’  Yang tetap sadar kalau dia manusia, manusia yang berakal budi.

Padahal sebagai manusia jaman ini, kontak dengan alam pun dirasa semakin berkurang karena mungkin lebih dekat gaya hidup yang praktis, cepat, kesenangan, kemewahan mahal yang mungkin jauh bahkan jauh sekali dari kontak dengan alam. Mungkin akhirnya manusia akhirnya kehilangan rasa sebagai manusia yang seharusnya sopan, seimbang, sabar, tidak temperamental, tidak pamer otot, tidak mencibir, membaur. Bahkan anehnya orang-orang yang tinggal di tempat alami pun tidak merasa memiliki keindahan alam itu. Tidak ada perasaan menyatu. Apa karena terbiasa? Saya pikir karena mereka tidak peka menggunakan indera mereka. Akhirnya mereka pun sama saja dengan orang-orang di daerah lain. Mereka hanya hilir mudik saja. Tapi..saya pikir juga mungkin karena mereka terbiasa.

Akhirnya setinggi-tingginya kemampuan manusia, paling tidak dia bisa memanfaatkan apapun itu yang mereka miliki di lingkungan atau rumahnya sendiri. Apapun itu yang berhubungan dengan alam. Semisal menanam pohon di pekarangan, supaya lebih memanusiakan rasa manusianya. Bersyukur bisa menanam di kebun luas, bersuka ria bisa menanami  gunung, ber-euforia bisa menanam di pulau miliknya, misalnya. Saya pikir, tak perlulah manusia berpikir macam-macam. Maksimalkan apa yang mereka miliki, saya rasa itu cukup. Kalau bisa lebih, anggaplah hal itu bonus yang diperoleh.

Karena harmoni manusia dengan alam adalah hal yang utama sebagai upaya manusia supaya tetap bisa seperti sifat-sifat manusia. Manusia itu adalah manusia yang berakal dan berbudi apapun pilihan hidup mereka. Petani akan menjadi petani yang baik, pedagang akan menjadi penjual yang baik, atlet pun akan menjadi atlet yang baik, bahkan tukang kebersihan pun akan melakukan tugas sebaik-baiknya.  Apapun kita, siapapun kita, janganlah kita sampai kehilangan perasaan sebagai manusia dengan segala sifat manusia yang baik.
 
Suatu tempo di daerah Kaliurang(Sumber gambar : pribadi)

Minggu, 03 Maret 2019

Tentang Diam


Tentang Diam

"Bibir itu tidak harus merah dan tidak harus diam."


Ini bukanlah cerita tentang sesuatu atau apapun itu tapi hanyalah tentang diam. Diam yang membawa ketidaktahuan abadi atau suatu alasan kuat untuk tindakan tersebut.  Memang mudah,  pokoknya menutup mulut rapat-rapat, tidak usah bergeming untuk apapun itu, tidak usah peduli seperti orang pada umumnya, fokus pada apa itu, diam. Apalagi berkomentar. Seandainya berkomentar : berilah komentar yang beradab tapi pas. Pas secara universal saja. Tidak usah pas disesuaikan dengan selera lokal. Supaya memang ‘diam.’  Supaya tidak berbeda maknanya. Saya pikir orang akan langsung tahu, dengan gaya diam universal tersebut.  Bahkan mungkin sebagian orang akan menyebut koyo wong edan atau seperti orang gila. Itulah celutukan orang pada umumnya. Seperti suatu masa di masa lalu mengatakan cueks is the best lalu sebagian orang lalu berkata koyo wong edan atau seperti orang gila dengan tindakan kebangetan tersebut. Mungkin gila itu dikonotasikan dengan orang yang tindakannya tidak seperti orang normal pada umumnya. 

       “Semisal : ada suatu kejadian, orang normal umumnya berkomentar, terkejut, senang, marah, atau apapun itu tapi justru ada orang yang melihat tapi mereka diam ataupun terdiam.” Tapi diam ataupun terdiam itu pun sama-sama perilakunya tapi masing-masing memiliki alasan tersendiri. 

Terserah padamu, guys untuk mengartikannya. Apapun, siapapun, bagaimanapun itu, hal tersebut adalah rahasia llahi, hanya orang tersebut dan Tuhan yang tahu. Biarlah semuanya tidak terpecahkan kan menyatu dengan tanah takkala raga itu ditanam dan diambil ataupun dilepas Nya sekehendak hati Nya karena Dia lah si pembolak-balik hati manusia. 

Sebagai manusia yang masih memiliki sisa-sisa adab, kebaikan dan pemikiran seseorang untuk suatu alasan tindakan tertentu tersebut,  pastilah sebagai sesuatu hal yang sudah dipikirkan. Tidak hanya baik untuk orang lain tapi kebaikan atas orang banyak dengan pemikiran agak njlimet lan memet, rumit dan sudah dipikirkan masak-masak, ditambah dengan prediksi jauh ke  masa depan  dan juga perhitungan efek buruk (analisa dampak sekitar) akhirnya dengan hati sarat gundah juga nestapa akhirnya hanya mampu terdiam.  Diam untuk suatu alasan. Diam untuk kebaikan, mungkin. Diam untuk menghindari keluasan keburukan.  Diam untuk suatu asa. Diam untuk saat ketika bicara itu salah. Diam untuk suatu pengalaman. Bahkan diam pun hal terbaik saat murka. Karena bicara akan menambah angkara dirinya dan angkara orang lain. Tapi janganlah diam itu jadi kebiasaan abadi.  Saya pikir, itu nasihat yang sangat bijak. Karena tidak selamanya diam itu baik.

Pastinya, diamnya itu memang kalah. Biarlah dirinya kalah di dunia ini. Seandainya dia pun kalah di akhirat kelak, biar Tuhan yang membuat keputusan itu. Paling tidak ada sekelumit kebaikan untuk setiap tindakannya. Manusia bisa apa?

Bibir itu tidak harus merah dan tidak harus diam (Sumber gambar : Google)