Ayah
Lalu kusebut dia Bapak
Sudah bertahun berjalan sebutan itu masih yang terbaik
Sebutan berat namun ringan walau berteriak
Itulah Bapak
Bagi banyak orang ayah adalah
figur yang menjanjikan kenyamanan, perlindungan dan ketahanan. Hal itu terasa
wajar namun itu beban yang harus disandang dengan sebutan itu.
Semua orang juga paham, ayah
memberi pelita di saat gelap. Segelap apapun keadaan asal ada ayah semuanya
menjadi berbeda. Maka beruntunglah orang-orang yang memiliki ayah ataupun ibu.
Atau orang tua.
Tapi anehnya, terkadang karena
perannya selalu ada di sisi anak-anaknya atau keluarga terkadang peran berat
itu seakan tak terlihat. Tak berbentuk. Tidak kasat mata. Padahal mereka selalu
berperan. Mereka inilah aktor yang sesungguhnya dalam kehidupan. Sedangkan ibu
adalah aktrisnya. Bahkan pemeran aktor sejatipun akan siap sedia jika berganti
peran, toh itu hanya sementara, pikir mereka. Dia bisa menjadi ‘seperti aslinya’
lagi, selepas dari panggung.
Orang berpikir seharusnya aktor
itu menceritakan pengalaman detailnya saat di panggung ataupun di luar panggung
kepada anak-anaknya. Agar kelak dia tahu si anak tahu bagaimana dia kelak
bermain peran. Cerita itu ada, tapi seperti alur-alur yang terulang. Bukannya
tidak menarik tapi terlalu biasa. Sepertinya detail cerita saat bermain peran
ataupun di saat biasa itu bisa menakutkan anak-anaknya. Ayah tahu itu akan
menakutkan.
Saat bertanya-tanya lebih, ayah
pernah berucap. ‘Kamu itu anak kecil,’ celetukan itu sebenarnya membuat marah
anak yang makin melentik. Padahal rasa ingin tahu dan banyak tebakan
yang berkali-kali katakan hal sama. Laki-laki itu punya alasan tersendiri
bersikap demikian.
Akhirnya, rasa tanda tanya seakan
menguap seiring bertumpuknya bahkan bertubi hantaman pengalaman yang mendera. Ayah
sepertinya tahu, namun dari diamnya itu seakan tahu itulah kehidupan. Siap
tidak siap ya harus siap. ‘Kamu tidak seperti ayah, jadi harus kerja keras,’
pernah ayah bercerita. Laki-laki ini sepertinya santai saja, namun saya tahu
ayah keras saat bekerja.
Saya tahu, laki-laki itu memang
harus bekerja keras. Saya tahu ayah itu capek, tapi dia sama sekali tak pernah
mengeluh. Dia bekerja keras dengan caranya sendiri.
Tapi seiring berjalannya waktu, saya
melihat ada juga laki-laki yang tidak seperti ayahku. Berarti aku dan
keluargaku beruntung memiliki kepala keluarga seperti ayah.
Dan saat ayah tiada, seperti
antara percaya dan tidak percaya semuanya kini berbeda. Orang tuaku itu kini
sudah tidak ada lagi di depanku. Semua kenyamanan itu seakan menghilang juga
seiring lepasnya perasaan memiliki ayah. Lalu kupunguti bekas-bekas memiliki
ayah. Dulu sangat hebat dan bisa diandalkan. Terserah keluargaku atau orang
lain berkomentar tentangmu. Kau tetap ayah terhebat di hidupku. Sampai
kapanpun.
Di hari kepergianmu tepat ke-40
hari ini, saya tahu hari ini sangat menyedihkan tapi inilah bentuk ungkapan
sayangku padamu.
Bagaimanapun juga, apapun juga
itu tetaplah dirimu ayah, laki-laki terbaik di hidupku. I love you, Bapak.
