Senin, 27 Februari 2023

Ayah

 

Ayah


Lalu kusebut dia Bapak

Sudah bertahun berjalan sebutan itu masih yang terbaik

Sebutan berat namun ringan walau berteriak

Itulah Bapak

Bagi banyak orang ayah adalah figur yang menjanjikan kenyamanan, perlindungan dan ketahanan. Hal itu terasa wajar namun itu beban yang harus disandang dengan sebutan itu.

Semua orang juga paham, ayah memberi pelita di saat gelap. Segelap apapun keadaan asal ada ayah semuanya menjadi berbeda. Maka beruntunglah orang-orang yang memiliki ayah ataupun ibu. Atau orang tua.

Tapi anehnya, terkadang karena perannya selalu ada di sisi anak-anaknya atau keluarga terkadang peran berat itu seakan tak terlihat. Tak berbentuk. Tidak kasat mata. Padahal mereka selalu berperan. Mereka inilah aktor yang sesungguhnya dalam kehidupan. Sedangkan ibu adalah aktrisnya. Bahkan pemeran aktor sejatipun akan siap sedia jika berganti peran, toh itu hanya sementara, pikir mereka. Dia bisa menjadi ‘seperti aslinya’ lagi, selepas dari panggung.

Orang berpikir seharusnya aktor itu menceritakan pengalaman detailnya saat di panggung ataupun di luar panggung kepada anak-anaknya. Agar kelak dia tahu si anak tahu bagaimana dia kelak bermain peran. Cerita itu ada, tapi seperti alur-alur yang terulang. Bukannya tidak menarik tapi terlalu biasa. Sepertinya detail cerita saat bermain peran ataupun di saat biasa itu bisa menakutkan anak-anaknya. Ayah tahu itu akan menakutkan.

Saat bertanya-tanya lebih, ayah pernah berucap. ‘Kamu itu anak kecil,’ celetukan itu sebenarnya membuat marah anak yang makin melentik. Padahal rasa ingin tahu dan banyak tebakan yang berkali-kali katakan hal sama. Laki-laki itu punya alasan tersendiri bersikap demikian.

Akhirnya, rasa tanda tanya seakan menguap seiring bertumpuknya bahkan bertubi hantaman pengalaman yang mendera. Ayah sepertinya tahu, namun dari diamnya itu seakan tahu itulah kehidupan. Siap tidak siap ya harus siap. ‘Kamu tidak seperti ayah, jadi harus kerja keras,’ pernah ayah bercerita. Laki-laki ini sepertinya santai saja, namun saya tahu ayah keras saat bekerja.

Saya tahu, laki-laki itu memang harus bekerja keras. Saya tahu ayah itu capek, tapi dia sama sekali tak pernah mengeluh. Dia bekerja keras dengan caranya sendiri.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya melihat ada juga laki-laki yang tidak seperti ayahku. Berarti aku dan keluargaku beruntung memiliki kepala keluarga seperti ayah.

Dan saat ayah tiada, seperti antara percaya dan tidak percaya semuanya kini berbeda. Orang tuaku itu kini sudah tidak ada lagi di depanku. Semua kenyamanan itu seakan menghilang juga seiring lepasnya perasaan memiliki ayah. Lalu kupunguti bekas-bekas memiliki ayah. Dulu sangat hebat dan bisa diandalkan. Terserah keluargaku atau orang lain berkomentar tentangmu. Kau tetap ayah terhebat di hidupku. Sampai kapanpun.

Di hari kepergianmu tepat ke-40 hari ini, saya tahu hari ini sangat menyedihkan tapi inilah bentuk ungkapan sayangku padamu.

Bagaimanapun juga, apapun juga itu tetaplah dirimu ayah, laki-laki terbaik di hidupku. I love you, Bapak.