Kamis, 27 Juni 2013

Kebaikan untuk Kebaikan Yang lain



Berbuat Satu Kebaikan Untuk Kebaikan Yang Lain


Bahagia itu Sederhana (Sumber gambar : Google)

Hari memang akan selalu indah dan menerima seseorang secara apa adanya. Jika hari buruk bukanlah hari itu yang buruk tapi tilik saja perilaku si empunya pelaku. Hari indah seolah hari menjadi berbunga walaupun mungkin tidak dalam suasana jatuh cinta. Bahkan ketika  jerawat merah besar di pipi terlihat lewat begitu saja. Tidak terpikirkan.

Kata ajaib itulah yang akan terkata. Anggap ritual berbagi kebahagiaan sebagai bagian dari kehidupan. Itulah penggerak dari satu kebaikan yang akan menumbuhkan gerakan kebaikan di bumi ini. Semisal kita memperoleh rejeki material bagilah dengan sesama yang membutuhkan. Memang telah saya katakan ini memang bukan jaman nabi tapi perlulah kita mencontoh jaman dimana akar kebaikan menyebar dan akhirnya mendunia.

Nyata. Itulah yang akan terucap. Karena terasa di hati entah dari mana datangnya rasa bahagia itu. Dengan entengnya kita akan melalui segala kesulitan dan beratnya beban di hari itu. Hal-hal semula yang tak terpikirkan tiba-tiba menjadi begitu mudah. Entah bagaimana perputaran sesuatu itu menjadi begitu pas. Saya dulu pernah bertanya ke seorang teman, dia mengemukakan tentang teori graf yang dia katakana hubungan antar manusia bagaikan sebuah jaringan. Entahlah apa yang saya pikirkan saat ini ketika teringat teori ini dan apa hubungannya. Sebenarnya kata luar biasa tepat untuk menggambarkannya. Penggambaran hari yang indah. Berarti. Lancar. Serasa berarti. Hal-hal yang menyehatkan jiwa.

Kebaikan merasakan impack kebaikan juga secara instan. Itu tentu indah. Tapi bukan hal aneh juga seseorang melakukan kebaikan menerima reaksi biasa bahkan reaksi yang tidak terharapkan. Orang itu tentu akan kecewa bahkan mungkin terpukul. Jadi dapat disimpulkan hal yang utama berbuat baik itu ya lakukan saja dan lepaskan. Ikhlaskan semuanya entah kebaikan itu akan membawa kebaikan, bahkan mungkin dibiarkan seolah melayang-layang di udara. Biarlah Sang Penguasa Dunia dan Semesta ini membalasnya. Karena Tuhan akan tersenyum dengan satu kebaikan yang kita lakukan hari ini.

Rabu, 19 Juni 2013

Harapan



HARAPAN

Selamat datang harapan (Sumber gambar : Google)
  
“Harapan itu indah karena belum terjadi.”
Tepat sekali kiranya Tuhan telah mengatakan banyak harapan untuk para umat manusia. Menciptakannya juga di masing-masing hati. Tanpa kecuali. Kecuali orang itu menutupnya dan bersikap munafik. Itulah indahnya hidup karena kita memiliki harapan.

Harapan itu kan selalu indah, seindah sesuatu yang kontras ditengah sesuatu yang monoton. Terus hidupkan harapan karena hidup seseorang itu tak selalu baik. ‘Alam’ tak selalu baik hati pada kita.  Mungkin kita akan dibentur-benturkan hidup tapi percayalah pada harapan yang kau genggam.

Tak munafik mungkin seseorang putus harapan karena berulang kali gagal dan berulang kali jatuh tapi itulah indahnya kita menaruh harapan kita di langit. Kita harapkan harapan itu jatuh dan mendapatkan diri kita. Rasa susah payah akan sirna, luka-luka jatuh-bangun kita akan lenyap dan kan memiliki hari baru.

Hari baru dimana kita memulai hari dengan hati ringan, walaupun kita mungkin lembek namun kita memiliki semangat untuk memasuki babak baru dari awal keberhasilan. Walaupun celah itu demikian kecil. Tersenyumlah.

Anak sekolah itu memiliki harapan kenapa sekolah, mereka akan menjawab supaya pintar. Kenapa mereka menekuni hobi yang mereka jawab dengan begitu ringan karena suka. Seseorang bertanya kenapa kau menikahinya, lalu dijawab karena cinta. Kenapa kau bertanya? tanya seseorang. Kemudian dia menjawab karena belum tahu. Betapa sederhananya muasal harapan.

Lihat betapa gampangnya membuat harapan dan sim salabim maka terjadilah. Seandainya seeorang disayang Tuhan maka Kun Fayakun maka terjadilah. Ha ha ha gampang ya! Supaya seseorang selalu bersikap positif maka bersikap positif-lah pada harapan.

Minggu, 09 Juni 2013

Menunda Urusan



Menunda Urusan

Bukan Tukang Perubah Waktu (Sumber gambar : Google)

Jangan menunda urusan. Pastilah itulah kata-kata yang bijak dikatakan kapanpun, untuk apapun dan dimanapun situasinya. Hal itu sudah menjadi kebijakan sejak jaman dahulu kala.

Tepat sekali kata-kata itu untuk siapapun dan itulah kesimpulan yang saya dapat dari kejadian yang saya alami.

Tadi malam saya berencana untuk menjahitkan kain yang saya miliki. Saya teringat penjahit langganan saya, dan beliau favorit saya. Saya suka sekali dengan jahitan ibu itu. Saya sms saya tanyakan tinggal dimana sekarang karena kebetulan saya sudah lama sekali tidak menghubunginya dan mendengar juga kalau sudah pindah tempat tinggal. Ternyata ibu itu untuk sementara tidak sedang menerima jahitan karena akan mengunjungi kota lain yang jauh di mata selama tiga bulan. Betapa kecewanya saya karena sebetulnya  saya ingin menjahitkan kain itu sudah berbulan-bulan yang lalu dan tidak melakukannya.

Oh, saya baru bisa menjahitkan tiga bulan lagi ternyata. Betapa tidak enaknya menunda-nunda urusan karena urusan itu akan tertunda-tunda lagi bahkan mungkin kita menjadi lupa bahkan kemungkinan menjadi gagal.

Menjahitkan ke penjahit lain? Mungkin kata celutukan. Ya, itu soal selera dan penghargaan kita atas karya seseorang. Kadang kita terlalu apresiasif terhadap karya seseorang dan ‘kurang’ merasa cocok dengan karya orang yang lain.

Bagaimana dengan pendapat Anda? Apakah Anda satu pendapat dengan saya?