Capek Memperburuk Suasana
Itulah yang akan terjadi, bahkan
emosi bisa-bisa sampai ke ubun-ubun. Sebetulnya hal remeh tapi karena suatu
keadaan tak sesuai dengan ‘yang seharusnya’ maka jadilah. Dalam kondisi segar
hal tersebut bukanlah apa-apa.
“Harusnya tadi bantu saya, saya pontang-panting
ke sana kemari!” serunya menggelegar dengan suara yang tak mengenakkan hati.
Seketika itu terdengar suara lain membela diri, “Aku tadi sedang ini itu…”Seolah-olah
ingin menghiba dan dimaafkan.
Wuih, peduli setan mau robek
tenggorokanmu memangnya aku peduli pada yang kau omongkan, pikir yang lain.
Memangnya hanya kau sendiri yang pernah mengalami seperti itu? Yang pernah
mengalami saja dulu tidak bertingkah polah seperti si suara menggelegar itu.
Hanya dijalani saja. Tidak sampai seheboh si buruk suara. Tak tahu dia tambahan
reputasinya, pikir si pikir. Tapi anehnya suaranya terdengar bagaikan angin
dingin pegunungan. Apakah ini indera yang salah, tumpukan ke-jenuhan atau bertumbuhnya kekuatan
mental?
![]() |
| Sumber gambar: Google |
Seharusnya sebaik-baiknya dunia
itu dihuni orang-orang baik saja hingga keadaan tentram dan damai. Si buruk
suara macam itu seharusnya dilempar ke luar angkasa supaya tinggal bersama
aliens.
(Berbicara tentang aliens, saya
teringat pembicaraan tempo hari yang berputar masalah ginjal, traveling dan
aliens. Sungguh menggelikan)
