Rabu, 19 November 2014

Capek Memperburuk Suasana



Capek Memperburuk Suasana

 
Sumber gambar : Google
Itulah yang akan terjadi, bahkan emosi bisa-bisa sampai ke ubun-ubun. Sebetulnya hal remeh tapi karena suatu keadaan tak sesuai dengan ‘yang seharusnya’ maka jadilah. Dalam kondisi segar hal tersebut bukanlah apa-apa.

“Harusnya tadi bantu saya, saya pontang-panting ke sana kemari!” serunya menggelegar dengan suara yang tak mengenakkan hati. Seketika itu terdengar suara lain membela diri, “Aku tadi sedang ini itu…”Seolah-olah ingin menghiba dan dimaafkan.

Wuih, peduli setan mau robek tenggorokanmu memangnya aku peduli pada yang kau omongkan, pikir yang lain. Memangnya hanya kau sendiri yang pernah mengalami seperti itu? Yang pernah mengalami saja dulu tidak bertingkah polah seperti si suara menggelegar itu. Hanya dijalani saja. Tidak sampai seheboh si buruk suara. Tak tahu dia tambahan reputasinya, pikir si pikir. Tapi anehnya suaranya terdengar bagaikan angin dingin pegunungan. Apakah ini indera yang salah,  tumpukan ke-jenuhan atau bertumbuhnya kekuatan mental?

Sumber gambar: Google

Seharusnya sebaik-baiknya dunia itu dihuni orang-orang baik saja hingga keadaan tentram dan damai. Si buruk suara macam itu seharusnya dilempar ke luar angkasa supaya tinggal bersama aliens.
(Berbicara tentang aliens, saya teringat pembicaraan tempo hari yang berputar masalah ginjal, traveling dan aliens. Sungguh menggelikan)