Sabtu, 19 Januari 2019

Remah-remah Yang Tak Berguna


Remah-remah Yang Tidak Berguna

Sunsets are proof that no matter what happens, everyday can end beautifully” ---chrisellelim.

Sebagai orang yang tahunya jalani terus hidup ini, tentu akan ‘sulit’ dan ‘agak lemot’ untuk melihat segala sesuatunya. Bahkan untuk mempercayai hal yang yang nyata,  mungkin orang ini antara percaya dan tidak percaya. Mungkin di batas, kok hal seperti itu ada ya, lalu berpikir ternyata hal itu ada, sambil hati bergidik sendiri atas hal tersebut. (Kok, ada ya orang seperti ini. Harusnya orang itu realistis, percaya pada mata dan inderanya. Benar-benar orang ini. Kok lurus sekali).

Mungkin dalam kehidupan ini, pernah melihat atau mengalami suatu rundungan malapetaka yang menimpa seseorang. Sebagai seseorang yang mengenalnya, ada beberapa latar kenapa dia sampai terkena kesedihan tersebut. Miris sekali. Tapi ketika dia suatu ketika curhat dan bercerita tentang kesedihannya yang seakan malapetaka itu sekedar hal yang menghampirinya, pastinya akan pandangan beberapa orang yang menunduk sambil dalam hatinya celamutan dan seakan hati tak berdaya. Ternyata tamparan yang keras pun tak membuatnya sadar bahwa dia punya andil untuk semuanya. Orang yang mendengar bahkan ingin rasanya menangis histeris. (Ternyata sulit ya menjadi orang yang mau menyiangi  kutu sendiri).

Dalam agama saya  memang tak mengenal hukum karma di dunia ini. Tapi akal manusia sendiri yang menghubung-hubungkan semuanya. Bahkan serasa pembalasan atas perbuatan seseorang memang ada. Ya, tapi  tidak tahulah saya.

Mungkin yang lebih baik itu berjalan seperti memakai kacamata kuda. Ya, lurus terus tidak berbelok-belok. Bahkan mungkin orang merasakan semakin dia melihat dan merasakan dunia, ternyata semuanya jadi serba berserabut seperti kabel optik yang diuwel-uwel tangan anak kecil jahil tidak hanya satu anak tapi sepuluh anak. Bisa dibayangkan bukan, bentukan kabel tersebut.

Ingin. Berlari telanjang kaki di semua waktu tak peduli itu panas terik, hujan, berdebu, berkabut, saat panen, paceklik, berduka, hajatan, acara, apapun. Karena pas, bukan apa-apa. Saat semuanya tanpa beban dan tak terasa  aneh. Kita riang mereka pun riang. Seandainya bertengkar hanya saat itu saja, dan tak berdendam. Mereka tak mengenal apa itu invisible hand. Yang hanya menyengsarakan semua pihak. Itu mungkin memang sekedar impian di musim ini. (Lebih baik tak usahlah mengeluh, berjalanlah sebisamu. Karena matahari tenggelam itu adalah bukti bahwa entah sedih, getir, duka, senang akan selalu membawa suatu  keindahan. Itu perkataan fluencer mode dunia, Chrisellelim. Semoga). Seandainya kata-kata itu menyublim ke angkasa paling tidak itulah impian terbesarnya sampai ditemukannya senja itu lalu dia pun menghilang.
Kutak tak apa terkena hujan, tapi aku takut aku kedinginan (Sumber gambar :Google)