Remah-remah Yang Tidak Berguna
“Sunsets are proof that no matter what happens, everyday can end beautifully”
---chrisellelim.
Sebagai orang yang tahunya jalani
terus hidup ini, tentu akan ‘sulit’ dan ‘agak lemot’ untuk melihat segala sesuatunya. Bahkan untuk mempercayai
hal yang yang nyata, mungkin orang ini antara percaya dan tidak percaya.
Mungkin di batas, kok hal seperti itu
ada ya, lalu berpikir ternyata hal itu ada, sambil hati bergidik sendiri atas
hal tersebut. (Kok, ada ya orang
seperti ini. Harusnya orang itu realistis, percaya pada mata dan inderanya. Benar-benar
orang ini. Kok lurus sekali).
Mungkin dalam kehidupan ini,
pernah melihat atau mengalami suatu rundungan malapetaka yang menimpa
seseorang. Sebagai seseorang yang mengenalnya, ada beberapa latar kenapa dia
sampai terkena kesedihan tersebut. Miris sekali. Tapi ketika dia suatu ketika
curhat dan bercerita tentang kesedihannya yang seakan malapetaka itu sekedar
hal yang menghampirinya, pastinya akan pandangan beberapa orang yang menunduk
sambil dalam hatinya celamutan dan seakan hati tak berdaya. Ternyata tamparan
yang keras pun tak membuatnya sadar bahwa dia punya andil untuk semuanya. Orang
yang mendengar bahkan ingin rasanya menangis histeris. (Ternyata sulit ya menjadi
orang yang mau menyiangi kutu sendiri).
Dalam agama saya memang tak mengenal hukum karma di dunia ini.
Tapi akal manusia sendiri yang menghubung-hubungkan semuanya. Bahkan serasa
pembalasan atas perbuatan seseorang memang ada. Ya, tapi tidak tahulah saya.
Mungkin yang lebih baik itu
berjalan seperti memakai kacamata kuda. Ya, lurus terus tidak berbelok-belok.
Bahkan mungkin orang merasakan semakin dia melihat dan merasakan dunia,
ternyata semuanya jadi serba berserabut seperti kabel optik yang diuwel-uwel
tangan anak kecil jahil tidak hanya satu anak tapi sepuluh anak. Bisa
dibayangkan bukan, bentukan kabel tersebut.
Ingin. Berlari telanjang kaki di
semua waktu tak peduli itu panas terik, hujan, berdebu, berkabut, saat panen,
paceklik, berduka, hajatan, acara, apapun. Karena pas, bukan apa-apa. Saat
semuanya tanpa beban dan tak terasa aneh. Kita riang mereka pun riang. Seandainya
bertengkar hanya saat itu saja, dan tak berdendam. Mereka tak mengenal apa itu invisible hand. Yang hanya
menyengsarakan semua pihak. Itu mungkin memang sekedar impian di musim ini. (Lebih
baik tak usahlah mengeluh, berjalanlah sebisamu. Karena matahari tenggelam itu
adalah bukti bahwa entah sedih, getir, duka, senang akan selalu membawa suatu keindahan. Itu perkataan fluencer mode dunia,
Chrisellelim. Semoga). Seandainya kata-kata itu menyublim ke angkasa paling
tidak itulah impian terbesarnya sampai ditemukannya senja itu lalu dia pun
menghilang.
![]() |
| Kutak tak apa terkena hujan, tapi aku takut aku kedinginan (Sumber gambar :Google) |
