Apalah Jadinya Jika…
![]() |
| ...bila musim berganti. Sampai waktu terhenti. Walau dunia membenci. Ku kan tetap di sini...(Sumber gambar : Google) |
“Alangkah bahagianya jika seseorang punya kendali atau
kontrol dalam hidup. Alangkah menyenangkannya dan menenangkannya. Dan alangkah bahagianya bisa hidup menjadi
seorang bocah yang bisa mengawali dan mengakhiri harinya spontanitas. Tanpa
rencana.”
Bisa mengontrol atau memegang kendali dalam hidup begitu
menyenangkan dan menenangkan. Lain halnya jika semuanya tak terkontrol, kau
seakan-akan akan dibuat carut marut dan bagai daun yang tidak tahu kenapa
sampai dia jatuh lalu terbuang dan seakan-akan dia sampah. Lain hal nya jika
daun itu sama-sama ada tapi dia tahu apa yang dia mau seandainya dia hanya jadi
kompos dan membusuk di bumi. Kalau memang keadaan menuntunnya demikian kenapa
tidak? Penggambaran yang sama-sama tragis bukan?
Memang semua hal yang fana di dunia ini akan bermuara di dunia
yang penuh bakteri dan mikroba. Tapi tentu wow kalau sebelum menemui fase itu
paling tidak kita bahagia dengan apa yang dilakukan. Tapi apa jadinya ketika
di suatu detik dan kelanjutannya kontrol atas diri seolah hilang. Perasaan tak
menentu dan seakan-akan akan dimasukinya sebuah gerbang gelap yang tak ada
cahayanya sama sekali. Apalagi jika diri tak punya bekal sepotong benda apapun
yang dapat menyertainya. Hal ini tentu menakutkan bahkan mungkin petualang sejati
sekalipun karena bagaimanapun petualang pasti memiliki bekal sepotong alat atau
apapun itu yang bisa membantunya mengatasi apapun itu.
Tapi baiklah. Saya tak akan berusaha menghibur hati pembaca
semuanya. Saya hanya akan mengulang romantisme kata-kata ‘Alangkah bahagianya
jika seseorang punya kendali atau kontrol dalam hidup. Alangkah menyenangkannya
dan menenangkannya. Dan alangkah
bahagianya bisa hidup menjadi seorang bocah yang bisa mengawali dan mengakhiri ‘harinya’
spontanitas. Tanpa rencana.’
