Selasa, 28 Februari 2017

Apalah jadinya jika...



Apalah Jadinya Jika…

...bila musim berganti. Sampai waktu terhenti. Walau dunia membenci. Ku kan tetap di sini...(Sumber gambar : Google)

“Alangkah bahagianya jika seseorang punya kendali atau kontrol dalam hidup. Alangkah menyenangkannya dan menenangkannya.  Dan alangkah bahagianya bisa hidup menjadi seorang bocah yang bisa mengawali dan mengakhiri harinya spontanitas. Tanpa rencana.”

Bisa mengontrol atau memegang kendali dalam hidup begitu menyenangkan dan menenangkan. Lain halnya jika semuanya tak terkontrol, kau seakan-akan akan dibuat carut marut dan bagai daun yang tidak tahu kenapa sampai dia jatuh lalu terbuang dan seakan-akan dia sampah. Lain hal nya jika daun itu sama-sama ada tapi dia tahu apa yang dia mau seandainya dia hanya jadi kompos dan membusuk di bumi. Kalau memang keadaan menuntunnya demikian kenapa tidak? Penggambaran yang sama-sama tragis bukan?

Memang semua hal yang fana di dunia ini akan bermuara di dunia yang penuh bakteri dan mikroba. Tapi tentu wow kalau sebelum menemui fase itu paling tidak kita bahagia dengan apa yang dilakukan. Tapi apa jadinya ketika di suatu detik dan kelanjutannya kontrol atas diri seolah hilang. Perasaan tak menentu dan seakan-akan akan dimasukinya sebuah gerbang gelap yang tak ada cahayanya sama sekali. Apalagi jika diri tak punya bekal sepotong benda apapun yang dapat menyertainya. Hal ini tentu menakutkan bahkan mungkin petualang sejati sekalipun karena bagaimanapun petualang pasti memiliki bekal sepotong alat atau apapun itu yang bisa membantunya mengatasi apapun itu.

Tapi baiklah. Saya tak akan berusaha menghibur hati pembaca semuanya. Saya hanya akan mengulang romantisme kata-kata ‘Alangkah bahagianya jika seseorang punya kendali atau kontrol dalam hidup. Alangkah menyenangkannya dan menenangkannya.  Dan alangkah bahagianya bisa hidup menjadi seorang bocah yang bisa mengawali dan mengakhiri ‘harinya’ spontanitas. Tanpa rencana.’