Selasa, 07 Januari 2020

Waktu Diam Sejenak


Waktu Diam Sejenak

Hai teman-teman!
Sebetulnya saya, berencana akan lama membiarkan lama blog saya ini beristirahat. Tapi akhirnya tulisan ini akhirnya dikerek. Mungkin karena saya rindu untuk didengarkan. Atau karena saya menikmati tiap detik saat saat membuat alinea. Ya, begitulah.

Tulisan ini ada, sebetulnya bermula dari hati saya sebagai seorang sahabat. Saya memang mengenal dia belum lama, tapi saya sebenarnya sebagai orang yang memahami dia, langsung manggut-manggut dan berujar ‘Hai, Dunia. Mengapa berkali-kali, ketidaktahuan selalu saja menjerumuskan. Agak tahu pun itu menusuk hati.  Tahu pun kemungkinan akan dikelabuhi orang.
Dia memang bukan adik saya, ataupun saudara saya, tapi saya memahami apa yang dirasakannya. Jangan tertawa, teman,.. ini bukan lelucon. Tapi, kok, saya yang sewot, dia saja terlihat baik-baik saja. Ya, begitulah, dunia. Penuh dengan drama. Mungkin tanpa rasa itu yang terbaik. (Mengangkat bahu).

Semua pada akhirnya terputuskan, jadi  pikirkan dulu apapun itu yang akan dilakukan. Jangan ikuti doktrin, petuah-petuah yang dirimu pun merasa itu kurang pas walaupun sebenarnya tepat, (lho!) jadi jujurlah dengan hatimu. Simulasikan dalam bayanganmu dulu,  keputusan itu dengan sealamiah dan lepaskan dulu dirimu sejenak. Karena disinilah timbangan kuat-tidaknya kamu melakoni keputusan itu kelak. Diumpamakan dalam memilih sepatu pastinya sepatumu, beda dengan sepatu mereka. Karena kau terbiasa jalan di mall maka memilih sepatu boot plastik petani tentunya tidak pas. Janganlah terlupa meminta pendapat teman dekatmu. Yang terpercaya tentunya. Mereka terkadang lebih tahu bahkan dari dirimu.  Pikirkan sejernih mungkin. Mintalah juga petunjuk Yang Maha Kuasa. Mungkin  keputusanmu itu agak anti mainstream ( berbeda) dari keluarga, lingkungan, lingkaran pertemananmu, keluarga besar, kenalan, tapi dalam hidup, kau sendiri yang melakoni hidupmu bukan orang lain. Dan ternyata dia (sahabatku) tidak seperti perkiraan banyak orang. Dan saya jadi pilu. Ya, akhirnya saya mengaku. Memang tidak semua orang berani lakukan ini. Mungkin..hanya orang-orang punya nyali, keberanian, kenekatan dan tidak punya pilihan lain yang berani lakukan itu. Dan yang terakhir, tetaplah menjunjung tinggi langit tempatmu bernaung dan tetaplah berpijak di tanah tempatmu berdiri. Atau lebih tepatnya siapapun kau, dirimu tetap bagian dari manusia bumi dan tetaplah untuk merasa sebagai manusia bumi. Kita itu bukan manusia langit. Kita pasti punya salah. Tapi kita pun memiliki Tuhan. 

Ternyata saran ini sudah tidak berguna untuk  sahabat itu, pastinya itu  hal yang dia pilih dan dirasa yang terbaik. Seluruh alam, seluruh barisan teman, para pengiring tentu hanya bisa mendukungmu. Dan .. semoga bacaan ini berguna untuk kalian, para pembaca blog saya. Tulisan ini spesial untuk kalian semua.

Memang saat ini tepat sebagai waktu untuk diam sejenak. Diam dan rasakan.