Sisa Hidup Yang Bahagia
Selepas seseorang menjadi manusia
yang beradab pada Tuhan, dalam arti melaksanakan perintahnya dan menjauhi
segala larangannya dan berusaha menjadi baik dan beradab maka orang harus sadar
juga kalau dia hidup di alam kini. Dia telah diberi Tuhan jatah umur entah
sampai kapan dia akan menjalaninya. Orang hanya berharap selamanya dia akan
sehat dan sejahtera.
Kalau berbicara masalah usia,
saat ini seseorang masih memiliki sisa
umur yang masih harus dijalani. Alangkah bahagianya kalau hidup seseorang itu
sudah lengkap dan telah menjalani kehidupannya secara membahagiakan. Tapi
seandainya tak seberuntung itu tak harus
hidup itu dilalui dengan menggerutu dan merasa menjadi manusia tak beruntung.
Semua manusia itu beruntung telah diberi
Tuhan dengan kehidupan yang lengkap. Lihatlah alam betapa berwarnanya, warna
pemikiran, pengalaman baru dan memiliki harapan. Dan masih banyak lagi.
Untuk itu sadarkan seseorang
harus berkomitment dan sadar sekali atas harapannya. Keinginan mendasarnya. Dan
agar dia menyadari benar dan tidak munafik terhadap dirinya. Akan terdapat beda
keinginan dan harapan antara satu orang dengan yang lain. Sadari sekali itulah
yang diinginkannya. Jangan lukai diri
sendiri dengan hal-hal yang dipaksakan terhadap diri. Mungkin pada awalnya itu
menyenangkan karena akhirnya bisa sama dengan yang lain tapi hal tersebut
sebenarnya melukai dirinya sendiri. Karena orang memang tak sama. Diri sendiri
akan beda dengan yang lain. Hidup orang pun akan beda dengan yang lain. Jangan paksakan hal yang memang tak sesuai
dengan hati. Hal tersebut justru akan menyiksa jiwa dan raganya. Bukan bahagia
yang didapat justru kesengsaraan. Karena terkadang seseorang melupakan kata
hatinya. Hatinya sudah mengatakan ‘tidak’ tapi justru tak didengar.
Dan supaya hati seseorang selalu
benar tak lupa untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Hidup akan terasa berisi
dengan kekuatan dari anugerah yang diberikan, sampai waktu terakhir yang
diberikan Nya.