Family Sweet Family
“Keluarga
itu bukan apa-apa. Tapi saat jauh kau rasakan rindu. Saat dekat terasa bau.” –Family sweet fam
Di kesunyian perasaan itu demikian berat. Ayah, ibu, saudara, anak dan kakek-nenek. Itulah keluarga. Mungkin tak semua orang bisa merasakan bagaimana seharusnya rasa sebuah keluarga yang seharusnya. Selalu masih ada kurang. Kurang hangat, kurang harmonis, kurang sejahtera, kurang harta. Memang sulit, hidup di zaman sekarang. Keluarga tetangga memiliki ‘itu’ sedangkan hanya memiliki ‘ini’. Timbullah nelangsa. Padahal kalau dipikir-pikir orang lain (tetangga-tetangga) tidak tahu kalau si empunya harus bekerja 20 jam sehari untuk memiliki itu. Bahkan mungkin harus menjual warisan yang terkena proyek besar yang justru mematikan sumber pendapatan lainnya. Bahkan orang lain pun tak tahu kalau itu uang yang ditemukan di tempat sepi yang tak mengerti bagaimana nasib yang menemukannya. Orang memang selalu memandang yang serba indah, tak menahu tentang nelangsa, pengorbanan dan kerja si empu.
Justru saat semua dirasa kosong, ternyata dari relung-relung hati terdalam, keluargalah satu-satunya pendukung. Keluargalah satu-satunya yang tega apapun itu keadaan kita agar bisa duduk kembali. Bahkan itulah alasan berarti karena ada bintang-bintang kecil di mata mereka. Walaupun mungkin hanya sebaris kecil dan itu pun sayup. Tak apa lah. Mungkin itulah alasan menjadi berarti. Mendapat bintang walau kecil.
Walaupun sebenarnya jauh lebih indah bintang kejora, yang begitu jauh mata memandang tetap indah penuh pesona.
Saat jatuh dan tersungkur, keluargalah yang membantu agar biasa berdiri lagi. Orang-orang itu hanya melihat dari jauh, bahkan hanya melewati, bahkan menghampiri untuk melihat bahkan menertawakan. Bahkan mungkin ada yang tega mengatakan, ‘Kasihan ya, kamu, tidak ada keluarga yang mampu menolongmu!’. Rasa kaget mungkin mengena, tapi justru jadi sadar sesadar-sadarnya seandainya orang lain itu kelihatan baik itu mungkin hanyalah bagian dari etika dalam pergaulan. Keluargalah yang benar-benar merawatmu.
Bahkan jika orang lain inginkan kamu hancur, keluargalah yang melindungimu dengan cara mereka. Merekalah benteng hidupmu.
Tapi, keluarga pun menjadi pihak yang seolah bertanggung jawab dan terkadang terasa bau pesing. Dan terkadang terlihat sangat kuno tidak wangi seperti orang-orang lain. Karena sebenarnya wangi itu hanya milik akar wangi. Dan kita melihat orang –orang lain itu akar wangi. Padahal terkadang mereka itu tidak lebih wangi dari bau pesing itu.
Keluargaku, walaupun rasa anyir pesing itu terbaui tapi saya rasa aku pun sebau kalian. Orang-orang lain itu memang wangi. Tapi aku tetap menyayangi kalian.(71020)
