Minggu, 10 Desember 2023

Diam-Diam, Banyak Hal Mengejutkan di Tumpukan Pasir Halus

 

Gula-Gula yang Manis (freepik via freepik)

Secara, setelah hari-hari kemarin akhirnya yang tertinggal mungkin hanyalah suatu hal yang sederhana : lakukan saja apa yang kau ingin.

Sebenarnya akhirnya tak ada hal yang menarik lagi, selain kita seolah menepi dan lakukan saja yang terbaik. Tak hebat tak apa, asal di situlah letak rasa kepuasan dan kebahagiaan.

Ada hal sebenarnya jauh dalam hati saya membuat terdiam. Bukan karena itu hebat, menakjubkan, fantastis bahkan booming. Tapi itu sebenarnya tak perlu ‘perayaan’ ataupun ‘sanjung puji’. Karena itu sudah terlalu biasa di dunia sebenarnya manis menurut mereka.

Mungkin, mereka yang merayakan itu tak tahu, sebenarnya keadaan tak semanis pikiran mereka. Jauh lebih mengerikan, ditekanpun kamu masih harus tetap terseyum seolah tak mengapa, diragukan kemampuanmu hanya karena tidak perlente dan tidak glamour, bahkan dijatuhkan dan dihancurkan oleh keluarga ‘sangat terdekat’ tanpa merasa salah sama sekali. Ini tentu jarang bahkan tak mereka temui.

Bahkan kau selamanya akan dihantui oleh mimpi buruk yang tak kau ketahui dari mana. Mungkin inilah bunga tidur yang serupa anggrek hitam yang mahal itu. Tapi tidak, kalian lebih beruntung.

Karena itu serupa lelehan gula manis dari sebuah buah jeruk sunkish tapi sebenarnya itu jeruk nipis. Dan bahagialah, lelehan gula manis itu memang manis.

Memang menarik menjadi sama dengan suatu kelompok dari sebuah kelompok besar pertemanan, tentu bahagianya luar biasa. Saya juga pernah mengalami kelompok pertemanan yang hebat tersebut. Walaupun  tentu berbeda visi misi dengan kalian. Mereka lebih hebat.

Tanpa disadari seiring waktu, saya mengerti lebih baik tiada sanjung puji dan indahnya kelompok besar pertemanan yang luar biasa dan saling dukung, karena itu tidak membuat merasakan getirnya rasa asli dari kehidupan ini. Karena rasa pahit, getir, hambar, tanpa rasa itu lebih baik diterima seseorang, agar kelak jika suatu saat dia menerima sebutir gula batu sebesar biji jeruk dia sudah cukup merasakan manis. Tak perlu banyak, itu sudah cukup.

Saat ini, secangkir teh pahit tanpa gula samasekali rasanya terkadang lebih nikmat sembari melihat keluar melalui jendela kaca yang saya buat buram. Agar itu mengajari saya, hidup ini tak seindah mimpi putri-pangeran saat kecil dulu.

Tak mengapa, tapi justru saya bahagia akhirnya diusia yang mungkin belum terlalu tua (saya pikir begitu), saya mengerti arti kehidupan yang sebenarnya. Tak mengapa orang-orang atau teman-teman  yang lain,  masih terus berpikir tentang indahnya cerita putri-pangeran yang mereka angankan dan impikan hingga saat ini.

Dilema memang bisa menjadi indah terkadang, tapi lebih nikmat secangkir teh pahit ataupun kopi pahit.

Kamis, 09 Maret 2023

Ada Di Mana Cita-Citaku?

 

Ada Di Mana Cita-Citaku?

‘Menarik memang menjadi anak muda itu’. 


Sepasang kucing muda bercanda (pixabay.Guvo59)

Yang pernah saya lakukan adalah memiliki cita-cita. Sayapun pernah memiliki berganti-ganti cita-cita. Sepertinya seperti itu. Tapi yang memberi kemantapan di hati, benar-benar mantap nian adalah sewaktu ada di sekolah menengah pertama.

Karena sepertinya detak kehidupan saya bermula di sekolah menengah awal ini. Bahkan sobat baik saya, entah dapat ide dari mana menyodorkan biodata kosong kepada teman-teman sekelas di sebuah buku separuh buku tulis hard cover yang wangi sekali. Saya mendapat tempat beberapa lembar setelah depan.

‘Diisi di rumah saja,’ pesannya. Karena saya bengong mau nulis apa terlebih ucapan saya. ‘Cita-cita? Apa cita-cita,’ ucap saya bersungut-sungut.

‘Makanya nanti semalam pikir dulu cita-citanya apa. Maka dari itu bawa pulang saja,’ ucapnya terkekeh-kekeh.

Kalau dipikir-pikir saya itu bohong bilang begitu ke dia, karena saya sudah punya cita-cita itu agak lama. Saya selalu terpesona dengan barang-barang indah, penuh pesona dan memukau. Maksudnya membuat mata saya jadi silau. Yang ada di majalah yang bergambar bagus, di koran akhir pekan.

Saya justru berpikir, darimana teman saya  mendapat ide menyatukan biodata teman-teman satu kelas lebih. Karena buku bio ini lumayan tebal.

Maka saya tulisan cita-citaku, dengan ejaan bahasa Inggris. Entah maksud saya apa kenapa tidak pakai pengejaan bahasa Indonesia saja.

Bahkan sayapun masuk ke ekstra kurikuler yang senafas dengan cita-cita saya tersebut. Usaha yang luar biasa bukan?

Bahkan setelah lulus SMP, saya ingin masuk sekolah menengah kejuruan yang senafas dengan impian saya. Tapi orang tua, terutama Bapak saya tidak mengizinkannya, dengan alasan sekolah kejuruan itu berada di kota lain, sementara saya masih anak kecil. Saya sempat merajuk, tapi Bapak tak peduli. Bahkan menawari sekolah kejuruan di kota kami kalau saya tertarik, tapi saya tolak. Akhirnya dengan ganjalan seberat batu kali yang besar, saya masuk sekolah memengah atas di daerah kami, dengan setengah hati.

Yah, Bapak, seandainya saja diperbolehkan masuk sekolah kejuruan impian itu tentu bisa menyala jiwa saya sejak kecil dulu.

Memang begitulah hidup, tapi tidak semua orang itu tidak seperti saya. Bahkan saat lulus sekolah menengah atas sempat berencana masuk semacam sekolah tinggi yang masih sejalan dengan cita-cita dulu. Tapi, begitulah, belum rejekinya. Pamflet sekolah D1, D3 beterbangan datang setiap hari. Tapi saya justru membuat saya patah hati. Karena biaya kuliahnya sangat di luar nalar saya.

Pernah saya dengar orang bilang, ‘Cita-cita itu hanya milik orang kaya.’ Katanya dengan meyakinkan. Kalau saya, lebih baik berdamai saja. Tidak membenci cita-cita, tapi justru yang menggerakkan orang untuk bergerak maju  ke depan itulah cita-cita. Entah impian tersebut bisa terwujud atau tidak, paling tidak, nyala muda yang berkibar-kibar itu menyenangkan.

Maka, hingga hari ini merasa senang jika melihat anak-anak muda yang bersemangat dengan hidupnya. Melihat nyala semangatnya saja saya sudah merasa senang. Karena anak muda memang harus seperti itu. Itulah  semangat muda.  

Seandainya saja semua bisa diulang kembali, seperti halnya mengedit video yang bisa diubah-ubah letaknya. Untuk mengobati rasa kecewa saya, akhirnya saya sempat-sempatkan dan mengumpulkan setiap rupiah untuk mengambil sebuah kursus singkat yang sebenarnya hanya secuil kecil dari perwujudan cita-cita saya dulu. Tapi lumayanlah, pikir saya.

Menarik memang menjadi anak muda itu.  

Kamis, 02 Maret 2023

Keputusan Pergi dan Sebuah Konsekuensi

 

Keputusan Pergi dan Sebuah Konsekuensi

'Kalau sudah berniat pergi dari rumah, kembalilah sesekali ke rumah saja'


Hitam putih masa lalu (pixabay.com/Pasja1000)

Ini benar adanya dan sangat disarankan oleh banyak praktisi. Praktisi? Iya, praktisi keseharian. Itu bisa berlaku untuk anak yang mencari penghidupan dan pekerjaan bahkan bisa pula diterapkan oleh anak yang berniat bersekolah di luar kota atau di tempat yang baru. Itu selorohan, sepertinya tidak. Sudah beberapa orang yang memegang prinsip ini.

Begitulah alur kehidupan. Tak ada yang bisa menebak ke arah mana alur kehidupan seseorang. Tak pandang bulu apa jenis kelaminnya, usia, kecenderungan, kedewasaanya bahkan perwatakannya. Saat sebuah keputusan sudah diambil maka, ada beberapa konsekuensi dari sebuah keputusan tersebut. Bolehlah dapat dikatakan, banyak hal yang baru dan indah terutama banyak pengalaman dan teman baru namun dibalik keputusan itu hendaklah dipikirkan masak-masak. Terutama ini ditujukan untuk seseorang yang memutuskan bekerja di luar kota atau di suatu tempat lain hingga harus mengatakan selamat tinggal ke rumah.

Ketika seseorang itu mulai meninggalkan rumah maka tuntutan untuk sebuah jiwa ksatria harus seketika dimilikinya. Katakanlah dia sudah mencari tempat tinggal baru, pekerjaan yang sudah diperolehnya ataupun baru akan dicarinya, berupaya untuk bisa bertahan hidup, mengerahan kemampuan fisik dan psikisnya, berupaya agar selamat dari apapun itu marabahaya. Tentu saja, itu terlihat hebat sekali. Seandainya dibuat sebuah drama beberapa menit kejadian ini akan diiringi dengan tepukan berdiri dengan aneka kertas warna-warni yang ditebarkan bahkan jika memungkinkan suara teropet mirip penanda tahun berganti.

Mungkin diperlakukan seperti itu, timbul rasa malu tapi tak semua orang berani mengambil konsekuensi seperti itu. Itu terdengar sangat hebat.

Ada, kecuali orang yang terjepit. Mau tak mau dia harus lakukan itu.

Jadi sebuah saran yang indah dari seorang praktisi, maksimalkan usahamu di tempat tinggalmu dulu beberapa waktu barulah beranikan dirimu (itupun jika punya keberanian) untuk langkahan kakimu ke luar zona daerah rumahmu. Setelah sebelumnya tentukan batas waktu dulu. Berusahalah sekeras-kerasnya dulu. Namun, saat  tak ada lagi yang bisa diperbuat di daerah tersebut, beranikan langkahkan kaki ke luar.  Memang ini sangat menyakinkan dan membuat miris di hati, tapi itulah kehidupan. Adakalanya seseorang itu dituntut untuk menjadi seseorang yang berbeda.

Namun jangan lakukan terbalik. Keluar daerah dulu beberapa waktu lalu ada suatu jeda akhirnya kembali ke daerahnya. Itu sebenarnyapun bisa dilakukan, tapi justru rasa atau efek tertentu yang justru tidak mengenakkan. Seakan-akan rasa percaya dirimu seolah melayang-layang di udara dan susah untuk bisa ditanggap lagi. Juga stigma cap tertentu yang kini tertoreh di dirimu. Itu lebih melukai dibandingkan saat sekolah dulu dikatakan sebagai pengecut bahkan pecundang. Bahkan pemulihan waktu dari perasaan tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Juga masih tersisa perasaan menyakitkan karena luka yang diberikan sendiri oleh keluargamu.

Maka memang berat memang konsekuensi dari sebuah tindakan keluar dari rumah keluarga. Pikirkan masak-masak sebelum benar-benar akan diputuskan. Karena bagaimanapun juga rumah itu masih lebih indah dari dunia luar yang belum tentu seindah rumah di mana seseorang itu dibesarkan. Bagaimanapun tidak indahnya, bagaimanapun tidak enaknya situasi rumahmu tersebut.

Namun jika hatimu berkata lain, ingin pergi, hendaknya pikirkanlah masak-masak terlebih dahulu. Singkirkan emosimu. Dan pahamilah barisan pernyataan-pernyataan tadi. Karena semua hal itu tidak hanya sekedar sebuah keputusan belaka. Jauh lebih rumit.

 

 

Rabu, 01 Maret 2023

Saat Ini Dunia Semakin Sepi

 

Saat Ini Dunia Semakin Sepi

Dunia yang sepi, kejujuran diri dan perenungan 


Semeriah dunia  tapi sesepi saat orang terlelap (pixabay.com/ Engin_akyurt)

Memang aktivitas dunia semakin marak dan beragam. Banyak usaha barupun tumbuh. Tapi aktivitas dunia seakan-akan semakin sepi saja. Geliat aktivitas manusia tidak lagi seperti dulu yang semarak, beragam dan berwarna terang. Yang benar-benar dirasakan sejak penghentian otomatis beragam aktivitas. Dunia tidak lagi secerah dulu. Bahkan ditambah lagi mendung tebal bergelayut setiap hari. Terkadang saya merindukan hangatnya sapaan, sinar matahari yang membuat hati senang, ketulusan sebuah bantuan secara tanpa pamrih, sikap berbaik sangka kepada orang lain, memandang orang lain sebagaimana adanya, tanpa cap tertentu yang diberikan untuknya.

Belum lagi masalah pribadi yang begitu beragam. Tangan melambai-lambaipun dianggap sambil lalu padahal itu bentuk minta pertolongan. ‘Bodo amat,’ ucap siapa saja yang melihat. Padahal dia melambai-lambaipun sebenarnya malu juga, saat melakukan itu. Maka patah hati atau dibuat patah hati semakin meluas di hati sanubari. Seolah saat ini semuanya sama saja, dimanapun tinggalnya. Memang ini gejala baru yang sebenarnya payah jika sampai tersebar meluas dan lebih meluas lagi. Karena memang beberapa waktu seolah pembelajaran otomatis terjadi, ‘pikirkan hidupmu saja’, ‘jangan bilang-bilang orang lain kamu dapat ini itu. Pokoknya sst’, ‘hidup ini tidak ajaib lagi, semuanya serba rasional. Kamu beramal banyakpun itu mubazir’, ‘dirimu, dirimu dan dirimu saja’, budayakan berburuk sangka’, ‘sst diam aja. Jangan urusan’, ‘pikirkan keselamatan dirimu saja’.

Masih mending orang-orang dewasa yang pernah mengalami berbagai sesi kehidupan pelik,hal  inilah yang ditangkap oleh anak-anak, usia remaja dan dewasa muda. Pelik bukan? Yang diketahui mereka itu diam tanpa aktvitas dan menerima nasib secara bulat-bulat ala zaman kakek-nenek buyut zaman dulu mungkin semacam budaya baru yang terus menyebar di masyarakat. Memang tidak semua seperti itu, seperti halnya dulupun juga sama. Tidak semua zaman kakek nenek buyut kita seperti itu.

Tapi di sisi lain, terimalah seutuhnya keadaan tersebut. Orang ataupun orang ahli sekalipun tidak bisa mengatur keadaan seperti kemauan mereka. Hanya untuk orang-orang tertentu keadaan ini dapat disebut miris dan menyedihkan. Menurut para pelaku-pelaku masa depan hidup ini sangat mengedepankan ego dan ‘aku’ saja. Padahal sebenarnya kehidupan ini tidak sekejam dan sekeras yang mereka pikirkan. Masih bisa berjalan kaki menapaki tepian jalanan asal saja itu tidak masalah, bisa, berbelanja di pasar tradisional dengan lembaran ribuan-ribuan dengan sederhanapun dipersilakan. Tak terlalu perlu hilir mudiak dengan motor-motor yang lumayan besar dengan suara menderu dengan kecepatan tinggi padahal hanya ingin berbelanja di supermarket terdekat tanpa diburu-buru urusan. Ataupun kelihatan berdandan habis-habisan keren mentereng padahal hanya ingin menanyakan kabar teman yang baru saja pulang dari kota lain.

Tapi sekali lagi, semua akan kembali ke kejujuran diri masing-masing. Berani jujur atau tidak. Kalau tidak berarti jelas kerugian besarlah yang akan menaunginya. Biaya hidup berkelas saat ini tidak murah lagi. Sebenarnya semua siapapun itu sedih merasakan ini, siapa saja tapi terimalah dengan lapang apa adanya. Yang tetap bisa gaya berkelas ya berarti dia mampu untuk membiayayainya, seandainya tidak ya jangan berani-berani untuk mengikuti gaya mereka. Akhirnya memang semuanya kembali kepada kejujuran diri, berani mengakui apa adanya dirimu tidak.

Memang ujung dari perenungan diri dengan segala konsekuensinya adalah membuat hingar bingar keriuhan aktivitas semakin redup. Semuanya sedang merenung. Dunia terasa semakin sepi. Obrolan hangat yang terdengar dulu di alat transportasi seakan kini hanya kenangan. Obrolan hangat sangat berkumpul kini hanya basa-basi saja yang justru membuat beban. Bahkan sapaan hangat yang membuat hati semakin menghangatpun semakin jarang terjadi. Semuanya sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang terpaku dengan media sosialnya, kontak dan saling telpon dengan teman sepergaulannya, beragam kepentingan  mereka. Namun ada juga kelompok lain yang bergumul dengan pikiran dengan kreasinya mereka. Kalau yang terakhir ini semanjak dulu kala kebiasaan mereka seperti ini. Tapi mereka ini tidak separah orang-orang yang disebutkan di awal.

Itulah manusia, selalu ada banyak penyesalan yang tidak mereka inginkan, tapi payahnya hal itu selalu ada. Dekat, sedekat dekapan udara yang ada di sampingnya. Keadaan selalu membuat wow, tapi kata itu hanya terucap dari pandangan mata yang tak pernah terkatakan.

Senin, 27 Februari 2023

Ayah

 

Ayah


Lalu kusebut dia Bapak

Sudah bertahun berjalan sebutan itu masih yang terbaik

Sebutan berat namun ringan walau berteriak

Itulah Bapak

Bagi banyak orang ayah adalah figur yang menjanjikan kenyamanan, perlindungan dan ketahanan. Hal itu terasa wajar namun itu beban yang harus disandang dengan sebutan itu.

Semua orang juga paham, ayah memberi pelita di saat gelap. Segelap apapun keadaan asal ada ayah semuanya menjadi berbeda. Maka beruntunglah orang-orang yang memiliki ayah ataupun ibu. Atau orang tua.

Tapi anehnya, terkadang karena perannya selalu ada di sisi anak-anaknya atau keluarga terkadang peran berat itu seakan tak terlihat. Tak berbentuk. Tidak kasat mata. Padahal mereka selalu berperan. Mereka inilah aktor yang sesungguhnya dalam kehidupan. Sedangkan ibu adalah aktrisnya. Bahkan pemeran aktor sejatipun akan siap sedia jika berganti peran, toh itu hanya sementara, pikir mereka. Dia bisa menjadi ‘seperti aslinya’ lagi, selepas dari panggung.

Orang berpikir seharusnya aktor itu menceritakan pengalaman detailnya saat di panggung ataupun di luar panggung kepada anak-anaknya. Agar kelak dia tahu si anak tahu bagaimana dia kelak bermain peran. Cerita itu ada, tapi seperti alur-alur yang terulang. Bukannya tidak menarik tapi terlalu biasa. Sepertinya detail cerita saat bermain peran ataupun di saat biasa itu bisa menakutkan anak-anaknya. Ayah tahu itu akan menakutkan.

Saat bertanya-tanya lebih, ayah pernah berucap. ‘Kamu itu anak kecil,’ celetukan itu sebenarnya membuat marah anak yang makin melentik. Padahal rasa ingin tahu dan banyak tebakan yang berkali-kali katakan hal sama. Laki-laki itu punya alasan tersendiri bersikap demikian.

Akhirnya, rasa tanda tanya seakan menguap seiring bertumpuknya bahkan bertubi hantaman pengalaman yang mendera. Ayah sepertinya tahu, namun dari diamnya itu seakan tahu itulah kehidupan. Siap tidak siap ya harus siap. ‘Kamu tidak seperti ayah, jadi harus kerja keras,’ pernah ayah bercerita. Laki-laki ini sepertinya santai saja, namun saya tahu ayah keras saat bekerja.

Saya tahu, laki-laki itu memang harus bekerja keras. Saya tahu ayah itu capek, tapi dia sama sekali tak pernah mengeluh. Dia bekerja keras dengan caranya sendiri.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya melihat ada juga laki-laki yang tidak seperti ayahku. Berarti aku dan keluargaku beruntung memiliki kepala keluarga seperti ayah.

Dan saat ayah tiada, seperti antara percaya dan tidak percaya semuanya kini berbeda. Orang tuaku itu kini sudah tidak ada lagi di depanku. Semua kenyamanan itu seakan menghilang juga seiring lepasnya perasaan memiliki ayah. Lalu kupunguti bekas-bekas memiliki ayah. Dulu sangat hebat dan bisa diandalkan. Terserah keluargaku atau orang lain berkomentar tentangmu. Kau tetap ayah terhebat di hidupku. Sampai kapanpun.

Di hari kepergianmu tepat ke-40 hari ini, saya tahu hari ini sangat menyedihkan tapi inilah bentuk ungkapan sayangku padamu.

Bagaimanapun juga, apapun juga itu tetaplah dirimu ayah, laki-laki terbaik di hidupku. I love you, Bapak.