Hidup Itu Tidak Mudah
Itulah kenyataannya. Walaupun tak lantas orang yang mengatakan ini
langsung dikatakan apatis. Karena memang
jalinan yang terpilin-pilin dari rumitnya sesuatu hal yang menjalar dan terus
menerus itu tidak mudah. Sudah berapa puluh musim yang dilalui. Mungkin di mata
beberapa orang musim itu dari waktu ke waktu sama tapi tentu tidak untuk
sebagian orang yang lain. Musim hujan itu mungkin untukmu hanya sebatas air
turun dari langit lalu kamu membawa jas hujan setiap kali kalau air itu turun.
Tentu bermakna lain untuk penjual es batu saat musim hujan tiba bahkan untuk si
patah hati akan bermakna lain setiap hujan yang semakin deras itu membasahi
bumi dan jatuh ke tanah. Syukurlah hujan turun hanya semusim. Padahal baru
membicarakan hujan yang sekelumit saja.
Saya beberapa waktu lalu telah
membuat tulisan di blog ini juga Life is
Simple, https://nugrahenieriaryani.blogspot.com/2013/04/life-is-simple-hidup-itu-sederhana.html
karena secara teoritis memang sebenarnya hidup itu sederhana. Lalui saja,
jalani hidup sesuai minat dan kehidupan ini akan membimbing jalanmu. Kamu
hanya berusaha dan berdoa. Ya, memang semudah itu. Soal kendala, ting, hanya jentikkan jari. Ya, semudah
itu. Bukankah banyak yang mengalaminya? Janganlah
sesuatu hal itu dipersulit.
Tapi tulisan ini memang saya
tujukan mungkin untuk yang sependapat kalau hidup ini tidak mudah. Apalagi
kalau si pelakunya memperumitnya, ada drama bahkan segala sesuatu itu tidak
jatuh padanya dengan mudah. Kenapa ada ‘se-drama’ sekali hidup seperti itu. Ya,
protes saja tidak apa-apa ke siapa protes dipersilakan. Itu tidak salah. Itu
hakmu, kok. Tapi seandainya berkoar-koar tetap saja menurutmu
itu tetap tidak mudah. Itu memang benar. Tidak ada hasil, tidak menarik
perhatian orang juga, tidak membuat terkenal, mubazir bahkan capek.
Jadi mungkin lebih tepatnya saran
itu : telan saja entah pahit, getir, asam, manis, perih, pilu, ngilu anggaplah sebagai hal biasa.
Orang lain saja, mereka tenang-tenang saja mengalami itu semua, tidak sok drama
atau menganggap dirinya paling sengsara di dunia. Jika ilmu ekonomi mengajarkan
efisien dalam pengeluaran, inilah saatnya efisien dan berhemat dalam pemborosan
emosi. Seandainya terkadang boros, tak apalah, itu termaafkan. Karena itulah
yang akan memberi warna pembeda dengan
warna dominan dalam hidupmu.
Dan seandainya saat lorong kehidupan itu seakan tak berujung,
berucap saja berterima kasih bahwa kamu telah mencecap kehidupan di dunia ini
entah apapun itu warnanya. Karena dengan berada di sini telah mengetahui apa
itu gelap terang hal yang baik dan buruk bahkan zona dari keduanya. Tentu
jika belajar hal itu dari buku atau media lain butuh waktu panjang dan lama untuk bisa
menerka dan menyelaminya. Entahlah, menurut saya
kehidupan itu pasti akan menggerus waktu ke arah depan dan itu pasti
akan bergerak maju. Dan secara otomatis hidup itu memang bergerak maju, entah
kamu ingin kamu berhenti kamu tetap akan bergerak.
