Sabtu, 16 Januari 2016

Kucing dan Ayam



Kucing dan Ayam

Tidakkah aku terlihat tampan?Bagaiman-bagaimana... (Sumber gambar : google)

Kita begitu manis,...(Sumber gambar : Google)

Bisa-bisanya ada yang mau menyakitiku (Sumber gambar : Google)

Coba lihat aku! Coba lihat mataku. Aku sedang sedih. Bagaimana tidak, aku harus memikirkan banyak hal. Begitu banyak hal. Tapi eh, tidak, itu tak kuanggap, tak kupikir. Entah lah, apa yang kupikirkan. Mungkin hal sepele pun membuatku terkejut. Mungkin ini membuatku shock therapy. Tapi ah tidak, semua itu tak kupikirkan. Lantas apa mauku? Biasanya aku ada di sini, tapi tidak hari ini. Apakah itu yang membuatku sedih? Kupikir bukan.
Lihatlah mataku, ada apa di mataku?


Kenapa tiba-tiba semuanya menjadi begitu gelap. Tapi bukan karena akan hujan atau pun sedang berada di kegelapan. Begitu  juga hatiku pun sedang tidak gelap. Semuanya normal. Bahkan sangat normal. Tidakkah ini keadaan sangat hebat? Tidak setiap hari mengalaminya. Ya, kupikir semuanya hanya perlu dinikmati saja. Bukankah kita, para kucing, pernah mengalaminya? Tapi mungkin hanya aku yang membahasnya dan melebih-lebihkan. Ah, biarlah. Biar manusia tahu kalau kucing pun bisa merasa. Merasa. Merasa adalah hak makhluk secara universal.

Hai ayam, apa yang kau lihat? Kau ingin tahu sekali. 

Masak aku dikatakan kepo, 'ingin tahu saja'. Apa iya?

Jumat, 08 Januari 2016

My lovely Teddy Bear



My lovely Teddy Bear

Duduklah yang manis dan selalu jadi bear yang baik (Sumber gambar : Google)

Hai Teddy bear. Kaulah bear yang paling hebat di hidupku. Kau selalu ada di tempat itu, menatapku bahkan tak bergeming walaupun badai dan tsunami sekalipun. Tidakkah itu hebat? Bukankah tak ada apapun yang seperti itu. Bahkan kau pun tak pernah protes. Tapi entah di dalam hatimu, yang terdalam. Mungkin kau muak dengan tingkahku bahkan mungkin kau bosan dengan perilakuku. Tapi aku tak peduli. Karena kau bear paling hebat di hidupku!

Terkadang aku merindukan kau menyapaku dengan lebih manis lagi. Tidak hanya menatapku seperti itu. Apakah aku berlebihan. Aku tuanmu, harusnya kau lebih mengerti aku. Aku terkadang marah padamu.Kalau sudah begitu kau terus saja menatapku dan mengerling. Hah, berani-beraninya kau mengerling nakal kepadaku. Kutimpuk kau karena kau nakal. Jangan pernah nakal!

Walaupun aku sering ngebut di jalan, kau tetap saja melotot setiap aku penuh lumpur ketika pulang. Bahkan kau melebihi Ibuku kalau marah. Bahkan ketika aku sudah mandi bersih pun kau tetap saja memelototiku. Benar-benar kau ini. Memangnya kau Ibuku!

Tapi bagaimanapun Kau, aku selalu saja sayang padamu, Bear!