Saat Kini dan Saat Dulu
Sebagai orang sangat awam dan
terbiasa dalam lingkup keseharian yang merasakan atmosfer dulu dan kini,
akhirnya turut mempengaruhi pikiran seseorang.
Dulu mungkin seseorang mungkin
berpikir saat yang dilaluinya dulu adalah masa tersulitnya, tapi seiring waktu
ternyata dulu yang terasa sulit itu ternyata lebih manis. Seperti saya baca
postingan penulis terkenal Indonesia saat ini yang dulu seorang wartawan itu.
Dia pun menambahkan karena tempaan masalalu-lah yang membuatnya merasakan
manis. Tentu semua orang bebas berpendapat.
Terkadang mungkin ada juga yang
berpikir, jika seseorang itu capek, mungkin terlewatkan berita entah itu
penting ataupun tidak penting justru ada seberkas rasa senang atau justru
bersyukur. Terkadang ‘melihat’ dan ‘membaca’ semuanya ada suatu rundungan
perasaan tidak nyaman dan terkadang jengah. Terkadang adakalanya melihat
sepotong wajah, maupun suara yang membuat kaget tanpa sengaja itupun
menimbulkan nelangsa tersendiri. Sedih.
Bahkan mungkin dirasa baik menemui
muka-muka tanpa wajah lebih membuat hati tenang dan dingin. Tapi itu maksudnya bukan
wajah-wajah gaib di cerita-cerita seram. Dan terkadang seakan-akan melihat juga
manusia tapi seakan-akan seperti makhluk lain.
Memang, mungkin hal ini untuk
sebagian yang lain terdengar aneh ataupun berlebihan. Bahkan untuk
manusia-manusia high tech yang
berusaha menyerap semua hal dari apapun itu, termasuk potongan media, bahkan
menyerap semua hal termasuk gosip-gosip dan berita yang menyebalkan pun sebagai suatu hal yang
menyenangkan dan nyaman-nyaman saja.
Mungkin akhirnya diambil garis
tengah : perbedaan manusia, zaman dan generasi. Memang menjembatani ini hal
yang sulit. Maka jalan yang terbaik adalah persilakan pakai gayamu, persilakan
juga pakai gayaku. Jadi kesimpulannya : saling menghargai.
Mungkin ada beberapa orang lama yang
bisa mengikuti gayanya yang menyerap habis informasi, berarti pastinya mereka
ini daya adaptasinya tinggi dan masih ada ruang untuk menyerap dan menoleransi.
Berarti mereka orang-orang yang terpilih. Tapi bagaimanapun seseorang itu,
terimalah diri kita sendiri apa adanya. Menjadi muda lagi tidak salah; menjadi se-tua barang antik pun bisa jadi
takdir; menjadi orang awam yang selalu
cair pun tidak salah; bahkan tidak tahu mau apa maunya pun itu bukan sesuatu
yang aneh. Jadi, jalani saja.