Jumat, 01 November 2019

Saat Kini dan Saat Dulu


Saat Kini dan  Saat Dulu

Sebagai orang sangat awam dan terbiasa dalam lingkup keseharian yang merasakan atmosfer dulu dan kini, akhirnya turut mempengaruhi pikiran seseorang.
Dulu mungkin seseorang mungkin berpikir saat yang dilaluinya dulu adalah masa tersulitnya, tapi seiring waktu ternyata dulu yang terasa sulit itu ternyata lebih manis. Seperti saya baca postingan penulis terkenal Indonesia saat ini yang dulu seorang wartawan itu. Dia pun menambahkan karena tempaan masalalu-lah yang membuatnya merasakan manis. Tentu semua orang bebas berpendapat.

Terkadang mungkin ada juga yang berpikir, jika seseorang itu capek, mungkin terlewatkan berita entah itu penting ataupun tidak penting justru ada seberkas rasa senang atau justru bersyukur. Terkadang ‘melihat’ dan ‘membaca’ semuanya ada suatu rundungan perasaan tidak nyaman dan terkadang jengah. Terkadang adakalanya melihat sepotong wajah, maupun suara yang membuat kaget tanpa sengaja itupun menimbulkan nelangsa tersendiri. Sedih.
Bahkan mungkin dirasa baik menemui muka-muka tanpa wajah lebih membuat hati tenang dan dingin. Tapi itu maksudnya bukan wajah-wajah gaib di cerita-cerita seram. Dan terkadang seakan-akan melihat juga manusia tapi seakan-akan seperti makhluk lain.
Memang, mungkin hal ini untuk sebagian yang lain terdengar aneh ataupun berlebihan. Bahkan untuk manusia-manusia high tech yang berusaha menyerap semua hal dari apapun itu, termasuk potongan media, bahkan menyerap semua hal termasuk gosip-gosip dan berita  yang menyebalkan pun sebagai suatu hal yang menyenangkan dan nyaman-nyaman saja.

Mungkin akhirnya diambil garis tengah : perbedaan manusia, zaman dan generasi. Memang menjembatani ini hal yang sulit. Maka jalan yang terbaik adalah persilakan pakai gayamu, persilakan juga pakai gayaku. Jadi kesimpulannya : saling menghargai.

Mungkin ada beberapa orang lama yang bisa mengikuti gayanya yang menyerap habis informasi, berarti pastinya mereka ini daya adaptasinya tinggi dan masih ada ruang untuk menyerap dan menoleransi. Berarti mereka orang-orang yang terpilih. Tapi bagaimanapun seseorang itu, terimalah diri kita sendiri apa adanya. Menjadi muda lagi  tidak salah;  menjadi se-tua barang antik pun bisa jadi takdir;  menjadi orang awam yang selalu cair pun tidak salah; bahkan tidak tahu mau apa maunya pun itu bukan sesuatu yang aneh. Jadi, jalani saja.