Keluarga Adalah Tempat Yang Terbaik
"Saya akhirnya pun kini harus berpikir ulang, betapa beruntungnya memiliki keluarga yang berpikir ‘lurus dan benar’ walaupun ada segunung es yang terkadang membekukan hati. Karena jurang-jurang itu hanya ada di luar sana, walaupun kursi itu tak seempuk awan putih, tapi tempat itulah, tempat kembali".---Nugraheni Eri
Hai semuanya!
Akhirnya setelah berbulan-bulan
akhirnya dibulan inilah saya bisa memiliki tenaga kembali untuk menyapa kalian
semuanya. Senang rasanya memberikan pikiran saya ke kalian semunya.
Ini bermula di suatu daerah yang
sering dicap sebagai daerah yang mungkin menurut saya sebagai daerah yang ‘kurang
baik’. Bahkan pengetahuan itu pun saya peroleh dari orang lain yang tidak ada
kaitannya dengan daerah tersebut. Saya jadi berpikir, apa benar ucapan orang
tersebut atau memang begitu terkenalnya tempat itu. Lambat laun daun-daun
informasi mulai berjatuhan entah diperoleh dari saudara dekat, saudara jauh,
orang lokal, bahkan pendapat dan pengamatan langsung dengan sikap orang daerah
tersebut. Hmmm ..jika kau biasa berpikir lurus dan benar apapun itu ‘sesuatu’
yang tidak lurus pasti akan terlihat juga. Hmm..ya. Mungkin inilah
karakteristik daerah tersebut dan spesifikasi daerah itu. Ya, begitulah
hebatnya angin yang lewat begitu saja.
Tapi setelah saya timbang-timbang daerah itu saya pikir, mirip juga
dengan beberapa daerah lain tapi yang membedakannya mungkin orang-orangnya. Apakah
begitu ‘sakit’ nya orang-orangnya, atau ‘jalan pintas’ kah, atau begitu
maraknya ‘penyakit hati’ orang-orangnya? Hmm..apakah…?
Ya, saya hanyalah sekeping nyawa milik Tuhan dan kelak
saya pun akan kembali padaNya. Saya sebenarnya merasa seperti atom ditengah
besarnya batu-batu yang terlihat begitu besardan raksasa. Tapi sudahlah, Tuhan
Maha Besar, Tuhanlah yang akan melindungi siapa saja yang minta pertolongan dan
orang sebenarnya hanya diwajibkan takut pada Tuhan saja.
Saya punya harapan besar semoga
gambaran daerah tersebut bukanlah gambaran Indonesia secara keseluruhan. Hidup
ini sudah begitu rumit dan sulit kenapa harus ditambah dengan drama yang
sengaja ditambah oleh para pemainnya? Dan saya pun tak habis pikir, betapa
bertenaganya mereka melakoni drama yang mirip seperti dalam dongeng sebelum
tidur seorang anak kecil dengan harapan mereka bisa menjadi godzilla yang manis
dan lucu. Itu ada, karena manusia itu memang berbeda, dan saya pikir
spesifikasi manusia itu hanya terjadi di kalangan tertentu itu saja, tidak
dikalangan luas apalagi di negeri ini bahkan di dunia. Semoga. Dan harus.
Saya akhirnya pun kini harus
berpikir ulang, betapa beruntungnya memiliki keluarga yang berpikir ‘lurus dan
benar’ walaupun ada segunung es yang terkadang membekukan hati. Karena jurang-jurang itu hanya ada di luar
sana, walaupun kursi itu tak seempuk awan
putih, tapi tempat itulah, tempat kembali.
