![]() |
| Sudut pandang-mu, sudut pandang-ku (sumber gambar: instragram) |
Perjalanan itu menyenangkan. Siapapun itu setipis apapun itu perasaaan terasa menyenangkan atau lebih tepatnya menyegarkan. Panjang memang, tapi untuk ukuran perjalanan suatu gugusan bintang maupun galaksi untuk berkeliling itu belum seberapa. Ya, padahal dalam hati saya mengiyakan, walaupun belum seberapa perjalanan galaksi, tapi melelahkan juga. Capek juga.
Dalam waktu yang lama suatu tempo dari waktu yang kita jalani, ada suatu titik dimana kita bisa melihat jelas semuanya. Seakan-akan semuanya terlihat walaupun tak meraba. Walaupun sadar, tak kuasa untuk ikut bisa merubah. Seakan-akan menyama-samakan seandainya keadaan itu tidak seperti itu. Harusnya seperti ini. Rasa romantisme memang tidak melulu rasa itu saat sedang jatuh pada cinta. Angkat bahu sedikit saja (supaya jangan terlihat), seolah-olah orang lain tak tahu, itu lebih baik. Bukankah sebagai Orang Indonesia, memang sejak kecil tidak diajarkan untuk menunjukkan perasaan dan berekspresi? Maka, terkadang saya lihat, orang kita itu ekspresinya sama entah dia sedang sedih, gembira, bahkan nyaris bunuh diri sekalipun. Bahkan banyak orang seakan-akan mereka menutupi kesedihan mereka dan bersikap seakan-akan sedang gembira. Walaupun terkadang sikap mereka pun terlepas beberapa detik, terlihat perasaan mereka yang sebenarnya. Ya, biar saja, memang mau mereka seperti itu. Bisa apa?
Baiklah, saya luruskan kembali. Saat kita di suatu titik, dimana seakan-akan kita bisa melihat semaunya dengan sangat jelas. Terkadang mungkin orang berpikir, kenapa bisa seakan-akan bisa mengerti? Mungkin hanya psikolog yang bisa menjelaskan semuanya. Seandainya karena : pintar bahkan orang bodoh pun bisa melihat hal seperti ini. Seandainya karena : berpengalaman bahkan orang yang sudah sangat senior sekalipun bisa melihat ini juga. Plus bisa mengunyah-unyah apa yang telah dia alami dan mencernanya dengan sempurna. Seandainya karena : belajar secara akademik, ya semisal psikolog itu contihnya. Seandainya karena : luasnya pergaulan, itulah hal yang paling cepat memudahkan itu. Secara logika, karena mereka bertemu berbagai karakter dan perwatakan. Dan secara pribadi pun, baik langsung maupun tak langsung mereka memang lebih ‘ces pleng’ dalam melihat ‘itu’.
Ternyata, terkadang bisa melihat dan memaknai secara lebih itu hal yang tidak damai. Lebih baik, ya, seperti orang yang hanya melihat saja. Kalau hatimu sekecil biji gandum bahkan semungil biji kapas, klenteng, perasaanmu yang tadinya sebesar sekarung beras sehingga aman dan sentosa pun harus ikut mengerut menjadi sekecil klenteng kecil. Sedih sebenarnya tidak terlalu, hanya merasa nelangsa dan seakan-akan lebih baik kau tak bermuka. Bahkan ingin rasanya seperti balon gas yang terlepas dan pergi secepat-cepatnya. Kenapa harus seperti ini? Jadi langsung berharap seandainya lebih bisa seperti pemain drama.
Ratu-ratu drama itu menyenangkan. Ya, mungkin. Karena mungkin itu lebih pada pembiasaan. Saya hanya mengernyit, biarlah hanya saya yang mengerti apa yang saya pikirkan. Tapi saya pun berpikir, manusia-manusia seperti itu seharusnya hanya untuk orang-orang tak terlalu memiliki pekerjaan, yang setiap harinya tak perlulah memeras keringat, banting tulang, tinggal tiba-tiba nanti uang berapapun ada untuknya. Jadi drama-drama itu sebagai balance (penyeimbang) dari kehidupan mereka yang ringan. Ya, ya, ya, begitulah.
Jadi seharusnya, orang-orang yang harus memeras keringat, tidak perlulah berlaku bak ratu ataupun raja drama, karena rasanya itu berat dan sangat menghimpit. Terutama menghimpit si objek (korban) bahkan orang-orang yang melihat pun merasa ngeri juga. Tambah berat kan? Bekerja saja sudah berat masih ditambah drama. Tapi begitulah, sudah kebiasaan mungkin ya.
Saya pun berpikir, seharusnya ratu drama itu, hanya untuk kalangan orang yang memiliki segalanya. Tak perlulah orang biasa, seperti kita, seperti saya bak ratu drama. Tambah menyedihkan, tahu. Seakan-akan harimau mengaum-aum padahal hanya kambing kecil berambut gembel. Sedih kan, melihatnya? Saya saja sedih melihat banyak hal seperti ini. Tapi ya begitu, kita bisa apa?
Terpikir juga banyak orang-orang terlalu kejam terhadap orang-orang yang seharusnya orang jangan berlaku demikian. Karena bisa saja, justru akan menjadi sandungan untuk para pelakunya. Memang seakan-akan tidak berkorelasi, tapi berkali-kali banyak kejadian demikian. Mungkin Tuhan marah pada orang-orang tersebut dan itu sebagai bentuk peringatan untuknya. Tapi demikianlah mereka, mungkin ada yang langsung sadar, tapi justru ada yang semakin mengerikan bak godzilla lapar yang semakin kejam saja. Dan mungkin kita semua bisa melihat, rata-rata kebanyakan orang akan menjadi seperti godzilla. Tapi semoga Tuhan, masih terus memberikan kebaikanNya untuk kita semua.
Di nafas akhir tulisan ini, dengan suara yang tipis
parau dan semakin menghilang,terlintas begitu saja, orang-orang penyendiri itu seperti balon gas. Tanpa bobot. Terkadang menjadi cemoohan
dan orang yang patut dipersalahkan. Mungkin kelompok kecil ini
kelak akan lebih cepat kehilangan nyawa dan meninggalkan dunia ini, karena
merasa lebih sering merasakan tertekan. Ya, batas kemampuan psikologis dan
fisik orang ada batasnya, bukan? Sedih ya, membacanya. Ah, tidak juga, mungkin itu katamu.
Baiklah, sebenarnya tak terlalu merasa mantap untuk melihat keselarasan ini. Rasa-rasanya belum pas. Tapi saya bisa apa? Hanya inilah yang bisa saya tuliskan kali ini. Mungkin karena terlalu banyak yang mau saya katakan. Semoga lain waktu bisa disambung lagi. Selamat malam, have a nice dream untuk malam kalian masing-masing.
