Rabu, 26 Juni 2019

Perkataan Orang Tua


Perkataan Alami Sebagai Orang Tua dan Perkataan Yang Terdoktrin Tertentu

Tulisan saya kali ini, tulisan pertama mengenai keorangtuaan. Memang sekelumit, dan  pendapat saya yang telah saya olah dari berbagai sumber  (hal), dan akhirnya jadilah tulisan yang mungkin telah teman-teman ketahui, atau pun mungkin tidak sependapat dengan saya. Saya berusaha menuliskannya tanpa suatu tujuan terselubung, hanya mungkin membantu kalian atau pun teman-teman jadi mengerti betapa dilematisnya situasi ini.

Menjadi orang tua, menjadi bude, menjadi pakde, menjadi om maupun tante itu memang nama tambahan untuk kalian. Mungkin gampang hanya sekedar nama saja, tapi galau kalian membuatnya jadi sulit pun akan menjadi rumit juga. Percaya?

Terutama saat menghadapi suatu situasi tertentu dengan anak kecil atau anak-anak. Mahkluk kecil ini dilihat sekilas memang lucu tapi lama-lama melihat kelakuannya mereka tingkahnya melebihi orang dewasa yang jahat sekalipun bahkan bisa saja menyerupai mahkluk bertanduk yang mengajak manusia untuk berbuat jahat. Memang terdengar dramatis. Bahkan saat menghadapi anak manis tanpa masalah pun, karena tekanan hidup itu berat, salah juga menghadapi anak manis ini. Akhirnya tanpa sadar timbullah luka menganga di hati dan bisa saja semakin menumpuk. Karena luka itu, konon seperti bekas paku, seandainya paku (masalah) sudah dicabut dan menghilang bekasnya bisa saja masih ada tapi bisa juga secara alami menyatu (menghilang). Tapi itu lukanya orang dewasa, kalau anak kecil terluka hatinya (dan dia sudah bernalar dan mengingat) itu akan menjadi ‘simpanan’ dia dan menjadi trauma tersendiri untuknya. Karena anak kecil bukan orang dewasa.

Memang benar, rumah seisinya adalah tempat paling indah untuk pulang kembali. Maka di banyak tempat banyak tertulis tulisan Home sweet Home. Rumah di sini diartikan rumah dengan segala isinya. Termasuk juga orang tua, saudara-saudara bahkan hewan peliharaan jika ada. Itu secara alami diketahui semua orang, termasuk kita-kita ini. Maka besar peran orang tua untuk selalu membuat anak merindukan rumah. Jangan sampai membuat anak jengah bahkan tidak betah di rumah. Sikap dan perkataan itulah roh nya. Di dunia ini tentunya, ada saja orang tua yang mungkin menjelek-jelekkan anaknya ke pihak lain atau ke keluarga yang lain. Bahkan sampai ke telinga si anak, bahkan membuat anak ini  tersinggung.  Padahal secara kenyataan si anak tak seperti apa yang diceritakan orang tuanya. Bahkan cerita ini terus menjalar dan berakibat negatif. Ini tentunya secara nalar merugikan si anak, tapi tidak dicermati orang tua terlebih dahulu.  Dan saat ditanya ke orang tua alasannya, supaya orang lain maklum dengan kelakuan anaknya. Padahal  orang lain (keluarga lain pun pusing dengan kelakuan anak mereka), apa ini logis? Ataupun seandainya secara budaya (Jawa) suatu falsafah dientebke supaya njunjung, saya pikir juga untuk saat ini kurang pas. Karena tekanan hidup yang demikian besar, akhirnya orang berpikir praktis-praktis saja dan rasional. Jadi orang –orang pun menafsirkan kata-kata secara apa adanya. Mungkin falsafah itu masih diketahui dan diterima oleh kakek-nenek atau kakek nenek buyut kita ataupun orang-orang yang berhati luas, tapi tidak bisa diterima oleh orang saat ini.  Maafkan saya, kalau saya mungkin nyinyir menurut teman-teman semua. Cobalah tarik nafas, pikirkan apa yang saya katakan tersebut.

Memang bagus ajaran agama untuk bertindak sopan dan mulia dengan orang tua. Memang sulit menjadi orang tua yang bijak karena hal ini dibutuhkan perasaan dan empati. Dan biasanya karena telah begitu ahlinya menjadi orang tua perasaan sebagai manusia dan empati itu pun akhirnya menguap. Menuap lepas ke udara. Apalagi memang ajaran ini pun harus diterima sebagai bagian dari kehidupan. Saya pikir terima ajaran tersebut, tapi bijaksanalah dalam penggunaannya. Soalnya jika tidak pas menggunakannya, bukannya akan terlihat mulia tapi justru akan berbeda. Justru yang terdengar bahkan dicetak tebal di perkataan itu perkataan buruk itu. Mungkin teman-teman ada yang paham dengan penjelasan saya ini, tapi mungkin banyak yang tidak mengerti. Ya, begitulah, terima saja, karena begitu banyak hal dalam kehidupan ini yang tidak kita mengerti.
Tetaplah teman-teman  menjadi orang baik, karena itu lebih mendamaikan jiwa dan perasan teman-teman semua.