Perkataan Alami Sebagai Orang Tua dan
Perkataan Yang Terdoktrin Tertentu
Tulisan saya kali ini, tulisan pertama mengenai keorangtuaan.
Memang sekelumit, dan pendapat
saya yang telah saya olah dari berbagai sumber
(hal), dan akhirnya jadilah tulisan yang mungkin telah teman-teman
ketahui, atau pun mungkin tidak sependapat dengan saya. Saya berusaha
menuliskannya tanpa suatu tujuan terselubung, hanya mungkin membantu kalian
atau pun teman-teman jadi mengerti betapa dilematisnya situasi ini.
Menjadi orang tua, menjadi bude, menjadi pakde, menjadi om maupun tante itu memang nama tambahan untuk
kalian. Mungkin gampang hanya sekedar nama saja, tapi galau kalian membuatnya
jadi sulit pun akan menjadi rumit juga. Percaya?
Terutama saat menghadapi suatu
situasi tertentu dengan anak kecil atau anak-anak. Mahkluk kecil ini dilihat
sekilas memang lucu tapi lama-lama melihat kelakuannya mereka tingkahnya
melebihi orang dewasa yang jahat sekalipun bahkan bisa saja menyerupai mahkluk
bertanduk yang mengajak manusia untuk berbuat jahat. Memang terdengar dramatis.
Bahkan saat menghadapi anak manis tanpa masalah pun, karena tekanan hidup itu
berat, salah juga menghadapi anak manis ini. Akhirnya tanpa sadar timbullah
luka menganga di hati dan bisa saja semakin menumpuk. Karena luka itu, konon
seperti bekas paku, seandainya paku (masalah) sudah dicabut dan menghilang
bekasnya bisa saja masih ada tapi bisa juga secara alami menyatu (menghilang).
Tapi itu lukanya orang dewasa, kalau anak kecil terluka hatinya (dan dia sudah
bernalar dan mengingat) itu akan menjadi ‘simpanan’ dia dan menjadi trauma
tersendiri untuknya. Karena anak kecil bukan orang dewasa.
Memang benar, rumah seisinya
adalah tempat paling indah untuk pulang kembali. Maka di banyak tempat banyak
tertulis tulisan Home sweet Home.
Rumah di sini diartikan rumah dengan segala isinya. Termasuk juga orang tua,
saudara-saudara bahkan hewan peliharaan jika ada. Itu secara alami diketahui
semua orang, termasuk kita-kita ini. Maka besar peran orang tua untuk selalu
membuat anak merindukan rumah. Jangan sampai membuat anak jengah bahkan tidak
betah di rumah. Sikap dan perkataan itulah roh nya. Di dunia ini tentunya, ada saja
orang tua yang mungkin menjelek-jelekkan anaknya ke pihak lain atau ke keluarga
yang lain. Bahkan sampai ke telinga si anak, bahkan membuat anak ini tersinggung. Padahal secara kenyataan si anak tak seperti
apa yang diceritakan orang tuanya. Bahkan cerita ini terus menjalar dan
berakibat negatif. Ini tentunya secara nalar merugikan si anak, tapi tidak
dicermati orang tua terlebih dahulu. Dan
saat ditanya ke orang tua alasannya, supaya orang lain maklum dengan kelakuan
anaknya. Padahal orang lain (keluarga
lain pun pusing dengan kelakuan anak mereka), apa ini logis? Ataupun seandainya
secara budaya (Jawa) suatu falsafah dientebke
supaya njunjung, saya pikir juga untuk saat ini kurang pas. Karena tekanan
hidup yang demikian besar, akhirnya orang berpikir praktis-praktis saja dan
rasional. Jadi orang –orang pun menafsirkan kata-kata secara apa adanya.
Mungkin falsafah itu masih diketahui dan diterima oleh kakek-nenek atau kakek
nenek buyut kita ataupun orang-orang yang berhati luas, tapi tidak bisa
diterima oleh orang saat ini. Maafkan
saya, kalau saya mungkin nyinyir
menurut teman-teman semua. Cobalah tarik nafas, pikirkan apa yang saya katakan
tersebut.
Memang bagus ajaran agama untuk
bertindak sopan dan mulia dengan orang tua. Memang sulit menjadi orang tua yang
bijak karena hal ini dibutuhkan perasaan dan empati. Dan biasanya karena telah
begitu ahlinya menjadi orang tua perasaan sebagai manusia dan empati itu pun
akhirnya menguap. Menuap lepas ke udara. Apalagi memang ajaran ini pun harus
diterima sebagai bagian dari kehidupan. Saya pikir terima ajaran tersebut, tapi
bijaksanalah dalam penggunaannya. Soalnya jika tidak pas menggunakannya,
bukannya akan terlihat mulia tapi justru akan berbeda. Justru yang terdengar
bahkan dicetak tebal di perkataan itu perkataan buruk itu. Mungkin teman-teman
ada yang paham dengan penjelasan saya ini, tapi mungkin banyak yang tidak
mengerti. Ya, begitulah, terima saja, karena begitu banyak hal dalam kehidupan
ini yang tidak kita mengerti.
Tetaplah teman-teman menjadi orang baik, karena itu lebih
mendamaikan jiwa dan perasan teman-teman semua.