Jumat, 27 September 2013

Manusia Biasa


Di antara sahabat...(Sumber gambar : Google)

Manusia Biasa
..hanya kaulah yang paling mengerti.


Setiap orang selalu melangkah. Melangkah ke segala hal dan segala penjuru. Ketidakyakinan, keraguan, tanda tanya adalah teman. Walaupun itu seakan teman yang membebani bahkan terkadang begitu memberatkan pada langkah yang masih pendek dan kecil.

Tahukah teman, rasanya diantara dua garis yang bertolak belakang itu? Antara sebuah keyakinan dan sebuah ketidakyakinan. Engkau akan melayang-layang diantara dua garis tersebut bahkan mungkin akan habis tenaga kita karena kau merasa bukan teman keduanya. Orang  lalu akan menyebutmu bodoh. Bahkan orang terbodoh dari segala manusia itu mengatakan ‘mati aja loe’.

Itulah sulitnya sebuah keyakinan untuk ‘manusia biasa’. Manusia tanpa zat adiktif, tanpa zat pengawet, tanpa zat pewarna hingga dikatakan manusia dengan kemampuan yang biasa-biasa saja. Bukan manusia super yang memiliki alat detector, radar bahkan penghilang jejak. Manusia biasa bukan super hingga tidak memiliki segala ke-super-an yang menjadikan mereka berpikir fokus dan jauh kedepan bahkan berinovasi merubah dunia.

Hanya saja banyak orang hanya bermula dari sekedar tahu. Namun lama kelamaan dari tahu tersebut mereka akhirnya melakukan kenekatan yang bukan kebiasaannya berusaha agar lebih tahu lagi. Konon orang menyebutnya menjadi sebuah keyakinan untuk memulai. Dia tidak lagi berputar-putar di ruang hampa antara keyakinan dan ketidakyakinan walaupun jika dia mau jujur dia lebih pada perasaan tidak mampu.

Itulah hakekat hidup untuk manusia biasa yang selalu berkutat pada hal-hal biasa yang dianggapnya sebagai sebuah kesulitan. Karena si manusia ini pun juga merasa dia bukan manusia super. Orang-orang super mungkin akan melihatnya sebagai orang yang kurang perhitungan. Tapi ada beberapa manusia super super yang menganggapnya dia cerdik. Itulah seninya hidup, melihat dari sudut yang selalu berbeda.

Jumat, 20 September 2013

Catatan Cinta



CATATAN CINTA MUNGIL
 
Kecil-kecil Saling Cinta(Sumber gambar : Google)
“Jangan merasa tak pantas dan terlalu uzur lantas menjatuhkan diri pada sesuatu hal yang tak cocok dan tak yakin untuk dilalui. Hal itu hanya akan menjerumuskan diri dan menyia-yiakan hidup yang telah Tuhan beri.”

Cinta pada dunia adalah sesuatu yang wajar. Cinta pada dunia yang lain dianggap pembawa keberkahan agar menjadi pegawas segala laku. Perilaku yang tak terpuji pun menyertai segala upaya dalam meraih asa.

Cinta. Cinta pada keluarga, pada orang tua adalah sebuah anugerah dan begitu alami. Dalam keluarga seseorang tinggal semenjak kecil dan merasakan sebuah rasa …bahagia. Bunda, ayah adalah inspirasi. Saudara-saudara adalah spirit agar melanjutkan hidup.

Cinta. Cinta agape, romantik, adalah sebuah perasaan heroik pada sebuah bayangan yang disebut somebody. Somebody yang nyata tapi bisa dekat lalu menjauh. Cinta ini memang datang dan pergi. Terkadang sudah pergi pun masih membaui rasa dia. Cinta yang sejati hanya ada pada cinta yang pertama, cinta yang begitu heroik dan seakan mendunia. Dunia dalam genggaman jika bersama dia. Namun sayang cinta sejati ini begitu terkendala. Ego masih begitu kentara tak ayal tamatlah cinta itu. Apalagi ada bentuk-bentuk tangan invisible hand. Maka binasalah.

Hidup memang sekedar hidup. Bagaimana hidup? Ya hidup itu. Sebuah paket lengkap dari sebuah perjalanan, yang suatu saat entah kapan akan ditutup. Entah sedang apa, menanti apa, sudah sempurnakah, ataukah penasaran karena terlalu penakut hingga tangisan pelayat karena kehilangan.

Sekedar perumpamaan dan pegangan dalam perjalanan kejarlah apa yang menjadi keyakinan dan spirit kehidupan. Jangan merasa tak pantas dan terlalu uzur lantas menjatuhkan diri pada sesuatu hal yang tak cocok dan tak yakin untuk dilalui. Hal itu hanya akan menjerumuskan diri dan menyia-yiakan hidup yang telah Tuhan beri. Sampai kapanpun yang dimiliki adalah pilihan.

Minggu, 08 September 2013

I Wish I Could



I Wish I Could

Sumber Gambar : Google

Betapa tragisnya jika ada orang yang katakan ini dalam hidupnya.  Seolah-olah dia menyadari keterbatasannya. Dunia memang luas jika dipandang luas tapi bisa tiba-tiba mengkerut menjadi sekerat. Tapi kenyataannya memang luas serba banyak kemungkinan. Memang kata-kata itu begitu membencikan inginnya didepak, ditendang sejauh mungkin biarkan lepas dari gravitasi bumi. Lenyap.

Bagi orang yang menginginkan berserba kemungkinan, bukannya dalam keadaan yang pasti kata-kata terkatakan menyakitkan sekali bahkan ketika terbersit dalam hati sekalipun. Sadar sesadarnya tapi seketika hampa sehampanya bahkan seketika se-hopeless hopeless-nya. Senyuman tidak lagi indah, kata-kata orang yang biasa seolah-olah menusuk, pikiran meloncat-loncat ingin mencari tempat. Tiada tempat terindah kecuali diri sendiri  yang ‘mengerti’.

Keadaan memang terkadang me-warning seseorang supaya sadar apa yang  dilakukannya. Seandainya keadaan telah kusut itulah kenapa sampai terkatakan kata itu.