Rabu, 15 Januari 2014

Orang baik Vs Orang buruk



Orang Baik VS Orang Buruk

Sumber gambar : Google

Orang baik menurut kaca mata universal adalah sama. Saya kira di dunia manapun hal tersebut sama. Hanya sebagai pribadi subjektivitas rumit seseorang terkadang lebih jalan. Seperti halnya dalam memilih teman, memilih fungsi sebuah barang, bahkan berbagi dan membantu orang lain.

Tapi sakitnya kalau seseorang itu sudah membentuk kelompok tertentu. Masing-masing kelompok merasa merekalah ‘orang baik’  dan menjelek-jelekkan kelompok lain yang tentu saja dianggap sebagai ‘orang buruk’. Ini gampangnya terjadi di dalam lingkaran kehidupan manusia. Dalam dunia remaja, kehidupan sehari-hari bahkan dalam pergaulan orang-orang dewasa. Yang sakit dan sadar betapa banyak orang-orang buruk yang memusuhi orang baik tentu saja kelompok yang tertindas. Dan orang-orang yang tertindas itu biasanya mereka ini ‘orang-orang baik’ secara universal.

Karena itulah bondo nekat orang yang jelas-jelas tidak kelihatan menjadi ‘orang baik’ atau ‘orang buruk’ menjadi pemeriah suasana. Merekalah yang paling fleksibel mengambil semua kesempatan. Kesempatan dunia. Kesempatan-kesempatan besar yang seharusnya diambil ‘orang baik’ agar memperbaiki dunia.

Mungkin selorohan saya ini tanpa research atau hal yang semacamnya. Saya hanya sekedar menulis saja apa yang ingin saya tulis. Tanpa ada tendensi apapun.

Senin, 06 Januari 2014

Damai



Nama Toko Itu Toko Damai

Antara kesenyapan dan kedamaian (Sumber gambar : Google)

Suatu hal yang sulit jika berdamai dengan kekurangan, ketimpangan, ketidaknyamanan, dan semua hal yang menyesakkan. Jika orang merasa damai setelah mencapai ‘keinginan’, ‘cita-cita’, ‘asa’ bahkan mungkin ‘tujuan hidup’ nya dapat dikatakan lebih mudah untuk mencapai kata damai.”

Toko Damai. Nama itu begitu mengusik perasaanku. Aku tidak mengira ketika itu namanya, ketika tanpa sengaja lewat di depannya.


Banyak nama memang untuk menyebut sebuah sebutan. Dari yang berbau harapan, nama keluarga, nama tempat, nama pesanan, nama atas barang yang dijual. Tapi aku begitu terkesan dengan nama itu. Mungkin karena sebutan itu untuk menyebut sesuatu di ‘atas sebuah tujuan’ atau mungkin itu penggambaran si empunya yang telah ‘damai’ bahkan mungkin telah berdamai dengan keadaan. Tentunya alasan itu hanya diketahui si pemberi nama dan pemilik toko tersebut.

Tapi yang pasti itulah harapan, itulah tingkat tinggi dari sebuah undak-undakan yang dilalui seorang manusia. Seandainya manusia telah berdamai dan berada di tingkat tersebut hal apalagi yang bisa menggoyahkan orang tersebut apalagi jika dia sudah berdamai dengan dirinya, keinginannya, lingkungannya bahkan ‘musuh-musuhnya’ sekalipun. Maka bahagialah orang tersebut dengan apapun keadaan dia.

Berdamai. Tak semua orang mampu untuk melakukannya. Apalagi jika berdamai dengan kekurangan, ketimpangan, ketidaknyamanan, dan semua hal yang menyesakkan. Jika orang merasa damai setelah mencapai ‘keinginan’, ‘cita-cita’, ‘asa’ bahkan mungkin ‘tujuan hidup’ nya dapat dikatakan lebih mudah untuk mencapai kata damai. Namun tidak semua orang diposisi aman tersebut lantas semuanya bisa melakukannya karena mungkin dia telah terlanjur sombong,  takabur  dan selalu kurang.