Apalah Jadinya!
"Teruslah
bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila
tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.”—Kutipan
inspiratif dari R. A. Kartini.
“Ayah,
aku punya dua kelereng dari seorang teman,” ucap seorang bocah sembari pulang
dengan nafas tersengal-sengal memamerkan barang itu dalam genggaman tangannya
dengan senyum lebarnya hingga menampakkan dua gigi depannya tidak ada dan
deretan gigi lainnya yang carries.
“Bagus,
Sayang, itu artinya kau disayang,” ucap ayahnya sambil lalu sibuk mengelap
sepatunya.
“Aku
ingin membuatnya menjadi 20 Yah, eh tidak 50 saja. Cukup tidak kalau
kubuatkan rumah-rumahan untuk si manis,”
dengan mengernyitkan dahi kecilnya.
“Belum.”
“Kalau
kelerengnya sebanyak gudang di belakang rumah, cukup?” tanyanya dengan serius.
“Bisa
jadi. Sisa mungkin. Banyak.”
"Kalau
begitu aku ingin buat rumah untuk ibu saja,” ucapnya dengan jenaka dan begitu
ceria seolah-olah mendapat inspirasi baru yang luar biasa.
“Tidak
cukup.”
“Oh.
Kalau begitu biar kukumpulkan kelerengnya hingga setinggi tiang listrik ya, Yah.”
Si
ayah hanya mengangguk.
Anak
laki-laki itu kemudian berpikir lagi, “Tapi Yah, kalau kelerengnya menjatuhi
aku, aku…”
Si
ayah lalu mengangkat sebelah tangannya dan dan lalu menjatuhkannya ke depan
dengan tiba-tiba. Anak itu hanya mengangguk-angguk. “Itu resiko,” ucap ayahnya
sekilas.
“Kalau
begitu aku akan mulai membuatkan rumah-rumahannya!” ucap si anak dengan
semangat. Dan mulai mengambil peralatan tukangnya. Tapi beberapa saat kemudian
dia berkata lagi, “Tapi aku hanya punya dua kelereng, bagaimana?” ucapnya sedih
dan muram.
“Digandakan
saja sekarang.”
“Tidak
bisa, Yah,” tambahnya dengan wajah kuyu. Dia lalu berjalan selangkah-selangkah
ke dalam rumah dan meminum orange juice
dingin kesukaanya.
