Jumat, 28 April 2017

Apalah jadinya.

Apalah Jadinya!
 
Siang hari dan orange juice
"Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.”—Kutipan inspiratif dari R. A. Kartini. 

          “Ayah, aku punya dua kelereng dari seorang teman,” ucap seorang bocah sembari pulang dengan nafas tersengal-sengal memamerkan barang itu dalam genggaman tangannya dengan senyum lebarnya hingga menampakkan dua gigi depannya tidak ada dan deretan gigi lainnya yang carries.
         “Bagus, Sayang, itu artinya kau disayang,” ucap ayahnya sambil lalu sibuk mengelap sepatunya.
        “Aku ingin membuatnya menjadi 20 Yah, eh tidak 50 saja. Cukup tidak  kalau kubuatkan rumah-rumahan untuk si  manis,” dengan mengernyitkan dahi kecilnya.
          “Belum.”
        “Kalau kelerengnya sebanyak gudang di belakang rumah, cukup?” tanyanya dengan serius.
          “Bisa jadi. Sisa mungkin. Banyak.”
         "Kalau begitu aku ingin buat rumah untuk ibu saja,” ucapnya dengan jenaka dan begitu ceria seolah-olah mendapat inspirasi baru yang luar biasa.
          “Tidak cukup.”
        “Oh. Kalau begitu biar kukumpulkan kelerengnya hingga setinggi tiang listrik  ya, Yah.”
         Si ayah hanya mengangguk. 
        Anak laki-laki itu kemudian berpikir lagi, “Tapi Yah, kalau kelerengnya menjatuhi aku, aku…” 
       Si ayah lalu mengangkat sebelah tangannya dan dan lalu menjatuhkannya ke depan dengan tiba-tiba. Anak itu hanya mengangguk-angguk. “Itu resiko,” ucap ayahnya sekilas.
        “Kalau begitu aku akan mulai membuatkan rumah-rumahannya!” ucap si anak dengan semangat. Dan mulai mengambil peralatan tukangnya. Tapi beberapa saat kemudian dia berkata lagi, “Tapi aku hanya punya dua kelereng, bagaimana?” ucapnya sedih dan muram.
         “Digandakan saja sekarang.”
         “Tidak bisa, Yah,” tambahnya dengan wajah kuyu. Dia lalu berjalan selangkah-selangkah ke dalam rumah dan meminum orange juice dingin kesukaanya.