Sabtu, 09 Februari 2019

Tidak Semua Yang Tua itu 'Menua"


Tidak Semua Yang Tua Itu Menua
(Menua = bersikap dewasa, bijaksana, merunduk dsb)

“Jangan takut menjadi tua, karena itu hal paling alami yang dialami semua manusia. Tua = merunduk (bijaksana).”

Klise tak harus tidak, tidak penting. Ini pengingat dan bisa dijadikan pegangan hidup saat nanar.  Dapat dijadikan koreksi, sampai dimana kepekaan teman-teman semua dalam melihat diri sendiri, orang-orang terdekat bahkan tingkah polah orang yang terkadang mencengangkan, membuat ternganga, ..tapi tak bisa menyeletuk karena membuat terpaku.

Hebat sekali ini orang, pikir kita. Hebat nyalinya, hebat saking tidak punyanya malu, bahkan bisa lebih hebat dari anak kecil yang bisa berbaris satu-satu sebelum masuk kelas setiap pagi. Ini hebat atau penghinaan ya? Saya kok, ya jadi bimbang sendiri dalam pemilihan kata-kata yang pas. Saya, pas-pas kan saja ya.

Secara kasat mata, bahkan realitas ini ada bahkan pastinya beberapa kali ditemui di lingkungan sekitar. Seandainya teman-teman belum pernah melihat ini, kalian itu beruntung sekali. Soalnya rasanya itu menyebalkan. Coba, apa bayangan kalian, jika melihat orang dewasa (bukan pikun) tapi tidak bisa untuk bijaksana juga. Benturan-benturan fakta dan realita ini sungguh sangat amat memilukan dan mengharuskan usus semakin panjang (pengartian dari istilah Jawa).  Dowo ususe.  Ini bukannya saya tidak bisa menghargai, tapi sebagai bentuk nelangsa semata, kenapa orang tidak mau belajar dan mencerna pengalaman yang telah banyak dilalui. Mungkin itulah gunanya ilmu.  Tapi masalahnya banyak orang berilmu pun, tidak jua merunduk. Berilmu dan ditambah kepekaan.  Benar, ini bukanlah nyindir atau apapun, tulisan ini hanyalah bentuk nelangsa saya yang saya lihat, dengar, rasakan dari orang-orang sekitar saya. Saya hanyalah orang biasa, dari lingkungan biasa, pekerjaan biasa, keluarga biasa. Tidak hebat. Kami pun bukan orang hebat. Seperti realita tua dan fakta.

Saya sebenarnya ingin mengatakan sesuatu tentang hal-hal yang saya lihat dan akhirnya tercetus. Tapi saya tak tega untuk mengatakannya lewat tulisan ini. Biarlah dalam hati saya saja yang tahu. Nelangsa, sedih, memang tak harus dikatakan. Yah, inilah yang membuat orang bisa menjadi ‘tua.’(Tua=bijaksana). Jadi ini pas untuk teman-teman semuanya, cernalah pengalaman kalian semua, bagaimanapun rasanya perasaan kalian, ya terima saja. Ya, ini tidak muluk-muluk tapi kelak teman-teman akan rasakan akan semakin tua semakin merunduk.

Dan sebisa-bisanya hadapilah apapun dalam hidup kalian itu sendiri. Mencoba untuk mengais-ais solusi dari problematika kalian. Dan percayalah pada saya, ini tidak mudah dan tidak semua orang mampu untuk menghadapinya. Mungkin tepatnya hanya orang-orang yang terpilih, dan ..kepepet (terjepit) yang mampu melakukan itu. Karena terlalu banyak orang hidup nyaman, selalu punya seseorang untuk membantu. Entah bagaimana bentuk bantuan itu. Ada berbagai versi bantuan. Ribet sekali ya? Ya, memang banyak hal itu ribet tapi tak perlulah diper-ribetkan. 

Cukuplah dua hal dari blog saya, untuk teman-teman semua. Kalau kalian praktekkan syukur, kalau tidak juga terserah. Kalau dibaca sambil berkaca ya, syukur. Kalau kalian mencibir pun, saya tidak tahu, tapi apa peduli saya. Itulah suara dalam hati saya.

Selamat sore, lalui malam mu dengan tenang dan penuh berkah. Semoga bermanfaat. Jangan takut menjadi tua, karena itu hal paling alami yang dialami semua manusia.Tua = merunduk (bijaksana).