Tidak Semua Yang Tua
Itu Menua
(Menua = bersikap
dewasa, bijaksana, merunduk dsb)
“Jangan takut menjadi tua, karena itu hal paling alami yang
dialami semua manusia. Tua = merunduk (bijaksana).”
Klise tak harus tidak, tidak
penting. Ini pengingat dan bisa dijadikan pegangan hidup saat nanar. Dapat dijadikan koreksi, sampai dimana
kepekaan teman-teman semua dalam melihat diri sendiri, orang-orang terdekat
bahkan tingkah polah orang yang terkadang mencengangkan, membuat ternganga,
..tapi tak bisa menyeletuk karena membuat terpaku.
Hebat sekali ini orang, pikir
kita. Hebat nyalinya, hebat saking tidak punyanya malu, bahkan bisa lebih hebat
dari anak kecil yang bisa berbaris satu-satu sebelum masuk kelas setiap pagi.
Ini hebat atau penghinaan ya? Saya kok,
ya jadi bimbang sendiri dalam
pemilihan kata-kata yang pas. Saya, pas-pas
kan saja ya.
Secara kasat mata, bahkan
realitas ini ada bahkan pastinya beberapa kali ditemui di lingkungan sekitar.
Seandainya teman-teman belum pernah melihat ini, kalian itu beruntung sekali.
Soalnya rasanya itu menyebalkan. Coba, apa bayangan kalian, jika melihat orang
dewasa (bukan pikun) tapi tidak bisa untuk bijaksana juga. Benturan-benturan
fakta dan realita ini sungguh sangat amat memilukan dan mengharuskan usus semakin
panjang (pengartian dari istilah Jawa). Dowo ususe. Ini bukannya saya tidak bisa menghargai, tapi
sebagai bentuk nelangsa semata, kenapa orang tidak mau belajar dan mencerna
pengalaman yang telah banyak dilalui. Mungkin itulah gunanya ilmu. Tapi masalahnya banyak orang berilmu pun,
tidak jua merunduk. Berilmu dan ditambah kepekaan. Benar, ini bukanlah nyindir atau apapun, tulisan ini hanyalah bentuk nelangsa saya yang
saya lihat, dengar, rasakan dari orang-orang sekitar saya. Saya hanyalah orang
biasa, dari lingkungan biasa, pekerjaan biasa, keluarga biasa. Tidak hebat. Kami
pun bukan orang hebat. Seperti realita tua dan fakta.
Saya sebenarnya ingin mengatakan
sesuatu tentang hal-hal yang saya lihat dan akhirnya tercetus. Tapi saya tak
tega untuk mengatakannya lewat tulisan ini. Biarlah dalam hati saya saja yang
tahu. Nelangsa, sedih, memang tak harus dikatakan. Yah, inilah yang membuat
orang bisa menjadi ‘tua.’(Tua=bijaksana). Jadi ini pas untuk teman-teman
semuanya, cernalah pengalaman kalian
semua, bagaimanapun rasanya perasaan
kalian, ya terima saja. Ya, ini tidak muluk-muluk tapi kelak teman-teman
akan rasakan akan semakin tua semakin merunduk.
Dan sebisa-bisanya hadapilah apapun dalam hidup kalian itu
sendiri. Mencoba untuk mengais-ais solusi dari problematika kalian. Dan
percayalah pada saya, ini tidak mudah dan tidak semua orang mampu untuk
menghadapinya. Mungkin tepatnya hanya orang-orang yang terpilih, dan ..kepepet (terjepit) yang mampu melakukan
itu. Karena terlalu banyak orang hidup nyaman, selalu punya seseorang untuk
membantu. Entah bagaimana bentuk bantuan itu. Ada berbagai versi bantuan. Ribet sekali ya? Ya, memang banyak hal
itu ribet tapi tak perlulah diper-ribetkan.
Cukuplah dua hal dari blog saya,
untuk teman-teman semua. Kalau kalian praktekkan syukur, kalau tidak juga
terserah. Kalau dibaca sambil berkaca ya, syukur. Kalau kalian mencibir pun,
saya tidak tahu, tapi apa peduli saya. Itulah suara dalam hati saya.
Selamat sore, lalui malam mu
dengan tenang dan penuh berkah. Semoga bermanfaat. Jangan takut menjadi tua, karena itu hal paling alami yang
dialami semua manusia.Tua = merunduk (bijaksana).