Minggu, 08 Juni 2014

Hidup Untuk Tingkat Yang Lebih Tinggi



Hidup Untuk Tingkat Yang Lebih Tinggi

Walaupun hidup ini indah menurut berbagai versi jangan lupa untuk pencapaian kehidupan yang lebih tinggi (Sumber gambar : Google)

Ketika disakiti atau didholimi bisa menahan diri, sabar dan tidak marah tapi justru memaafkan dan tidak membalas orang-orang yang mendholiminya.

Saya beberapa waktu yang lalu pernah menulis di blog ini juga yang berjudul “Jangan Sok Pahlawan Loe”. Itu adalah tulisan ekspresi dari sisi rasionalitas seorang manusia biasa. Secara ternalar seseorang akan lebih mementingkan kebutuhannya sendiri, bahkan mungkin kalau seseorang itu mencubit akan dibalas dicubit juga. Itu sangat manusiawi.

Tapi untuk kali ini saya akan menuliskan untuk sesuatu hal yang sulit sekali dilakukan oleh seorang manusia. Tindakan ini serupa dengan tindakan para nabi. Sulit sekali bahkan untuk jaman sekarang lebih ke arah jarang karena orang lebih mengedepankan balasan instant. Tapi bukannya tidak mungkin dilakukan manusia, tapi hanya manusia-manusia yang bisa mengendalikan dirinya saja yang sanggup. Tapi untuk urusan ini seseorang harus melepaskan diri dari praktik pencitraaan yang saat ini marak terjadi supaya dianggap baik, supaya disukai banyak orang, supaya gampang mendapatkan pengikut. Praktek ini lebih mengedepankan hubungan pribadinya hanya kepada Tuhannya tidak ada aspek keduniawian.

Kenapa saya katakan begitu detailnya seperti itu. Karena saking sulitnya dilakukan oleh manusia seperti saya bahkan Anda-anda sekalian. Hanya manusia yang ikhlas, sabar dan bisa menahan diri yang sanggup. Dan yang perlu digaris bawahi adalah adalah tanpa tendensi. Keduniawian bukan apa-apa lagi untuknya. Tapi jangan serta merta mengatakan Anda serupa nabi karena bisa melakukannya? Itu lebih salah kaprah lagi. Bingung? Hanya orang-orang tertentu yang bisa paham kata-kata saya ini.

Baiklah, tindakan itu adalah “Ketika disakiti atau didholimi bisa menahan diri, sabar dan tidak marah tapi justru memaafkan dan tidak membalas orang-orang yang mendholiminya.” Kuno? Itu mungkin persepsi Anda. Itulah kenapa semakin banyak orang-orang berperangai buruk di dunia ini karena semakin meninggalkan tindakan tersebut. Memang hanya orang-orang yang berusaha sekuat tenaga mendekatkan diri pada Tuhannya yang mendapat petunjuk.