Jumat, 21 Maret 2014

Ketika tersesat



Ketika Tersesat
 
Temukan tempat indah dari ketersesatan. Tapi bagaimana dengan perasaan tersesat...(Sumber gambar : Google)
"Sebetulnya ingin sekali membuat memakai bahasa lain tapi rasanya sedang tak punya tenaga. Sulit sekali membuat ejaannya." Wah, wah…

Cara tergampang ketika tersesat, ya bertanya. Bertanya ke orang yang ditemui ke siapa saja tanpa pandang bulu. Tapi lihat-lihat juga kira-kira siapakah orang yang kita tanya. Pernah saya mendengar cerita seseorang kalau dia katanya lebih baik tersesat daripada bertanya. Memang hal apapun itu kembali ke pribadi masing-masing.

Bertahun-tahun yang lalu ketika masih kecil dulu saat jaman masih damai belum ada hingar bingar yang keterlaluan saya dan dua teman saya pulang dari rumah sakit sepertinya dulu itu menjenguk guru yang sakit. Kebetulan jalur pulang saya tidak searah dengan teman-teman saya tersebut. Di jalan, saya menyetop sebuah bis yang saya anggap itu sudah benar. Ternyata tak kuduga dan tak kusangka bus itu melesat jauh dari jalur yang kukira benar. Baru saya sadari itu setelah mereka-reka jalan yang terasa begitu asing dan lengang tapi sudah terlambat. Untuk usia sekecil itu panik terasa bagaikan sebuah perasaan hilang dan tak mungkin kembali. Saya berusaha bertanya dan dengan jawaban yang sudah kuduga. Saya benar-benar tersesat. ‘Jangan kuatir ya dik, nanti lewat jalan itu kok. Enak-enakin ya duduknya!’ Dan ketika akan dibayar Pak kondekturnya menolaknya. Kupaksa tapi tetap tak mau. Pak kondektur anda baik hati sekali. Waktu terasa sangat panjang. Dengan perasaan bercampur baur dan duduk yang ditenang-tenangkan akhirnya sampailah di jalan yang kudamba-dambakan, jalan yang begitu dekat di hatiku ketika waktu sudah merambat ke seperempat malam. Bangku semen yang pertama kulihat seketika itu juga ingin serta merta kulestarikan dari pelebaran jalan, dan yang lebih mengharukannya ibu dan ayahku dari balik bayangan pepohonan gelap sudah lama menungguku tersenyum menyapaku. Terasa begitu nyaman dan tenang.

Sebenarnya malu, tapi karena situasi tak mendukung untuk perasaan itu maka hal tersebut benar-benar terasa sebagai sebuah perasaan biasa saja. Hanya itu. Jadi dapat disimpulkan  anak-anak kecil mungil itu sebenarnya bisa bersikap bijak juga. 

Apapun itu perasaan tak nyaman akan timbul ketika seseorang menemui situasi asing. Tapi perkecualian, bagi seseorang yang terbiasa situasi apapun  itu bukan pencetusnya.

Senin, 17 Maret 2014

Home Sweet Home



Home Sweet Home

Setiap tempat tinggal memberikan sejuta makna penilaian (Sumber gambar : Google)

Kembali ke rumah adalah akhir dari sebuah perjalanan dan awal dari sebuah penyusunan rencana kelak yang akan dilakukan. Awal dan akhir berada di sini. Tentunya tak mudah memisahkan beban dari sesuatu hal mungkin beban bahkan mungkin sisa dari bagian yang dihadapi seseorang untuk benar-benar dihilangkan. 

Jadi bukan hal aneh lagi jika perasaan sampai di rumah itulah impian dari mahkluk-makhluk berbeban. Bagaikan kuda beban setiap hari membawa, dicerca bahkan dihujat dengan sejuta alasan yang begitu membebani fisik, perasaan dan hati. Kembali ke rumah adalah alasan dari sebuah letupan perasaan senang dan gembira. Bagaikan sebuah loncatan perasaan kembang api yang lepas, begitu indah dan menyenangkan. 

Namun ada kalanya tak mudah untuk ‘kembali’ ke rumah. Di rumah namun tak merasa di rumah. Entah kemana lagi perasaan,  mungkin tertinggal di jalan sewaktu perjalanan pulang, atau mungkin terbawa orang sewaktu di peron bahkan mungkin terselip di antara buku jurnal besar di kantor, bahkan mungkin tersesat. Bahkan tak tahu jalan pulang. 

Apapun perasaannya saat inilah waktu yang tepat untuk merasakan kenyamanan entah di rumah, di keramaian, di jalan, di kantor bahkan di tempat menyepi anggaplah tempat saat ini sebagai tempat senyaman ketika merasa di rumah. Tanpa beban dan begitu ringan biarkan menari dan meletup-letup kegirangan. Karena dimanapun jiwa home sweet home ada dimanapun.