Tumbuh
Kembang Si Manis
Menceritakan
si Manis bagaikan menceritakan anggota keluarga. Sejak penculikannya selama
tiga hari sikap si Manis menjadi berubah. Dia trauma pergi keluar rumah.
Kasihan ...padahal dulu biasanya dia biasa keluar rumah dan pulang subuh. Tak
tahulah ada apa gerangan dia? Yang kita semua tahu pasti ada sesuatu ‘di luar’
yang membuatnya takut. Apa ya? Itu sebetulnya yang kutanyakan.
Si
Manis adalah kucing gaul. Pada mulanya dulu dititipkan emaknya dengan cara
‘ditinggal’ sedikit demi sedikit. Pada mulanya diantar di dekat pagar, terus di
beranda rumah akhirnya di dekat dapur. Itulah taktik si emaknya manis. Saya
anggap gaul karena dia memiliki dua
kucing sahabatnya, tapi kata ibu kemungkinan mereka saudara si manis yang
bernama, si banci dan si panda.
Mereka
bersahabat dekat bahkan dengan sukarela si manis akan memberikan makanannya
untuk kedua kucing sahabatnya tersebut. Bahkan dengan keikhlasan ala ‘kucing
bodoh’ dia berikan burung tangkapannya untuk si Panda. Heran baru kali ini ada kucing
semanis dan sebaik si manis. Saya kira itu jarang terjadi di dunia kucing.
Akhirnya
beberapa hari belakangan ini si Manis semakin fit dan sudah pergi ke luar rumah
dengan lincah. Bak prajurit dia berhasil menangkap cindil, anak seekor tikus. Bahkan ada kemajuan besar dia berani
naik genteng rumah diajari si gesit yang merupakan sahabat barunya yang berupa
seekor kucing coklat berekor panjang.
Memang
si Manis selalu manis dan menjadi kebanggaan kita semua. Tampangnya memang tak
manis tapi sikapnya lebih manis dari kucing-kucing kebanyakan. Hatinya baik
karena dia mau berbagi. Selebihnya dia seperti kucing-kucing kebanyakan yang
nakal, malas, perusak dan pencari muka. Sampai di sini cerita tentang si Manis
yang memang manis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar