Sabtu, 03 November 2012

Si Manis, kucing

Tumbuh Kembang Si Manis


Menceritakan si Manis bagaikan menceritakan anggota keluarga. Sejak penculikannya selama tiga hari sikap si Manis menjadi berubah. Dia trauma pergi keluar rumah. Kasihan ...padahal dulu biasanya dia biasa keluar rumah dan pulang subuh. Tak tahulah ada apa gerangan dia? Yang kita semua tahu pasti ada sesuatu ‘di luar’ yang membuatnya takut. Apa ya? Itu sebetulnya yang kutanyakan.
Si Manis adalah kucing gaul. Pada mulanya dulu dititipkan emaknya dengan cara ‘ditinggal’ sedikit demi sedikit. Pada mulanya diantar di dekat pagar, terus di beranda rumah akhirnya di dekat dapur. Itulah taktik si emaknya manis. Saya anggap gaul karena dia memiliki  dua kucing sahabatnya, tapi kata ibu kemungkinan mereka saudara si manis yang bernama,  si banci dan si panda.
Mereka bersahabat dekat bahkan dengan sukarela si manis akan memberikan makanannya untuk kedua kucing sahabatnya tersebut. Bahkan dengan keikhlasan ala ‘kucing bodoh’ dia berikan burung tangkapannya untuk si Panda. Heran baru kali ini ada kucing semanis dan sebaik si manis. Saya kira itu jarang terjadi di dunia kucing.
Akhirnya beberapa hari belakangan ini si Manis semakin fit dan sudah pergi ke luar rumah dengan lincah. Bak prajurit dia berhasil menangkap cindil, anak seekor tikus. Bahkan ada kemajuan besar dia berani naik genteng rumah diajari si gesit yang merupakan sahabat barunya yang berupa seekor kucing coklat berekor panjang.
Memang si Manis selalu manis dan menjadi kebanggaan kita semua. Tampangnya memang tak manis tapi sikapnya lebih manis dari kucing-kucing kebanyakan. Hatinya baik karena dia mau berbagi. Selebihnya dia seperti kucing-kucing kebanyakan yang nakal, malas, perusak dan pencari muka. Sampai di sini cerita tentang si Manis yang memang manis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar