Kamis, 31 Oktober 2013

Kepercayaan Bukan Untuk Dilanggar



KEPERCAYAAN BUKAN UNTUK DILANGGAR


Norak amat loe kalau ngomong (Sumber gambar : Google)

Rasa-rasanya statement ini so clise. Terlalu datar dan terlalu biasa. Bahkan untuk saat ini terdengar terasa menggurui. Tapi bagi orang yang merasa teraniaya dengan pernyataan itu rasanya so heavy. Bahkan ketika dipertemukan dengan uang yang lumayan menggiurkan pun rasanya tak berasa.

Ketika seseorang diberikan tanggung jawab tentu pada dasarnya orang akan berusaha melaksanakannya. Namun masalahnya dia akan berusaha melaksanakannya atau mungkin sambil lalu saja. Tapi katakanlah kita berpikir semua orang akan melaksanakannya, anggaplah karena orang tersebut memiliki perasaan, nalar, pengetahuan, moralitas, agama, dan berbagai hal pendukung lainnya.  Tapi katakanlah apa yang dilakukan demi tanggung jawab itu sudah maksimal, bahkan sudah lakukan yang terbaik. Namun hal tersebut  seolah-olah ternoda karena orang lain seolah-olah menyepelekan bahkan tak menganggap apa yang telah dia lakukan. Rasa-rasanya itu benar-benar menghina kemampuan orang tersebut. 

Kehidupan ala pengiun di lautan es yang dingin mencekam (Sumber gambar : Google)

Si korban tersebut tentu akan bertanya-tanya apa ‘dia harus berpikir dia itu tidak berguna’ atau bahkan mungkin berpikir dramatis ‘orang yang menghina dia tidak bermoral atau mungkin dia sendiri pelaku pelanggaran tanggung jawab’. Katakanlah kita  berpikir jika apa yang yang dilakukan korban hasil kerjanya sudah bagus. Tapi cobalah si pemberi tanggung jawab itu seharusnya berpikir dulu sebelum berucap hal yang tak mengenakkan tersebut. Soalnya tanggung jawab itu ada batasnya bukannya tak terbatas. Karena setiap manusia itu punya kehidupan sendiri tak profesional rasanya jika hidupnya pribadi seseorang menjadi ikut serta carut marut dibuatnya. Hanya karena penilaian yang tak profesional bahkan bisa berbau subjektif.

Memang manusia siapapun itu memiliki beban bahkan mungkin beban seseorang itu rasa-rasanya tak tertahankan. Tapi ingatlah tidak hanya dia sendiri di dunia ini yang memiliki beban bahkan anak kecil yang baru tahu kalau ibu-bapaknya ribut teruspun memiliki beban. Tak ada seorang pun di dunia ini yang tak memiliki beban.

Jadi bijaklah! Orang itu semakin tinggi semakin tinggi juga harapan orang atas  tuntutan kebijaksanaan  untuknya, semakin berharaplah orang untuk ‘toleransinya’, bahkan kalau dia mumpuni orang akan bersedia berbagi beban dengannya. Akan banyak doa yang teriring untuknya kalau dia tepat dalam bertindak. Jadi bijaklah!
Untungnya kebaikan masih ada. Aku percaya itu (sumber gambar : Google)

Sabtu, 12 Oktober 2013

Mengoreksi hidup



Metani Kehidupan

Secangkir 'bye-bye kopi' di suatu sore (Sumber gambar : Google)

Our prime purpose in this life to help others. And if you can’t help them, at least don’t hurt them (Dalai Lama)

Orang bilang berolahragalah supaya sehat. Orang juga pernah berkata kamu itu buruk rupa buruk pula perilakumu ck, ck, ck. Orang juga pernah membuang muka ketika kita sapa. Terkadang ada sapaan ramah, mungkin suatu saat berbalik arah. Begitu banyak peristiwa. Manakah yang kalian ingat dari perilaku orang tersebut kepada kita?  Maka mungkin ada ingatan yang langsung tertuju ke suatu peristiwa. Sialan, umpatnya.

Baiklah. Semuanya memang sesuatu yang biasa, sesuatu yang tak mungkin tidak dilalui seseorang. Konsekuensi dari seseorang yang diberi kehidupan, hidup di suatu komunitas, bergumul dengan orang-orang lain yang tak mungkin difilter ucapannya, maupun sikap-sikap orang yang secara ‘alami’ memang perilakunya buruk.

Tapi tak semua yang buruk itu memburukkan hidup seseorang. Justru orang semakin terasah agar bisa hidup lebih terarah tanpa harus bersikap buruk ke orang lain. Dia sudah berempati karena disikapi buruk itu sesuatu yang tidak menyenangkan. Alangkah beruntungnya bertemu dengan orang-orang tersebut. Tapi yang pasti orang akan semakin terasah dengan masalah yang secara sengaja maupun tidak sengaja mereka hadapi. Semakin tinggi pohon semakin berangin. Katanya.