Yang Menyedihkan Itu Tiga (3)
Pasar memang riuh, apalagi
sekeliling kutu di kepala pun berloncatan karena kepanasan. Sepanas kepalaku
saat ini. Memilih keranjang yang pas untuk belanjaanku. Apa ya? pikir saya
dengan fasih. Ketika di hadapan saya saat ini berjejer : keranjang dari plastik
dan keranjang dari rotan.
Ini bukanlah pengalaman pertama
saya membeli keranjang. Tapi kok saya masih gamang juga ya. Apa karena efek
rumah kaca yang membakar kepala hingga dehidrasi dan isi kepala ikut menguap juga.
Atau karena ..saya terlalu pemikir atau bahkan telat mikir. Ingin rasanya
menelpon 008 untuk menanyakan solusi tepat untuk saya ini.
Dulu..saya pernah membeli
keranjang plastik tapi dalam waktu singkat langsung meleleh karena panasnya
cuaca kota saya. Dan lelehan itupun melukai dan melepuhkan kulit. Sakiiit sekali
rasanya.
Dulu juga, pernah membeli
keranjang rotan, aman dan kelihatan beda dengan plastik. Bahkan tumbuh
sulur-sulurnya pula. Benar-benar beda.
Ah, tentu ini lebih baik, pikir saya.
Tapi saya kemudian teringat,
tujuan saya ke pasar itu untuk mencari keranjang fiber optik. Ya,
tahulah anak sekolah jaman sekarang.
“Pak, ada keranjang fiber optik,”
tanya saya celingukan mencari-cari.
“Ada, dik. Di surga sana..,” kata
Bapak penjual dengan muka sebal.
Tapi sebagai anak sekolah,
jawaban itu tak menciutkan hati saya yang memang dari dulu sudah ciut.
Saya terdiam, ingin rasanya hari
ini seketika hujan saja, karena itu akan menyelesaikan masalah di mata saya.
Tiba-tiba saya terngiang lagi ucapan tetangga dekat rumah saya, dulu saat saya
jatuh di tanah becek. “Mau ke mana , Nak?” tanyanya.
“Mau ke kota Baru?”
“Teruskan perjalananmu.
Seandainya teman-teman kamu itu sampai di Kota baru bisa mereka tempuh dalam
waktu satu jam, tapi seandainya kamu bisa menempuhnya selama setahun bahkan dua
tahun tidak apa-apa. Tapi tujuanmu tercapai, bukan?”
Hati saya pun merasakan seketika
detak-detak tujuan saya.
![]() |
| Keranjang Impian (Sumber gambar : Google) |
