Minggu, 09 September 2018

Yang Menyedihkan Itu Tiga (3)


Yang Menyedihkan Itu Tiga (3)

Pasar memang riuh, apalagi sekeliling kutu di kepala pun berloncatan karena kepanasan. Sepanas kepalaku saat ini. Memilih keranjang yang pas untuk belanjaanku. Apa ya? pikir saya dengan fasih. Ketika di hadapan saya saat ini berjejer : keranjang dari plastik dan keranjang dari rotan.

Ini bukanlah pengalaman pertama saya membeli keranjang. Tapi kok saya masih gamang juga ya. Apa karena efek rumah kaca yang membakar kepala hingga dehidrasi dan isi kepala ikut menguap juga. Atau karena ..saya terlalu pemikir atau bahkan telat mikir. Ingin rasanya menelpon 008 untuk menanyakan solusi tepat untuk saya ini. 

Dulu..saya pernah membeli keranjang plastik tapi dalam waktu singkat langsung meleleh karena panasnya cuaca kota saya. Dan lelehan itupun melukai dan melepuhkan kulit. Sakiiit sekali rasanya.
Dulu juga, pernah membeli keranjang rotan, aman dan kelihatan beda dengan plastik. Bahkan tumbuh sulur-sulurnya pula. Benar-benar beda.  Ah, tentu ini lebih baik, pikir saya.

Tapi saya kemudian teringat, tujuan saya ke pasar itu untuk mencari keranjang fiber optik. Ya, tahulah anak sekolah jaman sekarang.
“Pak, ada keranjang fiber optik,” tanya saya celingukan mencari-cari.
“Ada, dik. Di surga sana..,” kata Bapak penjual dengan muka sebal.

Tapi sebagai anak sekolah, jawaban itu tak menciutkan hati saya yang memang dari dulu sudah ciut.
Saya terdiam, ingin rasanya hari ini seketika hujan saja, karena itu akan menyelesaikan masalah di mata saya. Tiba-tiba saya terngiang lagi ucapan tetangga dekat rumah saya, dulu saat saya jatuh di tanah becek. “Mau ke mana , Nak?” tanyanya.
“Mau ke kota Baru?”
“Teruskan perjalananmu. Seandainya teman-teman kamu itu sampai di Kota baru bisa mereka tempuh dalam waktu satu jam, tapi seandainya kamu bisa menempuhnya selama setahun bahkan dua tahun tidak apa-apa. Tapi tujuanmu tercapai, bukan?”

Hati saya pun merasakan seketika detak-detak tujuan saya.

Keranjang Impian (Sumber gambar : Google)