Selasa, 17 Maret 2015

Rasanya Tanpa Rasa



Rasanya Tanpa Rasa

Pintar-pintarlah tahu kapan bertanya atau diam (Sumber gambar : Google)

Pernah saya dulu bertanya kepada seorang sahabat. Dengan rasa antusias saya bertanya dan berharap mendapat jawaban yang memang saya suka yang paling tidak menarik. Sampai hari ini saya masih saja terdiam setiap mengingatnya.

Saya bertanya kepadanya ‘Bagaimana hidupmu saat ini?’ Saya begitu bersemangat bertanya kepadanya karena saya ingin mengerti keadaan dia saat itu. Tapi betapa terpukulnya hati saya ketika dia menjawab ‘Biasa-biasa saja.’ Bahkan pertanyaan yang sama pernah saya tanyakan dulu dan dia pun pernah menjawab ,’Hidup senang maupun susah tidak dirasakan lagi.’ Saya justru seketika bertanya apakah demikian canggihnya peralatan perasaannya hingga sedemikian rupa dia sudah lumer dengan keadaan jaman hingga semuanya dianggap biasa. Karena dia sudah merasakan bahkan begitu familiar dengan bahagia, kesedihan hingga seolah mereka itu sahabat-sahabat baik hingga tak bisa membedakannya lagi? Atau wow secara dramatis saya berpikir dia telah kehilangan sesuatu yang berharga dari hidupnya hingga sebenarnya dengan segan dia hidup. Apa kau begitu menantikan dia, dan begitu berharganya dia hingga kau separuh hidup dan separuh mati. Pikir saya.

Banyak hal memang mau tak mau dilalui seorang manusia entah itu bahagia, kesedihan, bahkan percampuran dari keduanya bahkan mungkin perasaan mati rasa karena begitu tertekannya seseorang hingga membuang jauh emosi-emosi pribadinya. Mungkin karena terluka atau mungkin tak mau dilukai. Jadi mungkin itu akan mengaburkan arti jika seseorang itu tertawa pasti semua orang akan mengartikan sedang berbahagia padahal bagaimana orang tahu bagaimana rupa hatinya saat itu. Jadi semacam peringatan agar jangan lagi terlalu mempercayai pandangan mata biasa. Tapi sebagai manusia biasa saya pasti tidak seutuhnya benar atas apa yang saya duga, mungkin terdapat teori lebih canggih lagi untuk bisa mengartikan kata-kata sahabat saya itu. Hanya dia yang tahu dan saya menghargainya.