Rasanya Tanpa Rasa
![]() |
| Pintar-pintarlah tahu kapan bertanya atau diam (Sumber gambar : Google) |
Pernah saya dulu bertanya
kepada seorang sahabat. Dengan rasa antusias saya bertanya dan berharap
mendapat jawaban yang memang saya suka yang paling tidak menarik. Sampai hari
ini saya masih saja terdiam setiap mengingatnya.
Saya bertanya kepadanya ‘Bagaimana
hidupmu saat ini?’ Saya begitu bersemangat bertanya kepadanya karena saya ingin
mengerti keadaan dia saat itu. Tapi betapa terpukulnya hati saya ketika dia
menjawab ‘Biasa-biasa saja.’ Bahkan pertanyaan yang sama pernah saya tanyakan
dulu dan dia pun pernah menjawab ,’Hidup senang maupun susah tidak dirasakan
lagi.’ Saya justru seketika bertanya apakah demikian canggihnya peralatan
perasaannya hingga sedemikian rupa dia sudah lumer dengan keadaan jaman hingga
semuanya dianggap biasa. Karena dia sudah merasakan bahkan begitu familiar
dengan bahagia, kesedihan hingga seolah mereka itu sahabat-sahabat baik hingga
tak bisa membedakannya lagi? Atau wow secara dramatis saya berpikir dia telah
kehilangan sesuatu yang berharga dari hidupnya hingga sebenarnya dengan segan
dia hidup. Apa kau begitu menantikan dia, dan begitu berharganya dia hingga kau
separuh hidup dan separuh mati. Pikir saya.
Banyak hal memang mau tak mau
dilalui seorang manusia entah itu bahagia, kesedihan, bahkan percampuran dari
keduanya bahkan mungkin perasaan mati rasa karena begitu tertekannya seseorang
hingga membuang jauh emosi-emosi pribadinya. Mungkin karena terluka atau
mungkin tak mau dilukai. Jadi mungkin itu akan mengaburkan arti jika seseorang
itu tertawa pasti semua orang akan mengartikan sedang berbahagia padahal
bagaimana orang tahu bagaimana rupa hatinya saat itu. Jadi semacam peringatan
agar jangan lagi terlalu mempercayai pandangan mata biasa. Tapi sebagai manusia
biasa saya pasti tidak seutuhnya benar atas apa yang saya duga, mungkin
terdapat teori lebih canggih lagi untuk bisa mengartikan kata-kata sahabat saya
itu. Hanya dia yang tahu dan saya menghargainya.
