Sabtu, 07 November 2015

Hujan



Hujan
 
Hujan dan tanah basah (Sumber : Google)
Hore!!! Hujan turun siang ini, tepatnya jam 13:10 walau tak deras tapi mendinginkan. Tak seberapa tapi menentramkan. Tentu banyak doa-doa yang telah terlontar hari ini. Doa yang kan terjawab atau ditahan oleh Pencipta. Tapi yang pasti seiring jalannya waktu arti akan hujan mungkin akan sedikit bergeser. Entah bergeser ke sisi kiri atau kanan bahkan sisi lain. Bagi si remaja atau dewasa muda mungkin hujan itu merupakan sesuatu yang romantis. Bahkan tercipta jutaan keindahan karenanya. Tidak hanya tik-tik titikan air tapi memiliki arti yang lebih dari sekedarnya. Ya, benar unsur rasa dan itu terlalu subjektif.
 
Amtara hujan dan harapan (sumber gambar : Google)
Namun seiring dengan pertambahan usia hujan memang masih spesial namun lebih pada realitanya . Dampaknya. Hujan membuat cucian basah maka terjadilah gambaran perbedaan yang nyata. Si remaja akan melepas payungnya lalu berhujannya-hujannya supaya merasakan damainya air hujan, dan romantisnya titikan air tapi bagi ibu-ibu, mereka  akan berlarian berdebum-debum mengambili cucian kering jangan sampai kebasahan. Tak terpikirkan tetes-tetes air itu begitu romantis bahkan tak terlihat lagi turunnya pun terlihat dramatis jika diperlambat. Tes, tes, tes. Tapi yang pasti euforia atas turunnya sang hujan kali ini benar-benar bagaikan hadiah setelah berbulan-bulan lamanya kemarau panjang. Bahkan kini para relawan pembawa air agak bisa bernafas lega karena tugas mereka  tentu saja tak seberat kemarin bahkan mungkin akan bebas tugas.
 
Aku tak suka basah (sumber gambar : Google)
Banyak harapan dan begitu banyak pengharapan yang terlontar. Tapi hujan lah pemenangnya hari ini.
Biar tak hujan...(sumber gambar : Google)