Banjir! Wah Banjir…
“Kami ingin glamour,” kata mereka. Impian memang tak boleh
dipatahkan oleh keadaan dan nasib sekalipun.
Air itu memang mengalir. Bahkan
mengalir sampai jauh. Jauh ke daratan tak berpenghuni maupun yang padat
penghuni. Tak mengapa air, karena kami membutuhkanmu. Tapi kami begitu terluka
tak kala kau kirimi kami bala tentaramu hingga menggenangi lantai rumah,
membasahi sofa kami, kasur jadi tak terpakai, kekurangan makanan bahkan membuat
kami tak bisa tidur nyenyak karena harus berdesak-desakan tidur dengan keluarga
lain dan kedinginan. Tragisnya
hidup kami. Semua gara-gara kamu, air!
Kami begitu marah. Tahu tidak
berapa banyak uang yang harus kami keluarkan untuk merenovasi rumah kami, belum
lagi memperbaiki instalasi listrik rumah, membeli mebel baru, hilangnya
barang-barang kesukaan kami. Tahukah
kamu, ada juga saudara kami yang harus bersedia untuk kembali ke mem-bumi. Kami risau dan kami galau. Tak ubahnya kau
wabah dan penyakit untuk kami. Kami ingin membinasakanmu!
Tapi tunggu dulu, ingin
membinasakanku? Katamu lagi. Kau kemudian tertawa-tawa panjang dan semakin
melengking dan kemudian terbahak-bahak.
Aku geragapan, menyesali
perkataanku dan umpatanku. Maaf, kataku.
Kami sebetulnya sadar, kami
kurang cerdas membacamu, air.
Tak kami persiapkan kedatanganmu dan balatentaramu tak kala bertamu ke tempat
kami. Tak kami persiapkan tanah cekung yang luas sekali untukmu padahal kau
menyukai itu. Sekali lagi maaf. Memang saat ini tak banyak hal yang bisa kami
lakukan setiap kau datang dengan begitu banyak bala tentara. Tak juga kami
buatkan jalan-jalan luas untukmu lewat, dan kami juga serakah menguasai
daerah-daerah kekuasaanmu. Kami tahu kau marah karenanya. Kami terpaksa lakukan itu, tuan air, mengingat hanya itu
yang tertempati kami. Kami hanya kuat itu. Inginnya kami memiliki tempat di
daerah beraspal luas yang nyaman, dimana banyak pepohonan di kanan-kirinya
hingga asri, dengan rumah yang begitu
nyaman dan menenangkan.
Kau akhirnya menunduk.
Sementara itu tuan air melihat
nun jauh disana , tampak beberapa lelaki kecil dengan gembiranya bermain air di
tempat yang menurutmu tak elok. Di tempat tumpukan sampah. Sementara itu tampak
beberapa perempuan kecil sedang mencoba pakaian-pakaian bekas yang mereka
terima. Mereka mematut-matut diri. “Kami ingin glamour,” kata mereka. Impian
memang tak boleh dipatahkan oleh keadaan dan nasib sekalipun.
