Selasa, 29 Januari 2013

Banjir



Banjir! Wah Banjir…


“Kami ingin glamour,” kata mereka. Impian memang tak boleh dipatahkan oleh keadaan dan nasib sekalipun.

Air itu memang mengalir. Bahkan mengalir sampai jauh. Jauh ke daratan tak berpenghuni maupun yang padat penghuni. Tak mengapa air, karena kami membutuhkanmu. Tapi kami begitu terluka tak kala kau kirimi kami bala tentaramu hingga menggenangi lantai rumah, membasahi sofa kami, kasur jadi tak terpakai, kekurangan makanan bahkan membuat kami tak bisa tidur nyenyak karena harus berdesak-desakan tidur dengan keluarga lain dan kedinginan. Tragisnya hidup kami. Semua gara-gara kamu, air!

Kami begitu marah. Tahu tidak berapa banyak uang yang harus kami keluarkan untuk merenovasi rumah kami, belum lagi memperbaiki instalasi listrik rumah, membeli mebel baru, hilangnya barang-barang kesukaan kami. Tahukah kamu, ada juga saudara kami yang harus bersedia untuk kembali ke mem-bumi. Kami risau dan kami galau. Tak ubahnya kau wabah dan penyakit untuk kami. Kami ingin membinasakanmu!

Tapi tunggu dulu, ingin membinasakanku? Katamu lagi. Kau kemudian tertawa-tawa panjang dan semakin melengking dan kemudian terbahak-bahak.
Aku geragapan, menyesali perkataanku dan umpatanku. Maaf, kataku.

Kami sebetulnya sadar, kami kurang cerdas membacamu, air. Tak kami persiapkan kedatanganmu dan balatentaramu tak kala bertamu ke tempat kami. Tak kami persiapkan tanah cekung yang luas sekali untukmu padahal kau menyukai itu. Sekali lagi maaf. Memang saat ini tak banyak hal yang bisa kami lakukan setiap kau datang dengan begitu banyak bala tentara. Tak juga kami buatkan jalan-jalan luas untukmu lewat, dan kami juga serakah menguasai daerah-daerah kekuasaanmu. Kami tahu kau marah karenanya. Kami terpaksa  lakukan itu, tuan air, mengingat hanya itu yang tertempati kami. Kami hanya kuat itu. Inginnya kami memiliki tempat di daerah beraspal luas yang nyaman, dimana banyak pepohonan di kanan-kirinya hingga asri, dengan rumah yang begitu nyaman dan menenangkan.

 Kau akhirnya menunduk.

Sementara itu tuan air melihat nun jauh disana , tampak beberapa lelaki kecil dengan gembiranya bermain air di tempat yang menurutmu tak elok. Di tempat tumpukan sampah. Sementara itu tampak beberapa perempuan kecil sedang mencoba pakaian-pakaian bekas yang mereka terima. Mereka mematut-matut diri. “Kami ingin glamour,” kata mereka. Impian memang tak boleh dipatahkan oleh keadaan dan nasib sekalipun.

Tidak Etis



Tidak Etis


“Apakah hukuman saya kemarin etis?” tanyaku berlagak hati-hati. Lama sekali mereka terdiam. Dengan segan layaknya seorang teman yang bosan dia berkata, “Tidak etis!” 

Pagi-pagi sudah kupersiapkan hati dan perasaan untuk memulai hari. Benar adanya, ternyata ada berita duka. “Ada yang tidak membawa tugas yang saya berikan kemarin?” Kukeliling memeriksa pekerjaan mereka. Benar saja, ada dua anak yang tak mengerjakan, dengan alasan kelupaan. Atas nama rasa superioritas aku menghukum mereka supaya mereka terkesan. Supaya tidak mengulangi perbuatan mereka, pikirku meletup-letup dan menjerit-jerit kata dewi kebaikan dalam diriku.

“Apakah mengesankan hukuman saya?” tanyaku sok naif, untuk semakin menunjukkan kekuasaanku. “Tidak.” Merekapun jatuh terduduk. Tak kuat merasakan lelah. Dasar anak-anak pikir setan-setan calon penghuni neraka ketika melewati tempat tersebut. Kasihan juga sih, pikir si setan partner. Mau-maunya, kata yang lain. Harus itu peraturan manusia, timpal yang lain. Aku malas menjadi manusia, kata yang lain lagi. Bahagianya aku meskipun aku begini. Ucap syukur mereka. Mungkin baru kali ini ada setan bersyukur.
Alhasil aku hari itu merasa begitu berkuasa bagai ratu. Apa yang kukatakan segera terlaksana hanya dengan menjentikkan jari-jari lentikku. Betapa luar biasanya diriku. Tambahan kekuatan di luar diriku semakin menggelorakan euforia rasa menang. 

Dalam perjalanan pulang siang itu aku bersiul-siul riang begitu gembiranya. Bahkan aku terlupa menerima uang kembali ketika mampir di sebuah toko. Biarlah, biar menjadi rejeki mereka, kataku yang seketika berhati malaikat. Betapa berbudinya orang itu, pikir pemilik toko. Malaikat akhirnya menepukinya dan berharap hal itu terus adanya. Bahkan sepanjang jalan aku melihat begitu mudahnya orang berbuat baik, mulai dari seorang anak yang menyeberangkan si tua renta, ibu-ibu yang membelikan es krim untuk anaknya, bapak-bapak yang risau takkala anaknya mencoba sepeda barunya untuk pertama kalinya. Semuanya menakjubkan, pikirku.

Hari berikutnya masih juga sama. Berlalu juga hari kemarin. Sebagai perwujutan bentuk rasa demokratisku kutanyakan ke mereka, “Apakah hukuman saya kemarin etis?” tanyaku berlagak hati-hati. Lama sekali mereka terdiam. Dengan segan layaknya seorang teman yang bosan dia berkata, “Tidak etis!”
Sudah kuduga.

Selasa, 22 Januari 2013

Yang Terpikirkan Saat Ini



Yang Terpikirkan Saat Ini

Kenapa ya antara gambar dan tulisan tidak nyambung?He he he...

Sebetulnya dengan lulus sekolah tingkat yang biasa-biasa saja seseorang itu bisa menjadi kaya asal ‘dengan catatan tertentu’. Pendidikan tinggi itu menurut saya menjadikan hidup seseorang itu lebih bahagia atas apapun yang diterimanya. Luar biasa sekali ya kelihatannya.
Kenapa ya perasaan sesal baru terpikirkan saat ini? Aku yang baru sadar atau aku yang tak mau peduli. Itulah hal sekilas yang terlintas begitu saja.
Inginku kumenjadi seperti yang kumau, seperti dulu takkala aku lulus SMP dan masuk sekolah kejuruan tertentu seperti yang kumau. Tak usah sekolah tinggi tapi bisa kaya raya. Terlebih-lebih aku melihat kemampuan orang tuaku terlalu realistis, atau lebih tepatnya lagi bukan orang kaya. Ternyata kenyataanya tingkat sekolahku kini telah terlampaui dari impianku dulu. Sebetulnya kalau aku boleh pilih, lebih baik aku menjadi seperti impianku setelah SMP dulu.
Aku rasa semua kenyataan diriku sepenuhnya saat ini karena terpeleset. Mungkin orang akan mengatakan tak mengapa, tapi aku merasa tak nyaman.
Itulah manusia selalu saja tak puas. Tapi sekali lagi kukatakan berjuta kali aku menyesal aku lebih baik menjadi seperti apa yang kumaui dulu.
Tapi akhirnya dari pengalaman hidupku aku bisa menuliskan kesimpulan besar dari pengalaman periode tersebut. Sebetulnya dengan lulus sekolah tingkat yang biasa-biasa saja seseorang itu bisa menjadi kaya asal ‘dengan catatan tertentu’. Misalnya dia kerja keras, kemauannya kuat dan sebagainya. Sebetulnya pendidikan tinggi bukan jaminan seseorang untuk hidup kaya dan sukses. Tapi ini perkataan orang yang ‘kurang berhasil’. Pendidikan tinggi itu menurut saya menjadikan hidup seseorang itu lebih bahagia atas apapun yang diterimanya. Luar biasa sekali ya kelihatannya. Terlebih-lebih saya sudah survey secara diam-diam dengan sampel  beberapa orang. Walaupun mungkin survey saya itu ke-valitannya(kesempurnaannya) kurang. Mereka yang relative pendidikanya kurang tinggi, terus saja merasa kurang-kurang-dan lagi-lagi kurang. Jadi kurang ada suatu perasaan kebersyukuran atas apa telah mereka terima.
Orang memang hidup itu hanya sekali, kalau dunia memang telah didapat itu menggembirakan sekali dan pasti akan mendapat applause dari keluarga, teman, saudara bahkan tetangga. Tapi kalau rupanya hidup tak berpihak kepada dirinya hanya perlu penerimaan diri dan teruslah berharap agar hidup terus membaik. Memang menyakitkan karena  Tuhan pasti memiliki recana lain untuk orang tersebut. Tersenyumlah, jangan bersedih!



Selasa, 15 Januari 2013

Kejadian di Tahun Baru



Kejadian di Tahun Yang Baru


Kebetulan tahun ini tahun baru memasuki angka tahun yang sudah berbeda. Itu saja perbedaannya. Saya rasa tak ada bedanya dengan tahun yang terdahulu. Hanya saja perasaan, lingkungan yang menganggap tahun baru itu spesial. Apapun itu terserah pada diri masing-masing.
Kebetulan beberapa waktu lalu saya melihat kejadian di jalan yang mungkin dianggap biasa untuk sebagian orang. Tapi bagaimanapun itu saya hanya merasa kaget dan terkesima dengan kejadian itu.
Disebuah jalan raya dua lajur di dekat daerah tempat tinggal saya, kebetulan waktu itu kendaraan lumayan padat tapi lancar maklumlah tahun baru. Kendaraan dari luar kota berdatangan dari berbagai daerah. Tiba-tiba ada sebuah mobil hitam dengan merk  terkenal lewat dan dari arah jendela mobil itu ada sebuah tangan melempar sampah dari dalam. Apa itu tidak wagu dan saru. Penampilan keren, dengan tunggangan terkenal tapi sikapnya kok sama sekali tidak seksi. Ketika saya lihat plat mobil itu ternyata mobil metropolitan. Ya ampun....
Kenapa ya sebagai warga terkadang sikap kita tidak ada rasa memiliki dan merawat. Entah itu di daerah sendiri, ataupun mungkin di daerah yang jauh sekalipun. Bukankah jika dibudayakan perilaku merawat itu luar biasa bagus. Memang itu tergantung sikap mental si empunya diri tersebut. Tapi itu bukan  bawaan lahir, hal itu bisa dibiasakan jika ada keinginan kuat dari si diri tersebut. Bukankah mata kita menuntut dan suka dengan sesuatu yang bersih dan indah. Maka turutilah! Hal itu mudah dan saya kira tidak repot.

Tuhanku



Tuhanku....


Tuhanku, aku selalu saja mengeluh padamu. Menginginkan semuanya di matamu tapi hal-hal yang remeh, mungkin menurutmu. Soalnya hanya itu yang terpikirkan olehku, dan hanya masih sebatas itu pikiranku. Hamba bukanlah orang-orang canggih seperti mereka yang meminta ‘semua dunia’ karena kaupun tahu aku hanya memiliki dunia kecil yang memiliki bagian-bagian yang lebih kecil lagi. Seperti antara Kau dan aku, cita-cita, keluargaku, kehidupan dan semuanya selalu saja berkembang.
Jangan bosan ya Tuhan mendengar pintaku yang terkadang tak sopan dan arogan, suka memaksa dan menjengkelkan.  Kadang-kadang kukoreksi diriku ada apa gerangan kenapa tak juga kau kabulkan pintaku kenapa lama sekali aku menungguMu. Kuanggap itu prosedurMu untuk menunggu antrian.  Sedih kuberdoa, senang kumeminta, jatuh kumerana kepadaMu. Kadang kurasa betapa baiknya diriMu untuk mengabulkan pinta orang semacam aku walaupun kulihat masih saja banyak orang yang tak menyukaiku dan memusuhiku. Itu benar adanya Tuhan. itulah yang membuatku merasa sedih terkadang dan merana.
Dulu aku pernah berkali-kali merasa hampir mati tapi tetap saja kau hidupkan aku. Jika kau ambil nyawaku dulu aku pasti tak bisa mengambil pelajaran hidup dari masalah-masalah kecilku. Untungnya hanya kau berikan masalah kecil kepadaku. Kau berikan hal-hal yang pas benar untukku masalah kecil-dunia kecil-semua yang kecil-kecil. Tidak kau berikan masalah besar seperti mengatur negeri ini, tapi kubertanya apa orang-orang itu kuat mengatur negeri? Kau mungkin hanya tersenyum dan aku menggeleng-geleng. Itulah dunia besar terkadang semuanya tak pas.
Tuhan, setiap pagi dan sore kuberdoa agar malaikatMu selalu mendoakanku dan mengamini semua pintaku sepanjang hari dan malam. Kulakukan semuanya agar Kau masukkan hamba ke sebuah tempat yang terindah di dunia lain seperti yang telah kau  janjikan.