Tembok Penghalang
[Sumber gambar: Google]
Yang ada dalam pikiran saya sesuatu hal yang menghalangi adalah tembok. Tapi yang saya maksud di sini adalah tembok yang tidak nyata.Ini juga bukan ilusi optik. Jadi semacam seolah-olah bersama tapi tak ada penyatuan rasa, kebersamaan, saling pengertian seolah persepsi negatif dan keburukan dari masing-masing orang.
Kalau memang ini sudah menjadi tradisi atau kebiasan keluarga, ya sudah, memang sulit untuk menghancurkannya. Seandainya salahsatu pihak berusaha pun, seakan itu, hanya seakan-akan usaha yang sia-sia. Harusnya masing-masing pihak.
Sepintar-pintarnya pihak tertentu, tanpa ada resiprok (saya jadi ingat istilah ini dipakai sepupu saya, ‘Hai bagaimana kabarmu di sana?’) dari masing-masing pihak untuk menghancurkan penghalang yang penghalang selamanya akan menghalangi. Saya pikir, ahli ‘penghancur’ tembok yang bisa melakukannya. Tentu saja orang profesional, tentunya. Tapi ...
Saya pun melihat tembok ‘asli’ yang tak tertembus samasekali bahkan ada yang tembok ‘tembus pandang’. Sebenarnya menyedihkan tapi itulah perlunya ‘komunikasi’ atau saling bicara. Tapi seandainya pun ada pembicaraan tapi tidak nyambung ya tetap saja tidak ada konektivitas. Dan mengapa tidak sampai terjadi konektivitas? Karena memang tidak ada kemampuan komunikasi dan mencerna pembicaraan. Karena sebabnya kompleks, semisal : perasaaan subjektifitas yang tinggi, kebencian terhadap seseorang yang bersalah padanya (tapi akhirnya orang-orang lainpun sama bersalah padanya), sikap tertutup, dan begitu banyak sebab yang mungkin berhubungan dengan latar). Aneh ya, seakan-akan keharmonisan hidup seolah-olah pewarisan atau habit dari keluarga pendahulu. Ya, ya, saya jadi paham, mengapa seseorang itu akan mirip sekali dengan kebiasaan keluarga terdahulunya. Seakan-akan tradisi yang turun temurun diwariskan. Tapi anehnya, seakan-akan ada sesuatu hal ‘yang terputus’ atau ‘tak seutuhnya diwariskan’. Mungkin istilahnya ada suatu rahasia tertentu yang ada. Dan ini pun sebenarnya, untuk orang yang peka ini sebuah tanda tanya. Dan ini, salah satu benih-benih timbulnya tidak adanya harmoni bahkan permusuhan.
Jadi sebenarnya, tembok itu sebenarnya tanpa sengaja dibentuknya. Tapi seiring waktu disengaja ‘dengan tradisi tanda tanya besar’ itu.
Mereka pikir, itu suatu kebaikan tapi kalau memang momentumnya tepat, B-O-O-M, ledakanlah yang terjadi. Akhirnya saya lihat, bahkan berkali-kali melihat juga, ledakan-ledakan kecil bahkan besar biasa terjadi. Mungkin selorohan yang tepat seperti kata iklan ‘Sudah tradisi’. Tradisi lokal yang terus berjalan.
Ya, ternyata keterbukaan yang fair, itu memang diperlukan. Agar tidak ada b-o-o-m kelak di kemudian hari. Dan sakit hati yang dibawa hingga mati. Terdengar romantik, tapi itu pemantik. Pemantik yang tidak cantik. Benar-benar menyedihkan cerita ini.