Minggu, 25 Juli 2021

 

Tembok Penghalang


[Sumber gambar: Google]

Yang ada dalam pikiran saya sesuatu hal yang menghalangi adalah tembok. Tapi yang saya maksud di sini adalah tembok yang tidak nyata.Ini juga bukan ilusi optik. Jadi semacam seolah-olah bersama tapi tak ada penyatuan rasa, kebersamaan, saling pengertian seolah persepsi negatif dan keburukan dari masing-masing orang.

 

Kalau memang ini sudah menjadi tradisi atau kebiasan keluarga, ya sudah, memang sulit untuk menghancurkannya. Seandainya salahsatu pihak berusaha pun, seakan itu,  hanya seakan-akan usaha yang sia-sia. Harusnya  masing-masing pihak.

 

Sepintar-pintarnya pihak tertentu, tanpa ada resiprok (saya jadi ingat istilah ini dipakai sepupu saya, ‘Hai bagaimana kabarmu di sana?’) dari masing-masing pihak untuk menghancurkan penghalang yang penghalang selamanya akan menghalangi. Saya pikir, ahli ‘penghancur’ tembok yang bisa melakukannya. Tentu saja orang profesional, tentunya.  Tapi ...

 

Saya pun melihat tembok ‘asli’ yang tak tertembus samasekali bahkan ada yang tembok ‘tembus pandang’. Sebenarnya menyedihkan tapi  itulah perlunya ‘komunikasi’ atau saling bicara. Tapi seandainya pun ada pembicaraan tapi tidak nyambung ya tetap saja tidak ada konektivitas. Dan mengapa tidak sampai terjadi konektivitas? Karena memang tidak ada kemampuan komunikasi dan mencerna pembicaraan. Karena sebabnya kompleks, semisal : perasaaan subjektifitas yang tinggi, kebencian terhadap seseorang yang bersalah padanya (tapi akhirnya orang-orang lainpun sama bersalah padanya), sikap tertutup, dan begitu banyak sebab yang mungkin berhubungan dengan latar). Aneh ya, seakan-akan keharmonisan hidup seolah-olah pewarisan atau habit dari keluarga pendahulu. Ya, ya, saya jadi paham, mengapa seseorang itu akan mirip sekali dengan kebiasaan keluarga terdahulunya. Seakan-akan tradisi yang turun temurun diwariskan. Tapi anehnya, seakan-akan ada sesuatu hal ‘yang terputus’ atau ‘tak seutuhnya diwariskan’. Mungkin istilahnya ada suatu rahasia tertentu yang ada. Dan ini pun sebenarnya, untuk orang yang peka ini sebuah tanda tanya. Dan ini, salah satu benih-benih timbulnya tidak adanya harmoni bahkan permusuhan.

 

Jadi sebenarnya, tembok itu sebenarnya tanpa sengaja dibentuknya. Tapi seiring waktu disengaja ‘dengan tradisi tanda tanya besar’ itu.

 

Mereka pikir, itu suatu kebaikan tapi kalau memang momentumnya tepat, B-O-O-M, ledakanlah yang terjadi. Akhirnya saya lihat, bahkan berkali-kali melihat juga, ledakan-ledakan kecil bahkan besar biasa terjadi. Mungkin selorohan yang tepat seperti kata iklan ‘Sudah tradisi’. Tradisi lokal yang terus berjalan.

 

Ya, ternyata keterbukaan yang fair, itu memang diperlukan. Agar tidak ada b-o-o-m kelak di kemudian hari. Dan sakit hati yang dibawa hingga mati. Terdengar romantik, tapi itu pemantik. Pemantik  yang  tidak cantik. Benar-benar menyedihkan cerita ini.

Sabtu, 24 Juli 2021

Berpikir Keras

 

Berpikir Keras,, [Sekeras Macan]

 

 [Sumber gambar : Google]

[Ingin rasanya menjadi macan. Auooom]  Di sebuah kos-kosan sederhana dengan kamar yang berderet memanjang. Tampak seseorang termangu-mangu duduk di sebuah kursi pentil hijau yang sedang trendy saat ini. Celana cutbray dan kemeja yang terkesan street, yang membuat pemakai terbungkus seperti lepet sedang di pandanginya dari tempatnya kini. Musik dengan vokal suara tinggi dan merayu sayup-sayup terdengar.

“Hay, sedang apa?” sapa suara yang tiba-tiba berada di sampingnya.

“Begini, Mary, apa rumah peninggalan orang tuaku akan benar-benar menghilang ya? Apa yang akan terjadi kelak? Aku kan ingin pulang, kelak,” sungut si pen-duduk kursi pentil cemas dan sedih.

“Memangnya, rumahmu itu Kau apakan, Teman?”

“Jadi jaminan hutang. Ke si Mamang, rentenir itu. Aku kan mulanya ingin itu ..tuh,” tunjuknya ke arah jemuran basah,” lalu ternyata aku lalu  menjadi seleb, dan tentu saja aku semakin tak mau kalah dengan yang lain. Ya, nggak tak kasih kendor, pacu terus. Tapi ya, jadilah begini,” katanya dengan ucapan yan g semakin lunglai dan wajah tak terukur lagi.

Wealah, tobil, tobil!!!  Kamu itu kelasnya alas kaki sandal jepit, mbok sadaro. Jangan pakai nyoba wedges ala Marylin Monroe yang semua laki-laki meng-aktriskannya. Aku saja, Mary, perempuan sejati mengidolakannya juga. Sadar! Gaya hidup itu anggaplah trend kalau Kau mampu ikuti sok atuh, kalau tidak mampu nggih mboten sisah. Mangkih ndak rekoso. Nanti ya jadinya semrawut seperti Kau saat ini,” celoteh  Mary  panjang yang langsung seketika membuat  si pen-duduk kursi pentil seketika kenyang yang seketika menangis tersedu-sedu.

“Iya, aku sadar. Aku keliru. Aku khilaf,” tangisnya makin menjadi-jadi naik turun, lalu setelah beberapa saat berhenti namun terisak-isak lama. Mary berusaha menghiburnya.

“Ya, sudah. Apa rencanamu?” tanya Mary.

Yang ditanya hanya menggeleng tak berdaya.

“Ya, sudah, yang sabar. Aku punya usul  nih, biar nanti fotomu dan surat hutangmu itu difoto lalu akan kujadikan bukti. Nanti biar kumintakan sumbangan itu..teman-temanku yang kaya-kaya atau siapapun itu  tempat kerjaku, siapa tahu akan tergerak hatinya, bahkan biar nanti saya minta takmir masjid yang kukenal untuk memberikan isi kotak sumbangannya untukmu. Juga nanti aku minta tolong teman kos yang lain untuk mengedarkan kotak sumbangan saat mereka kuliah atau berbagai kesempatan. Dan Kau carilah kerja tambahan. Juga ceritakan ke pihak keluargamu apa yang menimpamu, sejujurnya, siapa tahu mereka mau bantu. Paling tidak mereka mengerti dan mendoakan yang terbaik untukmu. Dan biar Kau kutraktir makan tiga hari ke depan, mulai hari ini. Gratis!” sembari Mary menepuk-nepuk pundak rekan kos-nya tersebut.

“Terima kasih banyak ya, Mary,” ujarnya membuat kait tangan melengkung untuk mengundang rekannya mengaitkan jari. Inilah moment paling mengharukan dari sebuah keadaan, persahabatan, kekeluargaan dan sekedip fragment dari kehidupan.  Mungkin yang bisa dilakukan hanyalah merenung.