Kamis, 15 Mei 2014

Sedih dan Gembira



Sedih dan Gembira


Bagaimana keadaan di luar jendela? (Sumber gambar : DW Indonesia)
 
Sedih dan gembira, timur dan barat, panas dan dingin, manis dan asin. Semuanya adalah kata-kata yang seolah sepadan tapi berbeda, bisa dikatakan saling melengkapi tapi juga bertolak belakang. Paduan keduanya bisa membuat kesempurnaan dari sebuah situasi karena memperkaya. Coba bayangkan apa katamu yang kita lihat semuanya sama, dan berasa sama?

Tapi bagaimana dengan baik dan buruk. Idealnya untuk hal yang satu ini ‘baik’ saja yang harusnya ada di dunia ini. Tapi karena gara-gara ada si setan penggoda,  manusia menjadi beraneka rupa wajah kebaikan dan keburukannya. Karena si setan ini memang telah diberi ijin oleh Tuhan untuk mengajak manusia yang mau diajak ke hal yang buruk. Dengan aneka akal dan pembenaran logika diajaknya si manusia agar pro dengan si setan. Bahkan manusia bisa serupa benar dengan si setan setelah dipengaruhi setan.

Konon kebaikan itu bagaikan air sedangkan keburukan itu bagaikan riak air. Konon kebaikan itu bagaikan logam murni sedangkan keburukan itu sisa-sisa dari pengolahan logam tersebut. Hingga dapat dikatakan sesuatu hal yang harus dibuang karena tidak berguna. Air bermanfaat untuk semua makhluk karena tak ada  makhluk yang tak membutuhkannya bahkan untuk makhuk-makhluk yang takut air pun masih membutuhkan air untuk fisiknya. Semisal kucing. Kucing ini makhluk yang takut air tapi bagaimanapun masih membutuhkan air. Kebaikan itu bisa digunakan sedangkan keburukan itu suatu hal yang tak berguna.

Jika kita mengatakan ‘idealnya’, ‘seharusnya’ bahkan ‘harus’ seseorang tentu akan mengatakan sesuatu hal yang melangit bahkan setinggi langit biru seakan tak mungkin tercapai karena semua diperhitungkan dengan seksama dan memakai bahan-bahan terbaik. Bahkan terbaik menurut segala jaman dan segala masa. Begitu juga kalau ada pertanyaan, ‘Bagaimana seharusnya keadaan?’ Tentu akan menjawab adanya kebaikan. Dan ‘baik’ itu sifatnya universal dan disertai juga kebaikan nurani untuk pelakunya.

Saya berharap semoga masih saja ada harapan untuk kebaikan ditengah bergulung-gulungnya keburukan yang saat ini seolah-olah riak,  tapi riak itu justru serupa ombak yang merusak. Semuanya menjadi tak menentu bahkan untuk hal-hal yang seharusnya dapat dijadikan pegangan pun seolah ketika akan memegang seakan gamang karena begitu rapuhnya. Mentalitas ‘kebaikan’ dengan semangat untuk terus menyuarakan hal-hal yang baik justru seakan goyang. Janganlah engkau pergi harapan, karena semua manusia begitu membutuhkan kebaikan sebagai jalan hidupnya.