Sedih dan Gembira
![]() |
| Bagaimana keadaan di luar jendela? (Sumber gambar : DW Indonesia) |
Sedih dan gembira, timur dan
barat, panas dan dingin, manis dan asin. Semuanya adalah kata-kata yang seolah
sepadan tapi berbeda, bisa dikatakan saling melengkapi tapi juga bertolak
belakang. Paduan keduanya bisa membuat kesempurnaan dari sebuah situasi karena
memperkaya. Coba bayangkan apa katamu yang kita lihat semuanya sama, dan berasa
sama?
Tapi bagaimana dengan baik dan
buruk. Idealnya untuk hal yang satu ini ‘baik’ saja yang harusnya ada di dunia
ini. Tapi karena gara-gara ada si setan penggoda, manusia menjadi beraneka rupa wajah kebaikan
dan keburukannya. Karena si setan ini memang telah diberi ijin oleh Tuhan untuk
mengajak manusia yang mau diajak ke hal yang buruk. Dengan aneka akal dan
pembenaran logika diajaknya si manusia agar pro dengan si setan. Bahkan manusia
bisa serupa benar dengan si setan setelah dipengaruhi setan.
Konon kebaikan itu bagaikan air
sedangkan keburukan itu bagaikan riak air. Konon kebaikan itu bagaikan logam
murni sedangkan keburukan itu sisa-sisa dari pengolahan logam tersebut. Hingga
dapat dikatakan sesuatu hal yang harus dibuang karena tidak berguna. Air
bermanfaat untuk semua makhluk karena tak ada
makhluk yang tak membutuhkannya bahkan untuk makhuk-makhluk yang takut
air pun masih membutuhkan air untuk fisiknya. Semisal kucing. Kucing ini
makhluk yang takut air tapi bagaimanapun masih membutuhkan air. Kebaikan itu
bisa digunakan sedangkan keburukan itu suatu hal yang tak berguna.
Jika kita mengatakan ‘idealnya’,
‘seharusnya’ bahkan ‘harus’ seseorang tentu akan mengatakan sesuatu hal yang
melangit bahkan setinggi langit biru seakan tak mungkin tercapai karena semua
diperhitungkan dengan seksama dan memakai bahan-bahan terbaik. Bahkan terbaik menurut
segala jaman dan segala masa. Begitu juga kalau ada pertanyaan, ‘Bagaimana
seharusnya keadaan?’ Tentu akan menjawab adanya kebaikan. Dan ‘baik’ itu
sifatnya universal dan disertai juga kebaikan nurani untuk pelakunya.
Saya berharap semoga masih saja
ada harapan untuk kebaikan ditengah bergulung-gulungnya keburukan yang saat ini
seolah-olah riak, tapi riak itu justru
serupa ombak yang merusak. Semuanya menjadi tak menentu bahkan untuk hal-hal
yang seharusnya dapat dijadikan pegangan pun seolah ketika akan memegang seakan
gamang karena begitu rapuhnya. Mentalitas ‘kebaikan’ dengan semangat untuk
terus menyuarakan hal-hal yang baik justru seakan goyang. Janganlah engkau
pergi harapan, karena semua manusia begitu membutuhkan kebaikan sebagai jalan
hidupnya.
