Sabtu, 04 Juli 2020

Di Suatu Titik itu Lagi


Di Suatu Titik itu Lagi
Oleh Nugrahenie

Ujung pangkal yang melingkar itu lingkaran(Sumber: Google)



Di suatu tempat takkala seseorang seakan membunuh karakternya, berarti dia merasakan sebuah ancaman. Mungkin itu cara paling primitif yang seonggok makhluk bisa lakukan. Tak kala dia tak lagi bisa mengandalkan siapapun, dia hanya berfisik dan bukan makhluk gaib, teman seolah menjadi lawan, lawan seakan-akan menjadi semakin lawan bahkan tak menentu. Rasa tidak lagi menjadi penting lagi, dia hanya dituntut untuk bertugas. Dan tragisnya, inilah titik sadar itu bahwa kau tak ada. Dan sedihnya bukan untuk yang pertama kali.

Lucu ya, kalau dibaca-baca. Mungkin pembaca akan menganggap ini hal basi, hal klasik, kelakuan si bodoh, bahkan geleng-geleng. Mereka pun mungkin berpikir demikian. Tentu mereka akan bersikap berbeda dalam menyikapi sesuatu jika mereka mengalami posisi seseorang itu. Saya rasa, semua orang pasti akan mengalami di posisi seperti itu, tinggal menerima urutan nomor, dan rasakan saja perasaan itu. Pasti kau akan merasa, Negara Amerika, Benua Eropa, dan kerasnya daerah Afrika akan bersamaan menimpa kalian. Dan rasakan sensasinya. Menangislah jika ingin menangis, hancurkan batu pada jika kalian mau, kuraslah air di penampungan limbah kalau itu bisa meredakan letupan emosimu.

Ini hanyalah sebagai pengingat, dulu pernah mendengar cerita seseorang kalau dia tak bisa merasakan perasaan lagi sedihnya sekalipun. Gembiranya pun bahkan menjadi pengingat agar dia tidak mabuk saat gembira. Alangkah bahagianya bisa bersikap demikian, pikir penulis. Tapi seiring waktu justru perasaan kagum itu berubah menjadi miris. Berbalik arah. Banyak hal tentu sudah berkali-kali menghancurkannya. Bukan dalam figur orang bahagia tapi bahagia itu dia rasakan atas penerimaan seutuhnya apapun itu yang dirasakannya.

Jungkir balik deskripsi bahagia, gembira, senang, sedih, menyayat hati justru merusak kepolosan kosakata.  Kosakata orang dewasa ternyata bisa berubah.
Akhirnya semua hanya menunggu waktu. Kalau kau, mereka,  belum rasakan hancurnya perasaan di balik bahagia fisikmu kau belum benar-benar merasakan menjadi manusia yang sebenarnya.

Maka, janganlah kau hina, remehkan dan memandang rendah seseorang. Seandainya pun dia rendah di matamu (mereka) ya, biarkan saja dia tetap menari di tengah hujan. Tahukah kalian, dia sudah hancur, dia itu serpihan karena itu cara dia mengisi sisa hidupnya. Untuk merasakan hidup.  Dia pun tidak gila, tapi justru kau lah yang mungkin gila kalau mengikutinya.  Yang kau lakukan  hanyalah, bersikaplah normal sebagaimana manusia normal pada umumnya.
Hal biasa mungkin : hargailah orang lain, anggaplah manusia itu selayaknya manusia, janganlah kau anggap manusia itu itu serendah yang kau pikir.
Semoga ini bisa menjadi bahan renungan, untuk kita semua.