Di Suatu Titik itu Lagi
Oleh Nugrahenie
![]() | |||
| Ujung pangkal yang melingkar itu lingkaran(Sumber: Google) |
Di suatu tempat takkala seseorang
seakan membunuh karakternya, berarti dia merasakan sebuah ancaman. Mungkin itu
cara paling primitif yang seonggok makhluk bisa lakukan. Tak kala dia tak lagi
bisa mengandalkan siapapun, dia hanya berfisik dan bukan makhluk gaib, teman
seolah menjadi lawan, lawan seakan-akan menjadi semakin lawan bahkan tak
menentu. Rasa tidak lagi menjadi penting lagi, dia hanya dituntut untuk
bertugas. Dan tragisnya, inilah titik sadar itu bahwa kau tak ada. Dan sedihnya
bukan untuk yang pertama kali.
Lucu ya, kalau dibaca-baca.
Mungkin pembaca akan menganggap ini hal basi, hal klasik, kelakuan si bodoh, bahkan geleng-geleng. Mereka pun mungkin berpikir demikian. Tentu mereka akan
bersikap berbeda dalam menyikapi sesuatu jika mereka mengalami posisi seseorang
itu. Saya rasa, semua orang pasti akan mengalami di posisi seperti itu, tinggal
menerima urutan nomor, dan rasakan saja perasaan itu. Pasti kau akan merasa, Negara
Amerika, Benua Eropa, dan kerasnya daerah Afrika akan bersamaan menimpa kalian.
Dan rasakan sensasinya. Menangislah jika ingin menangis, hancurkan batu pada
jika kalian mau, kuraslah air di penampungan limbah kalau itu bisa meredakan
letupan emosimu.
Ini hanyalah sebagai pengingat,
dulu pernah mendengar cerita seseorang kalau dia tak bisa merasakan perasaan
lagi sedihnya sekalipun. Gembiranya pun bahkan menjadi pengingat agar dia tidak
mabuk saat gembira. Alangkah bahagianya bisa bersikap demikian, pikir penulis.
Tapi seiring waktu justru perasaan kagum itu berubah menjadi miris. Berbalik
arah. Banyak hal tentu sudah berkali-kali menghancurkannya. Bukan dalam figur
orang bahagia tapi bahagia itu dia rasakan atas penerimaan seutuhnya apapun itu
yang dirasakannya.
Jungkir balik deskripsi bahagia,
gembira, senang, sedih, menyayat hati justru merusak kepolosan kosakata. Kosakata orang dewasa ternyata bisa berubah.
Akhirnya semua hanya menunggu
waktu. Kalau kau, mereka, belum rasakan hancurnya
perasaan di balik bahagia fisikmu kau belum benar-benar merasakan menjadi
manusia yang sebenarnya.
Maka, janganlah kau hina,
remehkan dan memandang rendah seseorang. Seandainya pun dia rendah di matamu
(mereka) ya, biarkan saja dia tetap menari di tengah hujan. Tahukah kalian, dia
sudah hancur, dia itu serpihan karena itu cara dia mengisi sisa hidupnya. Untuk
merasakan hidup. Dia pun tidak gila,
tapi justru kau lah yang mungkin gila kalau mengikutinya. Yang kau lakukan hanyalah, bersikaplah normal sebagaimana
manusia normal pada umumnya.
Hal biasa mungkin : hargailah
orang lain, anggaplah manusia itu selayaknya manusia, janganlah kau anggap
manusia itu itu serendah yang kau pikir.
Semoga ini bisa menjadi bahan
renungan, untuk kita semua.
