Senin, 30 Mei 2022

Magelang Dalam Rasa

Magelang Dalam Rasa 

 

Menjadi asing mungkin itu soal rasa. Menjadi jauh itu mungkin tentang fisik dan jarak.


 

Mungkin inilah ungkapan cinta saya untuk Magelang. Perlu diketahui kalau menyebut Magelang itu diartikan Magelang Kota dan Magelang Kabupaten. Yang membedakan adalah sempit dan luasnya masing-masing wilayahnya. Mungkin inilah bahasa cinta saya untukmu, Magelang.

Hari ini saya tergelitik atas tulisan Bayu Kharisma Putra yang ber-title 3 Hal yang Tak Bisa dilakukan di Magelang. Hai, mungkin Anda itu stimulus saya untuk menuliskan ini.

 

Waktu memang mengubah fisik dan perilaku. Pembangunan Pariwisata Magelang sedang melentik bahkan rencana diadakannya jalan tol dan kelak akan dihidupkan jalur kereta api semakin mendekat. Tentu euforia kereta api serasa jalur antar kota di pulau Jawa terdengar di telinga saya cukup menyenangkan. Walaupun dalam benak saya akan ada kotak-kotak panjang dan manusia berjejal dan berbagai kemungkinan lain. Dalam hati saya, itu biasa saya alami dulu saat jadi commuter sekitar daerah Jakarta dulu. Bolehlah itu, karena terjadwal dalam sehari dan bisa dipastikan adanya. Karena rasanya itu sengsara saat mau bepergian ke daerah tertentu terkendala transportasi yang umumnya ada di sini seperti angkut kota, angkutan daerah, bus besar, engkel tapi lebih sering itu tak bisa dipastikan kedatangan mereka. Apa mereka pikir warga tak membutuhkan mereka. Atau mereka pikir itu seluruh warga itu memakai kendaraan pribadi sendiri? Atau mereka pikir  itu warga mampu membayar ojek on-line? Mungkin dari data lapangan, semua rumah memiliki kendaraan, tapi secara realita, apa semua warga memakai itu? Mungkin inilah sisi tidak nyamannya kalau berbicara mengenai jasa transportasi.  Rasa-rasanya itu jengah, tidak damai dan sebal saat ditanya, ‘Kok tidak memakai motor?’ Memang, saya biasa saja, dan saya tahu justru itu keramahan warga tetangga sesama warga se-kecamatan tapi kalau dipikir-pikir, ‘Apa jalan santai itu tidak lazim’ ‘Apa sedang menghilangkan stres dengan berjalan tidak salah kan’ atau perlu dijawab ‘Hallo, saya gak bisa naik motor.’ Tenang, tenang. Sabar, sabar. Kutendang kerikil sebesar bola bekel besar. Goll.

 

Hal lain lagi yang membuat terenyuh, sebagai warga yang sejak kecil tinggal di Magelang, ada suatu perasaan terenyuh dan suatu perasaan tersingkir. Saat kecil dulu, saya tidak terlalu mengubris di kanan kiri jalan raya pembelah daerah itu hanyalah sawah-sawah, kebun dan satu dua rumah menyendiri, warung-warung kecil dan perumahan kampung yang lumayan padat. Tapi saat ini, perumahan desa memang masih ada, dan toko-toko, ruko, tempat usaha pun bermunculan namun bermunculan juga tempat-tempat usaha milik asing dari negara yang nun jauh di sana. Sedihnya, mereka melepas tanah strategis mereka itu hanya untuk mengejar kemewahan hidup agar seperti orang-orang lain yang memiliki kebanggaan memiliki rumah bagus, kendaraan, mem-permak interior agar seperti keluarganya yang sukses atau pun tak kalah dengan tetangganya yang lain. Itu memang samasekali tidak salah, itu hak mereka, tapi apa mereka tidak berpikir anak-cucu mereka itu kelak akan punya apa? Atau pekerja-pekerja pertanian yang biasa menggarap tanah mereka akan mereka kemanakan? Seandainya pekerja diberi sedikit  jatah, apa dalam tempo beberapa bulan itu sudah ludes. Lalu warga lokal akan jadi buruh harian lepas? Apa kelak anak-cucu-cicit mereka hanya mendengar cerita ‘iku lho dulu lemah e mbahmu (ini dulu tanah milik moyangmu). Apa hati mereka tidak berdarah-darah? Saya sebagai commuter yang biasa lewat saja, merasa sedih. Bener.

 

Ada kejadian nyata, ini saya alami saat Lebaran kemarin. Saudara saya yang sudah belasan tahun tinggal di kota lain berkomentar, ‘Wong-e ki do kerjo opo, kendaraanne kok apik-apik (orangnya itu pada kerja apa, kendaraan yang mereka miliki itu kok bagus-bagus).’ Hati saya seketika langsung beberapa detik nge-blank. Saya pun gak tahu kenapa saya seperti jadi seperti itu. Memang terpapar di mata saya kendaraan keluaran baru, bukan kendaaraan murah,  dan saya mengira  kalau saya bekerja selama 30 tahun pun belum tentu terkumpul. Saat itu dulu saya, lewat di sekitar kota daerah kabupaten. Saya paham betul saudara saya itu  sampai memiliki apa-apa itu karena kerja full. Dia memiliki kerja tetap, tapi di luar jam kerja seringnya dapat kerja borongan mengerjakan sesuatu keahlian dia. Dan kerja sampingannya ini, lebih besar hasilnya. Terkadang dia tinggal di rumah hanya beberapa jam saja. Memang pekerja keras, banting tulang. Tapi di sisi lain, saya justru sayup-sayup serasa merasakan hembusan sepoi-sepoi angin yang menerpa jiwa saya.

 

Sebenarnya saat ini hampir setiap daerah itu berubah. Menjadi asing mungkin itu soal rasa. Menjadi jauh itu mungkin tentang fisik dan jarak. Tapi soal harapan, rasa itu tetap sama. Tetaplah membumi Magelang apapun jadinya kelak, tetap sertakan wargamu, jangan kau pinggirkan wargamu, teruslah berusaha adil dan bijak.  Karena bagaimanapun semua warga tetap ada di barisanmu.

 

 

 

 

Kamis, 31 Maret 2022

 

Seseorang, Rencana, Realita dan Persepsi Orang Lain


 Merenung itu introspeksi diri (Sumber gambar : Google)

Manusia itu bukan apa-apa. Baru dibegitukan saja sudah merasakan sakit. Mana pernah terbayangkan di titik terendah seperti itu. Tak ada seorang pun yang mau di titik ini.

Hello, Kawan apakah saat pagi datang, suasana muram itu pertanda hujan. Terserah Kau jawab apa, karena semua orang pasti memiliki jawaban sendiri yang menurutmu jitu. Kamu lebih mengerti. Saya pun sangat memahami harus menjawab apa. Karena pengalaman, pemikiran saya tentu akan berlainan denganmu. Simpanlah jawabanmu. Saya pun akan simpan itu.

Ya, semua jawaban kita benar. Karena semua punya alasan kuat,menurut persepsi dan pemikiranmu.

 

Dulu, saat kecil mungkin berpikir, air pastilah hanya bisa mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Tapi seiring waktu pemikiran itu menjadi semakin berbeda, ternyata air bisa menyembur. Bahkan air bisa melakukan banyak hal saat ini. Menakjubkan ya? Ya, karena saya hanyalah orang lama yang dulu diberitahu air mengalir ke tempat yang lebih rendah. Ya, sesederhana itu. Tentu beda dengan pemikiran Kawan-kawan semua yang sudah berpengetahuan lebih tinggi bahkan ahli di bidang hidrologi, misalnya ataupun fisika ataupun bidang tehnik lainnya. Saya sering terkagum-kagum dengan tehnologi.

 

Dulu, saat seseorang masih mulai mengenal dunia, melangkah setapak-setapak akan melihat dunia indah ini dari sudut pandang kecilnya, sentuhan kedekatan, sesapan pengetahuan dasar yang dia rasa. Mungkin terasa bombastis, optimistik, namun bisa jadi sangat rentan, lemah, dan ‘hanya sedikit baik’ jika dia kebetulan tinggal di lingkungan yang kurang begitu baik untuk perkembangannya. Jawaban, itu akan sangat mudah dijawab. ‘Aku ingin jadi penerbang’. ‘Ingin bisa masak, agar tidak harus beli seperti Ibu-ku’. ‘Punya pekerjaan yang baik-baik saja.’ Dan banyak berbagai jawaban lain, beribu-ribu, berjuta-juta, bertriliyun jawaban. Dan tibalah saatnya seseorang ditanya, ‘ ........bla-bla-bla ‘, jawaban yang jelas dan gamblang walau terkesan malu-malu. Karena sebenarnya jauh dalam hatinya diapun bertanya-tanya kenapa harus jawab seperti itu, tapi tak mengapa itulah beningnya kejujuran. Ada segurat senyum terlihat, ada juga wajah penuh tanya dan kerutan alis seolah berkata sadarkah kau apa bedanya kamu dengan itulah. Tidak luhur dan tidak tinggi. Termangu-mangu agak lama, tapi tak mengapa. Biar saja.

 

Tapi sesungguhnya, itulah keaslian yang sebenarnya dari seseorang. Mungkin dia bisa berubah pikiran ke arah yang lain, berlari-lari, berputar, menari-meloncat- sekenanya bahkan dia seketika menjadi lebih terpukau dengan trampolin pun bisa saja. Semuanya bebas, semuanya layak, semuanya menjadi terbenarkan oleh waktu. Karena dunia ini terlalu menarik untuk dijelajahi, bahkan terlalu berliku dan menarik untuk lebih dikenal lagi. Kawan, apakah Kau merasakan juga? Seandainya seseorang salah pada seseorang ya minta maaf. Ya, sesederhana itu. Tapi saat Kau salah pada ‘sesuatu/banyak hal/singgahan sementara’ yang dipilih, semua tidak akan sesederhana itu. Tidak sesederhana meminta maaf. Semua, timbal balik, efek-dampak, pilihan-konsekuensi, jatuh-terjerembab-bangun, tidak layak-kehancuran, lemah-dimangsa-kuat, terbawa arus-hanyut-tenggelam-menepi. Dunia ini kejam ya. Tidak seperti saat ‘...bla-bla-bla ‘ dulu.

Tapi sebenarnya, ada kekuatan kecil yang menghentak-hentak ingin keluar dan lepas. Terkadang tidak mengapa kita terjungkal, terluka, berserapah, dipukul, ditampar, dibentur-benturkan oleh banyak hal. Sakit. Bahkan sekali. Tapi justru itu titik puncak kesadaran bahwa seseorang itu masih hidup dan saat itulah titik terendahnya. Manusia itu bukan apa-apa. Baru dibegitukan saja sudah merasakan sakit. Mana pernah terbayangkan di titik terendah seperti itu. Tak ada seorang pun yang mau di titik ini.

Mungkin, saat kau merasakan ‘sakit yang sesungguhnya di hati’ hanya Kau sendiri yang bisa memahaminya. Mungkin akan banyak kelebat-kelebat hantu, kelebat kabut, bahkan dingin-sedingin kabut kusam tak bertepi, bahkan merasa puing kobaran hutan. Legam.

 

Tak terima, mungkin .. hampir semua orang tidak terima. Tidak masalah. Entah terima/tidak terima itu tidak sesederhana minta maaf lagi. Seakan sophisticated. Akhirnya .. ‘Kau terima saja itu semua, kalau Kau berotak’. Dengan terpekur ditegak-tegakkan.

 

Dendam? Dendam pada siapa. Itu bodohmu sendiri. Yang putuskan dirimu sendiri. Yang menghadapi ya kamu sendiri. Dengan berbagai perintilah yang menyertai yang carut marut, yang berkait-kait. Kau cari-cari awal, serasa mencari akhir. Kamu saja tak mengerti. Apalagi orang lain. Mungkin selorohan Orang Jawa ‘Wong urip iku panggonane mung apes’ (orang hidup itu bisa saja mengalami kenaasan dalam kehidupan ini. Semua orang). Ya, Kamu itu bodoh, kalau menyalahkan orang lain apalagi seakan-akan orang lainlah sumber dari bencana hidupmu. Apalahi jika Kau berpikir sok lebih tinggi, bersikap iri pada orang lain. Itu tidak terampuni lagi. Itu lebih bodoh lagi. Hidup-hidupmu sendiri, sampai membawa-bawa orang lain. Tahukah Kamu Kawan, maka ya pantas kamu ditepang dan terjungkal. Ya, Kamu itu bodoh. Sangat bodoh.

Ternyata Kawan, penulis ini, ternyata juga bodoh. Menyedihkan ya.

Minggu, 13 Maret 2022

Indahnya Kebiasaan dan Rasa

Indahnya Kebiasaan dan Rasa

 

 "Rasa-rasakan saja. Kalau belum terasa ya rasa-rasakan terus sampai tangkaplah esensi itu. Soal rasa mungkin itu bonus bagi yang masih punya rasa.

Itu mengesankan tapi plain.

Tahukah Kamu Kawan, waktumu akan sangat terasa harganya, saat dirimu sibuk seharian lalu tiba-tiba terpikir selintas aku mau ‘lakukan sesuatu itu’. Lalu Kau tarik-tarik waktumu akhirnya ‘bisa lakukan sesuatu itu’. Itulah waktu yang benar-benar terasa harganya.

 

Sudah saya rasakan dipuluhan minggu ini, waktu rasanya tidak ada harganya. Ada terlalu banyak waktu, saya pun bisa melakukan apapun, bahkan hobi-hobi rumit pun bisa dilakukan. Tapi rasanya itu terlalu plain, seolah-olah tidak ada antusiasme. Seakan suatu acara pertandingan tanpa kehadiran pom-pom warna-warni. Bukankah, itu yang Kau mau? Pikirku. Memang iya, ini mauku. Tapi ternyata semua ternyata beda antara yang saya rencanakan, saya imajinasikan, saya pikirkan dan kenyataan. Ternyata kebiasaan yang sehari-hari kita lakukan itu indah. Indah tiada duanya. Akhirnya Saya, seorang Nugrahenie itu baru sadar-sesadar-sadarnya. Kenapa beberapa orang yang sudah lepas tugas, terkadang merasa tertekan dan kalau kebangetan bisa sakit. Karena kebiasaan keseharian kita kemarin-kemarin itu ternyata menyenangkan.

 

Ya, saya memang butuh adaptasi baru. Seperti halnya saat ini, virus Corona masih setia, hingga kita semua butuh adaptasi dan hidup berdampingan-bersahabat dengan Corona. Jujur, saya jengkel. Jiwa membandingkan saya dengan kehidupan yang kemarin bergejolak dan berteriak. Sikap romantisme pada masa lalu pun semakin mencekik leher perasaan saya. Saya pun seketika tidak bisa makan pencuci mulut lagi, karena setiap makan harus berebutan dengan makanan yang cukup mengenyangkan saja. Dan perasaan saya semakin menjadi-jadi karena menunggu hujan uang sudah berbulan-bulan yang tidak jatuh juga padahal mata sudah semakin galak karena lapar ingin memenuhi keranjang dengan ‘itu’, barang-barang impian saya. Ini masih wajar, Kawan. Itulah yang ada di kepala saya saat ini. Benar-benar temaram di suasana mendung ini.

 

Saya pun jadi berpikir juga, bagaimana rasanya ya, jika sejak zaman dulu seseorang hidup melarat bahkan di bawah minimalis? Padahal sekitarmu bisa terlihat nampang memiliki baju indah berenda halus yang benar-benar sempurna, orang yang lalu lalang terlihat berkulit mengkilat indah dan sehat, bisa makan di piring lebar yang bergarnis sempurna, tirai-tirai menerawang terlihat dari luar, mata orang tua yang berbinar melihat anaknya tampak begitu bahagia makan lahap di suatu kedai pinggir jalan, sepatu berhak tinggi bersih dan mengkilat. Semuanya jelas. Semuanya impian.

 

Inilah sesi lain dari hidup saya yang harus  saya sadari, sesadar-sadarnya dan mereguk setiap detik ini. Agar bisa memberi adaptasi baru untuk saya. Hidup tidak harus seindah cewek pewaris hotel multibilioner, pun tidak harus jadi gelandangan agar bisa merasakan esensi hidup sederhana dan kebahagiaan. Hanya reguk dan rasakan. Rasa-rasakan saja. Kalau belum terasa ya rasa-rasakan terus sampai tangkaplah esensi itu. 

 

Benar, apa gunanya sombong. Hidup ini tinggal dilalui saja. Soal rasa mungkin itu bonus bagi yang masih punya rasa. 

 

Happy Minggu day, tetap saja hari ini masih sama, hanya rasanya memang bisa beda.