Magelang Dalam Rasa
‘Menjadi asing mungkin itu soal rasa. Menjadi jauh itu mungkin tentang fisik dan jarak.’
Mungkin inilah ungkapan cinta saya untuk Magelang. Perlu diketahui kalau menyebut Magelang itu diartikan Magelang Kota dan Magelang Kabupaten. Yang membedakan adalah sempit dan luasnya masing-masing wilayahnya. Mungkin inilah bahasa cinta saya untukmu, Magelang.
Hari ini saya tergelitik atas tulisan Bayu Kharisma Putra yang ber-title 3 Hal yang Tak Bisa dilakukan di Magelang. Hai, mungkin Anda itu stimulus saya untuk menuliskan ini.
Waktu memang mengubah fisik dan perilaku. Pembangunan Pariwisata Magelang sedang melentik bahkan rencana diadakannya jalan tol dan kelak akan dihidupkan jalur kereta api semakin mendekat. Tentu euforia kereta api serasa jalur antar kota di pulau Jawa terdengar di telinga saya cukup menyenangkan. Walaupun dalam benak saya akan ada kotak-kotak panjang dan manusia berjejal dan berbagai kemungkinan lain. Dalam hati saya, itu biasa saya alami dulu saat jadi commuter sekitar daerah Jakarta dulu. Bolehlah itu, karena terjadwal dalam sehari dan bisa dipastikan adanya. Karena rasanya itu sengsara saat mau bepergian ke daerah tertentu terkendala transportasi yang umumnya ada di sini seperti angkut kota, angkutan daerah, bus besar, engkel tapi lebih sering itu tak bisa dipastikan kedatangan mereka. Apa mereka pikir warga tak membutuhkan mereka. Atau mereka pikir itu seluruh warga itu memakai kendaraan pribadi sendiri? Atau mereka pikir itu warga mampu membayar ojek on-line? Mungkin dari data lapangan, semua rumah memiliki kendaraan, tapi secara realita, apa semua warga memakai itu? Mungkin inilah sisi tidak nyamannya kalau berbicara mengenai jasa transportasi. Rasa-rasanya itu jengah, tidak damai dan sebal saat ditanya, ‘Kok tidak memakai motor?’ Memang, saya biasa saja, dan saya tahu justru itu keramahan warga tetangga sesama warga se-kecamatan tapi kalau dipikir-pikir, ‘Apa jalan santai itu tidak lazim’ ‘Apa sedang menghilangkan stres dengan berjalan tidak salah kan’ atau perlu dijawab ‘Hallo, saya gak bisa naik motor.’ Tenang, tenang. Sabar, sabar. Kutendang kerikil sebesar bola bekel besar. Goll.
Hal lain lagi yang membuat terenyuh, sebagai warga yang sejak kecil tinggal di Magelang, ada suatu perasaan terenyuh dan suatu perasaan tersingkir. Saat kecil dulu, saya tidak terlalu mengubris di kanan kiri jalan raya pembelah daerah itu hanyalah sawah-sawah, kebun dan satu dua rumah menyendiri, warung-warung kecil dan perumahan kampung yang lumayan padat. Tapi saat ini, perumahan desa memang masih ada, dan toko-toko, ruko, tempat usaha pun bermunculan namun bermunculan juga tempat-tempat usaha milik asing dari negara yang nun jauh di sana. Sedihnya, mereka melepas tanah strategis mereka itu hanya untuk mengejar kemewahan hidup agar seperti orang-orang lain yang memiliki kebanggaan memiliki rumah bagus, kendaraan, mem-permak interior agar seperti keluarganya yang sukses atau pun tak kalah dengan tetangganya yang lain. Itu memang samasekali tidak salah, itu hak mereka, tapi apa mereka tidak berpikir anak-cucu mereka itu kelak akan punya apa? Atau pekerja-pekerja pertanian yang biasa menggarap tanah mereka akan mereka kemanakan? Seandainya pekerja diberi sedikit jatah, apa dalam tempo beberapa bulan itu sudah ludes. Lalu warga lokal akan jadi buruh harian lepas? Apa kelak anak-cucu-cicit mereka hanya mendengar cerita ‘iku lho dulu lemah e mbahmu (ini dulu tanah milik moyangmu). Apa hati mereka tidak berdarah-darah? Saya sebagai commuter yang biasa lewat saja, merasa sedih. Bener.
Ada kejadian nyata, ini saya alami saat Lebaran kemarin. Saudara saya yang sudah belasan tahun tinggal di kota lain berkomentar, ‘Wong-e ki do kerjo opo, kendaraanne kok apik-apik (orangnya itu pada kerja apa, kendaraan yang mereka miliki itu kok bagus-bagus).’ Hati saya seketika langsung beberapa detik nge-blank. Saya pun gak tahu kenapa saya seperti jadi seperti itu. Memang terpapar di mata saya kendaraan keluaran baru, bukan kendaaraan murah, dan saya mengira kalau saya bekerja selama 30 tahun pun belum tentu terkumpul. Saat itu dulu saya, lewat di sekitar kota daerah kabupaten. Saya paham betul saudara saya itu sampai memiliki apa-apa itu karena kerja full. Dia memiliki kerja tetap, tapi di luar jam kerja seringnya dapat kerja borongan mengerjakan sesuatu keahlian dia. Dan kerja sampingannya ini, lebih besar hasilnya. Terkadang dia tinggal di rumah hanya beberapa jam saja. Memang pekerja keras, banting tulang. Tapi di sisi lain, saya justru sayup-sayup serasa merasakan hembusan sepoi-sepoi angin yang menerpa jiwa saya.
Sebenarnya saat ini hampir setiap daerah itu berubah. Menjadi asing mungkin itu soal rasa. Menjadi jauh itu mungkin tentang fisik dan jarak. Tapi soal harapan, rasa itu tetap sama. Tetaplah membumi Magelang apapun jadinya kelak, tetap sertakan wargamu, jangan kau pinggirkan wargamu, teruslah berusaha adil dan bijak. Karena bagaimanapun semua warga tetap ada di barisanmu.
