Kesalahan Bukan Pada ‘Perangkat
Lunaknya’
| Haruskah ku mati...? (Sumber gambar : Google) |
Yang saya tuliskan kali ini
memang hanya terjadi jika keadaan insidental (memang jika keadaan menuntut) dia
berperilaku demikian. Jadi bukanlah
segala hal yang berbau pada umumnya dan luas.
Memang perbuatan yang mungkin
menyinggung orang lain dan membuat tidak nyaman orang lain itu secara kasat
mata biasanya orang akan mengatakan ‘sudah menjadi kebiasaan’ seseorang. Bahkan
mungkin kepribadian orang itulah pendukung utamanya. Maka orang mengenal
kepribadian dia itu buruk(jahat), sedangkan kepribadian si C itu baik. Namun
ada kalanya tuntutan pelampiasan untuk melepaskan emosi seseorang akhirnya
membuat seseorang menjadi ‘orang jahat’. Dan penggambaran ini ada di banyak
cerita dan tokoh di film-film. Karena himpitan masalah dan problem kehidupan
itu terkadang memang seperti tamu yang tak diharapkan kehadirannya padahal
mungkin si tuan rumah itu ingin mendinginkan dirinya.
Saya pun tertarik dengan salah
satu tokoh pendukung di salah satu novel karya Tasaro GK, tokohnya itu seorang perempuan Timur Tengah yang tinggal
di Amerika Serikat yang digambarkan begitu manis, penuh kasih sayang, penuh
keihlasan dan banyak sifat baik lainnya yang begitu jelas. Penulisnya pun
menambahkan si tokoh ini dibesarkan di
lingkungan yang penuh cinta dan serba memiliki. Saya pun sependapat dengan
Anda,Tasaro, benar-benar sependapat dan sangat menyetujui pendapat Anda. Karena
biasanya inilah yang terjadi. Karena ‘segila-gilannya’ orang yang dibesarkan di
lingkungan yang baik seperti itu tidak akan seganas orang yang dibesarkan di
keluarga yang carut marut.
Karena Saya pun mengalami
menghadapi individu yang memang ‘sulit’ karena lingkungan hidupnya pun ‘tidak
kondusif’ dan terlebih-lebih memang ‘masa’ dia pun sedang tidak datar. Sempurna
sekali bukan? Terkadang membuat terperangah dan berpikir ternyata ada manusia
seperti itu. Mereka biasanya tak pernah merasa salah (mungkin karena terbiasa
dengan bergelimang kesalahan), selalu minta lebih (mungkin lebih tepatnya ke
arah rakus), tidak menghargai orang (padahal semua orang harus dihargai bukan),
berpikir bahwa dia atau kehidupan mereka itu buruk sekali dan tidak beruntung
sehingga dia menuntut pihak-pihak lain untuk mengasihani dia (inilah mentalitas
peminta-minta), dan ini diperparah dengan pola pikir bahwa menjadi maju itu
dengan mengkonsumsi produk-produk fisik yang ada bukannya mengubah pola pikir.
Dan masalah ‘lokalitas’ yang saya hadapi
ini mungkin juga dialami untuk daerah yang lebih luas, mungkin. Ini memang
keprihatinan.