Selasa, 04 Juli 2017

Kesalahan Bukan Pada 'Perangkat Lunaknya'



Kesalahan Bukan Pada ‘Perangkat Lunaknya’


Haruskah ku mati...? (Sumber gambar : Google)

Yang saya tuliskan kali ini memang hanya terjadi jika keadaan insidental (memang jika keadaan menuntut) dia berperilaku demikian.  Jadi bukanlah segala hal yang berbau pada umumnya dan luas.


Memang perbuatan yang mungkin menyinggung orang lain dan membuat tidak nyaman orang lain itu secara kasat mata biasanya orang akan mengatakan ‘sudah menjadi kebiasaan’ seseorang. Bahkan mungkin kepribadian orang itulah pendukung utamanya. Maka orang mengenal kepribadian dia itu buruk(jahat), sedangkan kepribadian si C itu baik. Namun ada kalanya tuntutan pelampiasan untuk melepaskan emosi seseorang akhirnya membuat seseorang menjadi ‘orang jahat’. Dan penggambaran ini ada di banyak cerita dan tokoh di film-film. Karena himpitan masalah dan problem kehidupan itu terkadang memang seperti tamu yang tak diharapkan kehadirannya padahal mungkin si tuan rumah itu ingin mendinginkan dirinya. 


Saya pun tertarik dengan salah satu tokoh pendukung di salah satu novel karya Tasaro GK,  tokohnya itu seorang perempuan Timur Tengah yang tinggal di Amerika Serikat yang digambarkan begitu manis, penuh kasih sayang, penuh keihlasan dan banyak sifat baik lainnya yang begitu jelas. Penulisnya pun menambahkan si tokoh ini dibesarkan di lingkungan yang penuh cinta dan serba memiliki. Saya pun sependapat dengan Anda,Tasaro, benar-benar sependapat dan sangat menyetujui pendapat Anda. Karena biasanya inilah yang terjadi. Karena ‘segila-gilannya’ orang yang dibesarkan di lingkungan yang baik seperti itu tidak akan seganas orang yang dibesarkan di keluarga yang carut marut. 


Karena Saya pun mengalami menghadapi individu yang memang ‘sulit’ karena lingkungan hidupnya pun ‘tidak kondusif’ dan terlebih-lebih memang ‘masa’ dia pun sedang tidak datar. Sempurna sekali bukan? Terkadang membuat terperangah dan berpikir ternyata ada manusia seperti itu. Mereka biasanya tak pernah merasa salah (mungkin karena terbiasa dengan bergelimang kesalahan), selalu minta lebih (mungkin lebih tepatnya ke arah rakus), tidak menghargai orang (padahal semua orang harus dihargai bukan), berpikir bahwa dia atau kehidupan mereka itu buruk sekali dan tidak beruntung sehingga dia menuntut pihak-pihak lain untuk mengasihani dia (inilah mentalitas peminta-minta), dan ini diperparah dengan pola pikir bahwa menjadi maju itu dengan mengkonsumsi produk-produk fisik yang ada bukannya mengubah pola pikir. Dan masalah ‘lokalitas’  yang saya hadapi ini mungkin juga dialami untuk daerah yang lebih luas, mungkin. Ini memang keprihatinan.