Romantisme “Tanyalah
pada rumput yang bergoyang.”
Senangnya berandai-andai,
senangnya sesaat lari dari kehidupan. Dan damainya hidup saat hanya ada
segelintir sumber berita penyerta dan angin pembawa berita, terkadang
bergerombol membaca secuil berita entah benar atau salah tapi tidak sadis, di
saat istirahat sore radio sesekali membawa berita segar yang lebih pop,
terkadang menerima kabar dari mr postman
yang selalu itu-itu saja mas –nya dengan
harapan setiap membuka pintu, televisi saluran tertentu yang selalu
ditunggu-tunggu. Memang benar dikatakan,dimana kebenaran yang sebenar-benarnya
memang hanya milik Tuhan, kata presenter terkenal itu, di masa masih damai
sekalipun, sama.
Menengok ke belakang memang
selalu menarik, itulah mengapa terkadang saat merasa capai dengan semuanya, menepilah.
Saya, kamu, kalian, kita membutuhkan kedamaian di saat keadaan begitu
menjemukan. Itulah gunanya saya membuatkan tulisan ini, untuk kalian semua, teman-teman.
Mungkin saat, ini saatnya kita berbagi. Saya sejujurnya merasa, terkadang ada
suatu perasaan tak butuh suatu wadah keeksisan yang diekspos ke semua orang. Hal
itu mungkin menyenangkan dan ..mungkin melegakan, karena lewat media ini banyak
yang dipertemukan namun sayangnya ada juga yang dipisahkan. Bahkan efek yang
tak terpikirpun bisa lebih besar lagi dari yang bisa kita pikirkan. Komunikasi memang
jadi lebih mudah, tapi ‘komunikasi’ yang terkadang arahnya untuk banyak orang
ke arah semu. Karena hanya sekedar tahu nama. Tidak mengenal sejatinya
(aslinya) seseorang. Beda dengan persahabatan ‘nyata’ di masa lalu. Terkadang ini
lebih menjemukan, bahkan lebih jengah dari menunggu sahabat yang terlambat
sejam dari suatu janjian. Dan lebih-lebih tingkah mereka yang terkadang tak
masuk akal. Seperti ratu/raja drama, saja. Terkadang pun bergidik sendiri,
betapa licik dan penuh intrik hidup si empunya seperti di cerita-cerita panjang drama, yang gelap,
gemerlap, tawa, intrik bahkan berair mata. Betapa sulitnya menyandang beban
sebagai manusia kini.
Tapi sesadarnya, ada sejumput
protes, damai itu memang hak asazi manusia. Di zaman yang semakin berwarna ini,
itulah mengapa manusia harus jujur pada dirinya dan kebutuhan dirinya. Tanyakan
semuanya, perlukah semua hal dari semua itu ditelan bulat-bulat atau perlu
menyiangi apa yang bisa ditelan. Semuanya secara nyata memang kembali ke
dirinya masing-masing. Seperti halnya saat makan : mungkin ada yang cukup nasi
rumahan sudah cukup, makan sambil ngopi di warung kopi sudah cukup
menyenangkan, makan dengan menari-nari tra la la baru itu yang disebut makan,
bahkan mungkin makan lintas negara baru itu namanya makan. Jadi caraku, caramu,
cara kalian memang itulah yang memuaskan masing-masing.
Tapi bagaimanapun kadar apapun
tingkat kenyamanan kita, biarlah kita masih minum udara damainya rasa
persaudaraan, rasa bahwa kita satu, perasaan sebagai simpul melebur walaupun
kita tak pernah sama tapi ada rasa penghargaan sebagai manusia seutuhnya yang
tak terhitung isi kepalanya, dan beribu berjuta kepentingan yang berbeda
biarlah rasa sebagai satu itu masih ada yang satu butuhkan yang lain, walaupun
terkadang saling hujat kita masih memiliki banyak kesamaan yang bisa saling
bimbing satu sama lain. Lihatlah persamaan itu dengan jeli dan satukan rasa,
hargailah manusia lain. Saling.
Betapa romantisnya kata-kata itu “tanyalah pada rumput yang
bergoyang.” Kubertanya padamu, hai rumput. Saya tahu.